Indonesiandaily.com – Belajar bahasa Inggris bagi siswa SD tidak selalu harus berlangsung di balik meja dan buku pelajaran. Di SD Ketawanggede, Kota Malang, sejumlah mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) mencoba menghadirkan pengalaman berbeda melalui program SpeakOut.
Program yang digagas Forum Mahasiswa Program Studi Bahasa Inggris Universitas Brawijaya (FORMASI UB) tersebut berlangsung selama lima hari, 27–31 Juli 2026. Sasaran kegiatan adalah siswa kelas IV, V, dan VI.
Sejak pagi, suasana pembelajaran sudah dibangun dengan cara sederhana. Para sukarelawan menyambut kedatangan siswa menggunakan sapaan berbahasa Inggris.
Ungkapan seperti “Good Morning!” hingga “You look amazing today!” menjadi bagian dari interaksi sebelum pelajaran dimulai.
Cara tersebut menjadi pintu masuk bagi siswa untuk terbiasa mendengar sekaligus menggunakan bahasa Inggris dalam situasi sehari-hari.
Di ruang kelas, metode pembelajaran kemudian dibuat lebih interaktif. Siswa tidak hanya menerima materi, tetapi diajak berkomunikasi dan terlibat langsung dalam berbagai aktivitas.
Interaksi juga tidak berhenti ketika pelajaran selesai. Para sukarelawan memanfaatkan waktu di luar kelas untuk berkomunikasi dan bermain bersama siswa.
Ketua Tim SpeakOut, Salsabila Athiyah Wibowo, mengatakan pendekatan tersebut sengaja dilakukan agar bahasa Inggris tidak terasa sebagai pelajaran yang kaku.
“Program ini melampaui sekadar mengajar. Kegiatannya lebih berfokus pada bagaimana kita mengomunikasikan gagasan dan menyelesaikan masalah secara konstruktif,” kata Salsabila.
Menurutnya, proses tersebut juga menjadi pembelajaran bagi penyelenggara. Komunikasi harus dibangun bukan hanya dengan siswa, tetapi juga antarpanitia, sukarelawan, dan pihak sekolah.
Dari sisi sekolah, kehadiran program SpeakOut mendapat respons positif. Suciani, S.Pd., guru bahasa Inggris SD Ketawanggede, menyebut program tersebut memberikan pengalaman baru bagi anak-anak.
“Saya mengajar bahasa Inggris di sini untuk kelas satu hingga enam. Program ini membuat saya merasa sangat beruntung karena anak-anak dapat merasakan suasana belajar yang segar dan menyenangkan,” ujarnya.
Bagi siswa, perjumpaan dengan mahasiswa UB memberi kesempatan untuk menggunakan bahasa Inggris dalam suasana yang lebih santai. Sementara bagi mahasiswa, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk menguji kemampuan mengajar sekaligus membangun komunikasi dengan anak-anak.
SpeakOut 2026 pun tidak hanya meninggalkan pengalaman belajar bagi siswa. Program tersebut juga menjadi pengalaman kolaboratif bagi panitia dan sukarelawan yang terlibat sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan.
Hubungan yang terbangun selama kegiatan menjadi bagian penting dari program. Bagi FORMASI UB, keberhasilan SpeakOut bukan semata diukur dari materi yang tersampaikan, tetapi juga dari terciptanya ruang belajar yang membuat siswa lebih nyaman untuk mencoba berbicara.
Dari sapaan sederhana di pagi hari hingga permainan saat istirahat, bahasa Inggris perlahan ditempatkan sebagai bagian dari interaksi, bukan sekadar materi di dalam buku.



