Indonesiandaily.com – Pemandangan mahasiswa berfoto dengan buket bunga, balon, selempang ucapan selamat, hingga sesi dokumentasi profesional usai sidang skripsi kini menjadi hal yang lumrah di berbagai kampus. Bagi Generasi Z, kelulusan tidak hanya dirayakan di ruang sidang, tetapi juga di ruang digital melalui unggahan media sosial.
Fenomena ini mendapat perhatian Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga UIN Maulana Malik Ibrahim Malang,
Prof. Dr. H. M. Abdul Hamid, S.Ag., M.A. Menurutnya, perubahan cara merayakan kelulusan tidak bisa dinilai sekadar sebagai sikap berlebihan, melainkan perlu dipahami sebagai bagian dari transformasi budaya yang dipengaruhi perkembangan teknologi.
“Hari ini, kelulusan sering kali bukan berakhir ketika sidang selesai, tetapi ketika foto terakhir selesai diunggah ke media sosial,” tulis Prof Hamid dalam refleksinya tentang fenomena selebrasi pasca sidang skripsi.
Ia menjelaskan, sidang skripsi yang berlangsung sekitar satu jam kini sering diikuti rangkaian perayaan yang berlangsung berhari-hari di platform digital. Berbagai dokumentasi dan unggahan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengalaman kelulusan mahasiswa.
Ekspresi Syukur yang Berubah Sesuai Zaman
Wakil Rektor ini menilai, mahasiswa generasi sebelumnya juga merasakan kebahagiaan yang sama ketika dinyatakan lulus. Namun, bentuk ekspresinya berbeda.
Pada era 1980-an hingga awal 2000-an, perayaan kelulusan umumnya berlangsung sederhana. Tidak ada sesi pemotretan khusus, dekorasi tematik, maupun persiapan konten untuk media sosial sebagaimana yang lazim dilakukan saat ini.
“Apakah generasi sekarang lebih berlebihan? Ataukah sebenarnya mereka hanya mengekspresikan rasa syukur dengan cara yang berbeda sesuai zamannya?” ungkapnya.
Menurut Prof Hamid, pertanyaan tersebut seharusnya dijawab melalui pendekatan sosiologis, bukan dengan penilaian moral. Setiap generasi tumbuh dalam lingkungan sosial, budaya, dan teknologi yang berbeda sehingga menghasilkan cara berekspresi yang berbeda pula.
Kelulusan sebagai Simbol Identitas
Dalam perspektif sosiologi, Prof Hamid mengacu pada pemikiran sosiolog Erving Goffman yang melihat kehidupan sosial sebagai panggung tempat individu menampilkan identitasnya kepada publik.
Dalam konteks kelulusan, buket bunga, balon, selempang, toga, hingga dokumentasi profesional tidak hanya menjadi atribut perayaan. Semua itu berfungsi sebagai simbol yang menunjukkan bahwa sebuah perjuangan panjang telah berhasil dituntaskan.
“Yang sedang dipertontonkan bukan hanya keberhasilan akademik, tetapi juga identitas sebagai pribadi yang berhasil menaklukkan perjuangan panjang,” jelasnya.
Melalui media sosial, simbol-simbol tersebut kemudian dikomunikasikan kepada jejaring sosial yang lebih luas. Perayaan tidak lagi bersifat personal, tetapi juga menjadi bagian dari proses membangun citra diri di ruang publik digital.
Dari Budaya Pengalaman ke Budaya Representasi
Fenomena selebrasi kelulusan Gen Z semakin menarik jika dilihat dalam konteks masyarakat digital. Menurut Prof Hamid, para ilmuwan sosial kontemporer menyebut adanya pergeseran dari culture of experience menuju culture of representation.
Pada masa lalu, sebuah pengalaman dianggap selesai ketika seseorang benar-benar mengalaminya. Kini, pengalaman sering kali dianggap belum lengkap apabila belum didokumentasikan dan dibagikan kepada publik.
Ungkapan populer “no picture, it didn’t happen” menjadi gambaran perubahan tersebut. Dokumentasi tidak lagi sekadar berfungsi sebagai arsip kenangan, melainkan telah menjadi bagian dari pengalaman itu sendiri.
“Momen kelulusan seolah memperoleh legitimasi sosial setelah hadir di linimasa media sosial dan mendapatkan apresiasi berupa komentar maupun tanda suka,” katanya.
Pentingnya Menjaga Makna Pendidikan
Meski demikian, Prof Hamid mengingatkan bahwa di balik euforia digital, terdapat ruang refleksi yang perlu diperhatikan. Jangan sampai fokus pada dokumentasi membuat makna utama dari sebuah pencapaian menjadi terabaikan.
Ia menegaskan bahwa kelulusan bukanlah garis akhir perjalanan, melainkan pintu masuk menuju tantangan kehidupan yang lebih luas.
“Sidang skripsi, tesis, maupun disertasi bukanlah kemenangan yang berdiri sendiri, melainkan pengakuan bahwa seseorang telah memiliki bekal akademik untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ujarnya.
Maka menurutnya, keseimbangan antara selebrasi dan refleksi menjadi hal yang penting. Merayakan keberhasilan merupakan sesuatu yang wajar sebagai bentuk penghargaan atas kerja keras yang telah dilakukan. Namun, perayaan tidak boleh menggeser tujuan utama pendidikan, yakni membangun ilmu pengetahuan, karakter, integritas, dan tanggung jawab sosial.
Ilmu dan Integritas Lebih Bernilai dari Viralitas
Profesor Abdul Hamid menilai keberhasilan akademik tidak diukur dari seberapa besar buket bunga yang diterima atau seberapa ramai unggahan di media sosial. Nilai pendidikan justru tercermin dari bagaimana ilmu yang diperoleh mampu diterjemahkan menjadi solusi bagi masyarakat.
Ia juga melihat Generasi Z memiliki potensi besar karena kreatif, adaptif terhadap teknologi, cepat belajar, dan mampu membangun jejaring secara global.
“Media sosial dapat menjadi sarana menyebarkan inspirasi, membangun kolaborasi, dan memperluas manfaat, bukan sekadar ruang untuk mempertontonkan pencapaian,” tegasnya.
Pada akhirnya, setiap generasi memiliki cara masing-masing dalam merayakan keberhasilan. Perbedaan ekspresi tidak perlu dipertentangkan. Namun yang lebih penting adalah memastikan bahwa di balik setiap unggahan dan perayaan, tetap tumbuh kesadaran akan makna pendidikan yang sesungguhnya.
Sebab, bunga akan layu, balon akan mengempis, dan unggahan media sosial lambat laun tenggelam oleh konten baru. Namun ilmu pengetahuan, integritas akademik, serta kontribusi nyata kepada masyarakat akan terus hidup jauh setelah euforia kelulusan berakhir. Itulah perayaan sejati yang nilainya tidak lekang oleh waktu.
