UIN Malang Siapkan Maliki Pesantren Metrics, Instrumen Nasional untuk Ukur Kualitas Pesantren

UIN Malang Siapkan Maliki Pesantren Metrics, Instrumen Nasional untuk Ukur Kualitas Pesantren

Indonesiandaily.com – UIN Maulana Malik Ibrahim Malang terus memperkuat perannya sebagai pusat inovasi pengembangan pesantren. Salah satu langkah strategis yang kini disiapkan adalah peluncuran Maliki Pesantren Metrics. Yakni sebuah instrumen pengukuran yang dirancang untuk memetakan kualitas, kontribusi, dan daya saing pesantren secara komprehensif.

Persiapan peluncuran instrumen tersebut dibahas dalam Rapat Konsinyering Persiapan Launching Maliki Pesantren Metrics yang digelar di Aula Pertemuan Lantai 3 Gedung Ir. Soekarno, Jumat (17/7/2026). Forum ini mempertemukan para guru besar dan pakar kepesantrenan guna mematangkan konsep, indikator, dan mekanisme implementasi.

Program Prioritas Rektor UIN Malang

Rapat dibuka Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. H.M. Abdul Hamid, M.A. Ia menegaskan, Maliki Pesantren Metrics merupakan program prioritas Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Ilfi Nur Diana, M.Si.

Menurutnya, inisiatif tersebut menjadi kontribusi akademik UIN Malang dalam mendukung penguatan ekosistem pesantren. Hal ini sejalan dengan hadirnya Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama RI.

Prof Hamid menjelaskan, Maliki Pesantren Metrics tidak hanya berfungsi sebagai instrumen penilaian. Lebih dari itu, sistem ini dirancang sebagai kerangka strategis untuk mengukur kontribusi pesantren. Termasuk pula untuk memperkuat reputasi kelembagaan, sekaligus mendukung keberlanjutan pengembangannya.

“Agenda besar yang ingin kita capai adalah menjadikan Maliki Pesantren Metrics sebagai instrumen yang benar-benar bermanfaat bagi ekosistem pesantren Indonesia,” tegasnya.

Libatkan Akademisi hingga Kiai Pesantren

Diskusi menghadirkan berbagai masukan dari sejumlah guru besar, antara lain Prof. Wildana, Prof. Asrori, Prof. Sulalah, Prof. Abdul Basith, serta Ketua LPPM UIN Malang yang juga Ketua PCNU dan MUI Kota Malang, Dr. KH. Isroqunnajah.

Isroqunnajah menilai keberhasilan penyusunan instrumen sangat bergantung pada keterlibatan berbagai pemangku kepentingan. Ia mendorong agar penyusunannya melibatkan akademisi, Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI), Dewan Masyayikh Kementerian Agama, hingga para kiai dan bunyai dari berbagai daerah.

“Keterlibatan lintas sektor sangat penting agar Maliki Pesantren Metrics benar-benar dirasakan sebagai milik bersama oleh kalangan pesantren, bukan sekadar produk akademik,” ujarnya.

Ia juga mengusulkan agar sistem aplikasi dibuat sederhana, mudah dipahami, dan ramah pengguna. Selain itu, sistem klasterisasi pesantren harus disusun secara objektif agar mampu menggambarkan karakteristik, dan potensi setiap pesantren secara proporsional.

Fokus pada Instrumen yang Kuat dan Kredibel

Sementara itu, pakar metodologi pengukuran, Prof. Ali Ridho, mengingatkan pentingnya menentukan orientasi utama Maliki Pesantren Metrics sejak awal.

Menurutnya, tim penyusun perlu menetapkan apakah instrumen akan berfokus pada aspek rekognisi, kualitas, atau mengintegrasikan keduanya dalam satu sistem. Kejelasan arah tersebut akan menentukan penyusunan indikator dan metodologi penilaian.

Ia juga menyarankan implementasi tahap awal difokuskan pada aspek yang lebih spesifik agar menghasilkan instrumen yang valid, kuat, dan mudah diterapkan di berbagai tipe pesantren.

Melalui rapat konsinyering ini, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berharap Maliki Pesantren Metrics dapat menjadi model pengukuran pesantren berbasis data yang kredibel, adaptif, dan berkelanjutan.

Instrumen tersebut juga diproyeksikan menjadi referensi nasional dalam meningkatkan mutu, reputasi, serta daya saing pesantren Indonesia. Sekaligus memperkuat posisi UIN Malang sebagai pusat inovasi pengembangan kepesantrenan di tingkat nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *