KKN MAs di UMM Sulap Susu Rusak Jadi Yogurt dan Pupuk Bernilai Ekonomi

KKN MAs di UMM Sulap Susu Rusak Jadi Yogurt dan Pupuk Bernilai Ekonomi

Indonesiandaily.com – Mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) menghadirkan inovasi berbasis potensi lokal melalui program Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah ‘Aisyiyah (KKN MAs).

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi tuan rumah pertemuan mahasiswa yang mengikuti program pengabdian masyarakat berskala nasional tersebut.

Salah satu inovasi menarik lahir dari KKN MAs Kelompok 24 di Wonoagung. Mahasiswa mengembangkan potensi pertanian, perkebunan, dan peternakan sekaligus mencari solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat.

Ketua KKN MAs Kelompok 24, Oktafiyan Hilal Akmal, mengatakan pemetaan potensi menjadi langkah awal dalam menyusun program. Mahasiswa berupaya memastikan kegiatan yang dijalankan benar-benar sesuai kebutuhan warga.

“Jadi susu itu tidak hanya dalam bentuk susu saja, bisa dalam bentuk yogurt, sedangkan susu yang basi bisa dimanfaatkan sebagai pupuk untuk lahan pertanian mereka,” jelas Oktafiyan.

Susu Segar Diolah Menjadi Yogurt

Salah satu program yang dikembangkan mahasiswa adalah pengolahan susu segar menjadi yogurt. Warga didampingi mulai dari proses pemanasan hingga fermentasi.

Susu dipanaskan terlebih dahulu, kemudian didinginkan sampai mencapai suhu yang sesuai. Setelah itu, mahasiswa dan warga menambahkan bakteri baik atau starter yogurt.

Campuran tersebut kemudian difermentasi hingga mengental dan menghasilkan cita rasa khas yogurt. Inovasi ini membuka peluang diversifikasi produk sekaligus meningkatkan nilai tambah susu yang dihasilkan masyarakat.

Tak hanya susu segar, mahasiswa juga memanfaatkan susu yang sudah rusak. Susu tersebut diolah menjadi bahan pupuk dengan tambahan EM4 sebagai aktivator.

Susu dan EM4 dicampurkan secara merata. Selanjutnya, bahan difermentasi hingga dapat digunakan sebagai pupuk untuk lahan pertanian.

Inovasi ini sekaligus menjawab persoalan lingkungan akibat pembuangan susu rusak. Berdasarkan penuturan masyarakat kepada Oktafiyan, pernah terdapat sekitar 25.000 liter susu rusak yang dibuang ke sungai.

Dorong Pemasaran Keripik Gadung

Potensi lokal lainnya yang dikembangkan mahasiswa adalah ubi gadung. Komoditas tersebut banyak diproduksi masyarakat di Dusun Sempu Kidul dan Sempu Lor.

Keripik gadung menjadi salah satu sumber penghasilan warga. Namun, pemasaran produk masih menghadapi kendala karena sebagian besar produsennya merupakan orang tua yang belum terbiasa memanfaatkan teknologi digital.

Mahasiswa kemudian membantu memperkuat identitas dan promosi produk melalui media sederhana. Di antaranya poster, pamflet, kartu, hingga stiker yang dapat ditempel pada kemasan atau brand produk.

“Yang membuat itu para orang tua dan mereka sangat tertinggal dengan teknologi. Saya melalui poster atau pamflet, kartu, atau stiker yang nanti ditempel di brand,” ungkap Oktafiyan.

Menyentuh Pendidikan dan Kesehatan

KKN MAs Kelompok 24 tidak hanya berfokus pada pengembangan ekonomi. Mahasiswa juga menjalankan program pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat Wonoagung.

Di bidang pendidikan, mahasiswa terlibat dalam kegiatan mengajar di SD Negeri 1 Wonoagung. Mereka juga mendampingi kegiatan pembelajaran di TPQ wilayah Dusun Sepukul dan Toyomerto.

Sementara di bidang kesehatan, mahasiswa menggelar pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat. Kegiatan tersebut mencakup pemeriksaan gula darah bagi ibu-ibu dan lansia.

Mahasiswa juga melakukan pendataan kondisi anak yang berkaitan dengan persoalan stunting. Data tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat memahami kondisi kesehatan anak sekaligus menjadi dasar tindak lanjut.

Mahasiswa Didorong Hadirkan Solusi Berkelanjutan

Dosen Pembimbing Lapangan KKN MAs Kelompok 24, Sofa Amalia, S.Psi., M.Si., mengapresiasi kemampuan mahasiswa dalam memetakan potensi sekaligus persoalan masyarakat.

Menurutnya, kegiatan KKN MAs tidak semestinya berhenti pada pelaksanaan program. Mahasiswa perlu menghadirkan solusi yang dapat dilanjutkan dan dikembangkan masyarakat setelah program berakhir.

“KKN MAs menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar sekaligus berkolaborasi langsung dengan masyarakat. Harapannya, apa yang sudah dilakukan mahasiswa bisa dilanjutkan masyarakat dan memberikan dampak yang berkelanjutan,” pungkasnya.

Melalui pendekatan tersebut, KKN MAs di Wonoagung menunjukkan bahwa pengabdian mahasiswa dapat menjadi pintu masuk bagi penguatan ekonomi lokal, pelestarian lingkungan, pendidikan, dan kesehatan masyarakat secara bersamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *