Indonesiandaily.com – Perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) mendorong dunia pendidikan bahasa Arab untuk berbenah. Perguruan tinggi dinilai tidak cukup hanya mengadopsi perangkat digital, tetapi perlu mengubah paradigma pembelajaran.
Pesan tersebut disampaikan Prof. Dr. M. Abdul Hamid, MA, Guru Besar Bahasa Arab sekaligus Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Prof Hamid hadir sebagai pembicara dalam seminar yang digelar Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) UIN Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung, Senin (7/9/2026).
Seminar berlangsung di Aula Lantai 6 Gedung Saifuddin Zuhri dengan mengangkat tema “Transformasi Pembelajaran dan Penelitian Bahasa Arab di Era AI”.
Dosen dan mahasiswa PBA UIN SATU Tulungagung mengikuti kegiatan tersebut. Forum ini menjadi ruang akademik untuk membahas perubahan pendidikan bahasa Arab di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat.
Di hadapan peserta seminar, Prof Hamid menegaskan bahwa transformasi digital tidak boleh dipersempit sebagai pergantian perangkat pembelajaran.
“Transformasi digital jangan dimaknai hanya sebagai perubahan dari papan tulis biasa ke layar sentuh, atau dari kertas ke layar LCD. Itu baru perubahan media, belum tentu perubahan pembelajaran,” ujarnya.
Menurut Prof Hamid, perubahan yang lebih penting justru menyangkut cara dosen merancang pembelajaran dan mahasiswa membangun pengalaman belajar.
Teknologi, termasuk AI, harus ditempatkan sebagai instrumen untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Bukan sebagai tujuan akhir proses pembelajaran.
“Yang harus berubah bukan hanya alatnya, tetapi cara kita merancang pembelajaran, cara mahasiswa belajar, cara dosen mengajar, dan cara perguruan tinggi menghasilkan pengetahuan,” tegasnya.
Prof Hamid Dorong Pembelajaran Bahasa Arab Lebih Adaptif
Guru Besar Bahasa Arab UIN Malang tersebut melihat AI membuka peluang untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih personal.
Kemampuan teknologi dalam mengolah informasi dapat dimanfaatkan untuk menyesuaikan materi dengan tingkat kemampuan, kebutuhan, karakteristik, dan kecepatan belajar mahasiswa.
Dalam pembelajaran bahasa Arab, AI dapat digunakan untuk latihan interaktif, pemberian umpan balik secara cepat, simulasi komunikasi, serta pengembangan keterampilan membaca dan menulis.
AI juga dapat membantu menganalisis kesalahan berbahasa. Dosen kemudian dapat menggunakan hasil analisis tersebut untuk menyusun strategi pembelajaran yang lebih tepat.
Meski begitu, Prof Hamid mengingatkan bahwa perkembangan AI tidak berarti menghapus posisi dosen.
“AI bisa membantu proses pembelajaran, tetapi tidak dapat menggantikan dimensi pedagogis, keteladanan, nilai, dan sentuhan kemanusiaan seorang dosen,” jelasnya.
Karena itu, menurut dia, tantangan dosen bahasa Arab di era AI bukan sekadar menguasai teknologi.
Dosen harus mampu mendesain pengalaman belajar yang bermakna. Pemanfaatan AI juga harus dilakukan secara kritis dan tetap berlandaskan prinsip pedagogis.
Prof Hamid Dorong Riset Bahasa Arab Berbasis Data
Tidak hanya pembelajaran, Prof Hamid juga mendorong transformasi dalam penelitian bahasa Arab.
Menurutnya, AI membuka peluang bagi peneliti untuk mengembangkan penelitian berbasis data dalam skala yang lebih luas.
Penelitian bahasa Arab dapat memanfaatkan big data, corpus linguistics, analisis wacana berbasis komputasi, hingga Natural Language Processing (NLP).
Perkembangan tersebut memungkinkan peneliti membaca fenomena kebahasaan secara lebih luas, dinamis, dan sesuai perkembangan penggunaan bahasa di ruang digital.
“Peneliti bahasa Arab harus bergerak dari penelitian yang hanya bertumpu pada data terbatas menuju penelitian yang mampu membaca fenomena kebahasaan secara lebih luas, dinamis, dan berbasis data,” ujarnya.
Namun, Prof Hamid mengingatkan pemanfaatan AI dalam penelitian harus disertai literasi metodologis dan etika akademik.
AI dapat membantu mengolah data dan menemukan pola. Tetapi validitas data, ketepatan metodologi, orisinalitas gagasan, serta tanggung jawab ilmiah tetap berada pada peneliti.
Tradisi Keilmuan Bahasa Arab Harus Berdialog dengan Teknologi
Dalam seminar tersebut, Prof Hamid juga mengajak mahasiswa dan dosen PBA tidak bersikap defensif terhadap perkembangan teknologi.
Menurutnya, pendidikan bahasa Arab harus menjadi bagian dari perubahan. Tradisi keilmuan yang telah berkembang kuat perlu dipertemukan dengan inovasi teknologi.
“Bahasa Arab memiliki tradisi keilmuan yang sangat kuat. Tantangannya sekarang adalah bagaimana tradisi tersebut berdialog dengan teknologi, sehingga lahir inovasi tanpa kehilangan substansi keilmuan,” tuturnya.
Prof Hamid mendorong mahasiswa PBA tidak hanya menguasai empat keterampilan berbahasa Arab.
Mereka juga perlu memperkuat literasi digital dan AI. Kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, serta keterbukaan terhadap perkembangan keilmuan global juga menjadi bekal penting.
Sementara bagi dosen, era AI menjadi momentum untuk memperluas peran akademik.
Dosen tidak lagi cukup menjadi sumber informasi. Mereka perlu tampil sebagai perancang pembelajaran, fasilitator, mentor, kurator pengetahuan, sekaligus pengarah mahasiswa dalam menggunakan AI secara kritis dan bertanggung jawab.
Kehadiran Prof Hamid sebagai pembicara di UIN SATU Tulungagung sekaligus memperkuat ruang dialog akademik antarkampus dalam merespons perkembangan AI.
Bagi Prof Hamid, keberhasilan transformasi pendidikan bahasa Arab bukan ditentukan oleh kecanggihan teknologi yang digunakan.
Ukuran utamanya adalah sejauh mana teknologi mampu menciptakan pembelajaran yang cerdas, adaptif, inklusif, terbuka, dan tetap berorientasi pada pembentukan manusia.
Dengan demikian, AI tidak semestinya dipandang sebagai ancaman bagi pendidikan bahasa Arab. Teknologi justru dapat menjadi momentum untuk membawa pembelajaran dan penelitian bahasa Arab lebih inovatif, berbasis data, kolaboratif, dan relevan dengan kebutuhan zaman.



