Alumni FK UB Lolos Harvard dan Raih Beasiswa LPDP, Siapkan Riset Penyakit Jantung untuk Indonesia

Alumni FK UB Lolos Harvard dan Raih Beasiswa LPDP, Siapkan Riset Penyakit Jantung untuk Indonesia

Indonesiandaily.com – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan alumni Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB). Imke Maria Del Rosario Puling. Ia berhasil diterima di Harvard University untuk menempuh program Master of Medical Science in Clinical Investigation jalur Translational Track. Tak hanya itu, ia juga sukses meraih beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa konsistensi membangun rekam jejak akademik dan penelitian, sejak menjadi mahasiswa mampu membuka jalan menuju salah satu universitas terbaik di dunia.

Siapkan Diri Menjadi Dokter Sekaligus Peneliti

Program yang dipilih Imke berfokus pada penelitian kedokteran, khususnya translational research. Yaitu riset yang menjembatani temuan laboratorium dengan penerapan di layanan kesehatan.

Melalui pendidikan tersebut, Imke menargetkan menjadi physician-scientist, yakni dokter yang tidak hanya melayani pasien. Namun juga menghasilkan penelitian yang mampu meningkatkan kualitas layanan medis.

“Goal akhirnya dari S2 ini adalah menjadi physician-scientist. Jadi saya tetap jadi dokter, tetap jadi klinisi. Tapi di sisi lain juga jadi seorang researcher, sehingga bisa melihat permasalahan dari dua perspektif,” ujarnya.

Berawal dari Rasa Ingin Tahu terhadap Dunia Riset

Minat Imke pada penelitian tumbuh sejak awal menempuh pendidikan di FK UB. Berbagai kesempatan dimanfaatkannya untuk memperkaya pengalaman, mulai dari kompetisi ilmiah, penyusunan systematic review dan meta-analysis. Juga penelitian laboratorium, penelitian kohort, hingga kolaborasi riset bersama para dosen.

Pengalaman itu membuatnya semakin yakin bahwa penelitian merupakan bidang yang ingin ditekuni secara serius.

“Awalnya saya coba-coba ikut penelitian. Ternyata saya suka research. Saya suka melihat kedokteran bukan hanya dari aspek klinis, tetapi juga bagaimana memberikan kontribusi bagi dunia medis melalui penelitian,” katanya.

Tak berhenti di sana, Imke juga aktif mengikuti publikasi ilmiah, organisasi, pelatihan, hingga program pertukaran penelitian di Kagoshima University, Jepang. Kesempatan tersebut menjadi bekal penting dalam membangun portofolio hingga akhirnya diterima di Harvard University.

“Saya benar-benar mengambil semua opportunity yang ada. Mulai dari lomba, publikasi, penelitian dosen, online courses, training, sampai exchange penelitian di Kagoshima University. Itu membuka pandangan saya dan menambah pengalaman untuk bisa diterima di Harvard,” ungkapnya.

Fokus Kembangkan Riset Penyakit Jantung

Bagi Imke, keberhasilan meraih beasiswa luar negeri tidak hanya ditentukan nilai akademik, tetapi juga oleh visi yang jelas mengenai kontribusi yang ingin diberikan kepada Indonesia.

Karena itu, ia memilih mendalami penelitian penyakit jantung bawaan dan kardiovaskular. Bidang tersebut yang dinilainya masih memiliki ruang pengembangan riset yang sangat besar di Indonesia.

“Kita harus tahu isu apa yang terjadi di negeri kita dan punya visi yang jelas untuk mengatasinya. Ketika seseorang memberikan kesempatan belajar atau beasiswa, mereka tentu ingin melihat kontribusi apa yang akan kita berikan kembali kepada Indonesia,” jelasnya.

Persiapan menuju Harvard pun tidak dilakukan dalam waktu singkat. Imke membutuhkan sekitar satu tahun untuk menentukan universitas tujuan, mempersiapkan tes kemampuan bahasa Inggris. Termasuk pula menyusun proposal penelitian, mengurus surat rekomendasi, hingga mengikuti wawancara.

Menurutnya, dukungan lingkungan akademik UB menjadi faktor penting dalam perjalanan tersebut. Ia mengaku memperoleh banyak kesempatan belajar, meneliti, dan memublikasikan karya ilmiah berkat bimbingan para dosen.

“Saya merasa kalau bukan kuliah di UB, mungkin tidak akan mendapatkan exposure sebanyak ini. Dosen-dosennya sangat terbuka kalau kita mau belajar, penelitian, atau publikasi. Mereka benar-benar mendukung mahasiswa untuk berkembang,” tuturnya.

Imke juga menyampaikan apresiasi kepada para dosen pembimbingnya, di antaranya Prof. Dr. dr. Loeki Enggar Fitri, M.Kes., Sp.ParK yang mengenalkannya pada penelitian laboratorium, dr. Valerinna Yogibuana Swastika Putri, Sp.JP(K), FIHA, FAPSC di bidang penyakit jantung bawaan, serta dr. Bayu Lestari, M.Biomed., PhD yang memberikan pendampingan selama proses pendaftaran studi lanjut.

Ingin Pulang dan Mengabdi untuk Indonesia

Usai menyelesaikan pendidikan di Harvard University, Imke berkomitmen kembali ke Indonesia. Ia bercita-cita berkiprah sebagai peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjadi dosen. Serta membangun kelompok riset penyakit jantung bawaan, sekaligus mengabdi sebagai dokter di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Ia pun mengajak mahasiswa Universitas Brawijaya agar tidak takut mencoba berbagai peluang yang tersedia.

“Tidak usah takut untuk mencoba hal baru. Sebenarnya mungkin saja selama kamu mau berjuang dan mencari resources yang tepat. Saya juga dulu tidak yakin diterima, tapi ternyata Tuhan memberi kesempatan itu,” pesannya.

Imke berharap semakin banyak mahasiswa Indonesia yang berani menembus kampus-kampus terbaik dunia. Serta kembali membawa ilmu serta inovasi untuk memajukan bangsa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *