Indonesiandaily.com – Bertambahnya usia bukan alasan untuk berhenti bergerak. Semangat itulah yang kembali dihidupkan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Brawijaya (FIKES UB) melalui program Sekolah Lansia Tangguh (SELANTANG) Lavender di RW XII, Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang.
Program tersebut menjadi ruang bagi para lansia untuk belajar menjaga kesehatan, membangun kemandirian, sekaligus mempertahankan produktivitas di tengah perubahan kondisi fisik akibat proses penuaan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif Doktor Mengabdi Universitas Brawijaya. Pelaksanaannya dipimpin Dr. Nurul Muslihah, S.P., M.Kes., bersama dosen bidang keperawatan dan pertanian UB serta mahasiswa MMD-DM.
Kolaborasi lintas bidang tersebut membuat kegiatan tidak hanya berorientasi pada kesehatan. Para lansia juga diajak memahami berbagai aspek yang mendukung kualitas hidup dan kemandirian mereka.
Dr. Nurul Muslihah mengatakan, meningkatnya angka harapan hidup perlu dibarengi dengan kemampuan lansia dalam mempertahankan kualitas hidup.
Menurutnya, masa lanjut usia semestinya tidak identik dengan ketergantungan maupun berhentinya aktivitas. Lansia tetap memiliki ruang untuk belajar, berinteraksi, berkarya, dan menjalani kehidupan secara mandiri.
“Kami ingin mengubah paradigma bahwa proses menua bukan berarti berhenti berkarya atau bergantung pada orang lain,” kata Nurul.
Melalui SELANTANG, peserta mendapatkan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Materinya mencakup pemeliharaan kesehatan, kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat, penguatan peran keluarga, hingga aktivitas yang mendorong lansia tetap aktif dan produktif.
Pembelajaran dikemas dengan metode partisipatif. Edukasi, diskusi, praktik, hingga berbagi pengalaman menjadi bagian dari kegiatan.
Pendekatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan. Para peserta juga didorong untuk lebih percaya diri, memperkuat hubungan sosial, serta menerapkan kebiasaan hidup sehat dalam keseharian.
Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung. Salah satunya dirasakan Henri Wijaya, peserta SELANTANG Lavender.
Ia menilai kegiatan tersebut memberikan pengalaman sekaligus memunculkan kembali motivasi untuk menjaga kesehatan meski usia tidak lagi muda.
“Kegiatan seperti ini tentunya bermanfaat karena di usia lanjut semua sudah berkurang. Dengan adanya kegiatan seperti ini, kembali muncul lagi semangat sehat dengan umur yang sudah tidak muda,” ujar Henri.
Di sisi lain, SELANTANG juga menjadi laboratorium pembelajaran bagi mahasiswa. Mereka berkesempatan menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah melalui edukasi, pendampingan, monitoring, dan evaluasi bersama dosen.
Keterlibatan mahasiswa tersebut sekaligus mempertemukan pembelajaran akademik dengan persoalan nyata di tengah masyarakat.
FIKES UB berharap SELANTANG Lavender tidak berhenti sebagai kegiatan pengabdian. Program ini ditargetkan berkembang menjadi model pemberdayaan lansia berbasis masyarakat yang dapat diterapkan di wilayah lain.
Dengan pendekatan tersebut, usia lanjut tidak sekadar menjadi fase kehidupan yang harus dijalani, tetapi menjadi masa yang tetap sehat, bermakna, mandiri, dan bahagia.



