Indonesiandaily.com – Kuliah tidak menjadi penghalang bagi M. Bisma Choirul Muttaqin untuk membangun bisnis. Mahasiswa semester delapan Program Studi Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Islam Malang (Unisma) ini justru berhasil mengembangkan usaha ekspor produk fashion dengan omzet mencapai puluhan juta rupiah setiap bulan.
Bisma mengaku perjalanan bisnisnya tidak lepas dari bekal ilmu yang diperoleh selama kuliah di FIA Unisma Malang. Mata kuliah seperti Kewirausahaan, Manajemen Bisnis, Manajemen Risiko, Digital Marketing, hingga Akuntansi Perusahaan menjadi fondasi penting dalam mengembangkan usahanya.
“Ilmu yang saya dapat di kelas membuat saya lebih percaya diri membangun bisnis secara profesional. Bukan sekadar berjualan,” ujarnya.
Berawal dari Jualan Online Saat Pandemi
Ketertarikan Bisma pada dunia usaha sebenarnya tumbuh sejak masih duduk di bangku SMK. Saat pandemi Covid-19, ia mencoba berjualan berbagai produk secara daring, mulai dari skincare hingga masker yang saat itu banyak dibutuhkan masyarakat.
Aktivitas bisnis tersebut sempat terhenti ketika memasuki semester pertama kuliah karena harus fokus mengikuti orientasi mahasiswa. Namun, memasuki semester kedua, semangat berwirausaha kembali tumbuh setelah mendapatkan pembelajaran tentang kewirausahaan dan pemasaran digital.
Tak hanya memperoleh teori di ruang kuliah, Bisma juga aktif mengikuti komunitas kewirausahaan yang difasilitasi Lembaga Pengembangan Kewirausahaan dan Inkubator Bisnis (LPKIB) Unisma Malang. Melalui wadah tersebut, ia banyak berdiskusi dengan mahasiswa dan dosen yang memiliki minat serupa di bidang bisnis.
Motivasinya semakin meningkat ketika Unisma Malang memberikan kesempatan kepada mahasiswa. Khususnya mempresentasikan ide bisnis di hadapan investor mancanegara melalui kegiatan CEO Talks.
Riset Pasar Amerika hingga Tembus Ekspor ke Spanyol
Berbekal pengetahuan tersebut, Bisma mulai melakukan riset pasar internasional. Ia mempelajari tren produk fashion di berbagai marketplace Amerika Serikat seperti Amazon, Walmart, dan eBay.
Dari hasil risetnya, ia menemukan sebuah jaket yang dijual hingga sekitar 150 dolar AS, padahal produk serupa di marketplace Indonesia hanya bernilai sekitar Rp250 ribu. Temuan itu membuatnya yakin pasar luar negeri menawarkan peluang keuntungan yang jauh lebih besar.
Ia kemudian mempelajari mekanisme ekspor, mulai dari pengiriman internasional hingga strategi pemasaran digital. Masukan dari para dosen FIA Unisma Malang turut membantunya menyusun strategi bisnis.
Dengan modal awal sekitar Rp5 juta, Bisma akhirnya memperoleh pesanan ekspor pertamanya ke Spanyol pada bulan ketiga menjalankan usaha. Sejak saat itu, bisnis fashion ekspornya terus berkembang dan menjangkau berbagai negara.
Omzet Capai Rp50 Juta, Laba Disiapkan untuk Umrah Orang Tu
Saat ini sekitar 80 persen konsumennya berasal dari Amerika Serikat. Diantaranya 15 persen dari Eropa, dan sisanya dari kawasan Asia.
Dalam kondisi normal, omzet usahanya berkisar Rp10 juta hingga Rp20 juta setiap bulan. Menjelang akhir tahun, penjualan biasanya meroket hingga mencapai Rp40 juta sampai Rp50 juta per bulan.
Sebagian besar keuntungan kembali diputar sebagai modal usaha untuk menambah stok barang dan meningkatkan anggaran promosi digital.
“Sisanya saya kumpulkan untuk biaya memberangkatkan umrah kedua orang tua,” tutur Bisma.
Ia mengatakan, tujuan terbesar membangun bisnis bukan semata mengejar keuntungan. Melainkan membahagiakan kedua orang tuanya melalui hasil kerja keras yang diraih sejak masih berstatus mahasiswa.
Tantangan Geopolitik hingga Kebijakan Pajak Impor
Meski terus berkembang, perjalanan bisnis Bisma tidak selalu berjalan mulus. Dalam beberapa bulan terakhir, aktivitas usahanya sempat melambat karena ia harus menyelesaikan skripsi dan mengikuti yudisium.
Di sisi lain, kondisi geopolitik global turut memengaruhi penjualan. Ketegangan internasional membuat biaya pengiriman meningkat seiring naiknya nilai tukar dolar AS. Biaya iklan digital juga ikut melonjak sehingga margin keuntungan semakin tertekan.
Tantangan semakin berat ketika kebijakan kenaikan tarif impor Amerika Serikat mulai berdampak pada pasar ekspor. Sejumlah pelanggan membatalkan pesanan karena terbebani biaya tambahan.
Akibat pembatalan tersebut, produk yang dikembalikan ke Indonesia kembali dikenai pungutan sebagai barang impor. Kondisi itu membuat Bisma harus menanggung kerugian hingga puluhan juta rupiah.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Bisma tetap optimistis mengembangkan usahanya. Baginya, pengalaman berbisnis. Sekaligus menempuh pendidikan di FIA Unisma Malang telah membentuk mental pantang menyerah, kemampuan membaca peluang pasar, serta keberanian bersaing di pasar global.
