Tiga Buku Mahasiswa Magister Pendidikan Matematika UNISMA Hadirkan Wajah Baru Pembelajaran

Tiga Buku Mahasiswa Magister Pendidikan Matematika UNISMA Hadirkan Wajah Baru Pembelajaran

Indonesiandaily.com — Pembelajaran matematika mulai meninggalkan kesan kaku yang hanya berkutat pada angka dan rumus. Mahasiswa Magister Pendidikan Matematika Universitas Islam Malang (UNISMA) menghadirkan pendekatan berbeda melalui tiga buku yang menggabungkan emosi, nilai keagamaan, hingga permainan.

Tiga karya tersebut dilaunching dalam Mathemathic Education Insight Forum (MEIF), Sabtu (5/9/2026). Kehadirannya menjadi gambaran kreativitas mahasiswa dalam menerjemahkan matematika ke dalam bentuk pembelajaran yang lebih dekat dengan pengalaman peserta didik.

Menurut Kaprodi Magister Pendidikan Matematika UNISMA Malang, Dr. Surya Sari Faradiba, MPd mengatakan, ketiga buku tersebut merupakan wujud kreativitas, inovasi, dan produktivitas akademik mahasiswa.

“Ketiga buku ini menjadi wujud nyata kreativitas, inovasi sekaligus produktivitas akademik mahasiswa,” kata Surya Faradiba.

Tiga Perspektif Baru tentang Matematika

Buku pertama berjudul “Emosi di Balik Angka”. Karya ini membawa pembaca melihat matematika dari sisi yang jarang menjadi perhatian, yakni pengalaman emosional ketika seseorang berhadapan dengan angka dan proses pembelajaran.

Matematika tidak hanya menyangkut kemampuan memperoleh jawaban benar. Faktor emosi juga dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar yang memengaruhi cara siswa memahami materi.

Perspektif berbeda ditawarkan buku kedua, “Rahasia Sukses Raih Medali Emas OMI atau KSM Matematika Seri Adil Jabar Terintegrasi Agama Islam”.

Karya Hidayatullah tersebut memadukan pembelajaran matematika dengan nilai-nilai keislaman. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pembelajaran matematika dapat berjalan beriringan dengan penguatan karakter dan nilai agama.

Sementara itu, buku ketiga berjudul “Petualangan Matematika Seru: Kumpulan Permainan untuk SMP”.

Buku ini menawarkan permainan sebagai bagian dari proses belajar matematika. Cara tersebut diharapkan dapat menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif sekaligus membantu siswa memahami konsep melalui aktivitas yang menyenangkan.

Buku tersebut merupakan karya kolaboratif Ila Maya, Gorniatur, Lina, Endang, Fitri, Eko, Fuad, Rizal, dan Fera.

Ketiga buku itu memiliki pendekatan berbeda, tetapi membawa pesan yang sama. Matematika dapat dipelajari melalui lebih banyak cara, tidak terbatas pada latihan soal dan hafalan rumus.

Dari Karya Akademik Menjadi Produk Pendidikan

Menurut Surya, lahirnya tiga buku tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas akademik mahasiswa dapat menghasilkan karya yang memiliki manfaat lebih luas.

Matematika dapat dikembangkan melalui perspektif humanis, integrasi agama, maupun permainan. Pendekatan itu sekaligus membuka ruang bagi mahasiswa untuk menghasilkan inovasi pembelajaran.

Kehadiran buku-buku tersebut juga memperlihatkan bahwa pembelajaran matematika dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan karakter peserta didik.

Dengan pendekatan yang lebih beragam, matematika diharapkan tidak lagi identik dengan pelajaran yang sulit dan menakutkan.

Produktivitas Mahasiswa Berlanjut Setelah Lulus

MEIF juga menjadi momentum untuk mengapresiasi mahasiswa dan alumni Magister Pendidikan Matematika UNISMA yang menunjukkan kiprah akademik maupun profesional.

Mohamad Soleh, mahasiswa angkatan 2021, menjadi salah satu yang mendapat apresiasi. Kemudian Ali Sharifuddin dari angkatan 2025 yang telah menyelesaikan studi pada 2026.

Ada pula Sofi Yatrul Ilmi dari angkatan 2022. Lina, mahasiswa angkatan 2022, kini berkiprah sebagai dosen di STKIP Modern Ngawi.

Sementara Maya dari angkatan 2024 saat ini bekerja di BPJS Kabupaten Malang.

Kiprah tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan magister tidak berhenti pada perolehan gelar. Kompetensi yang diperoleh selama studi dapat diterjemahkan menjadi karya dan kontribusi di dunia pendidikan maupun profesi.

Tiga buku yang diperkenalkan dalam MEIF akhirnya menjadi lebih dari sekadar produk akademik mahasiswa.

Ketiganya menawarkan cara baru memandang matematika. Ada angka yang perlu dihitung, emosi yang perlu dipahami, nilai yang perlu ditanamkan, serta permainan yang membuat proses belajar menjadi lebih menyenangkan.

Dari sana, wajah pembelajaran matematika pun berubah: lebih humanis, kontekstual, religius, dan menyenangkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *