Mahasiswa Difabel UB Raih Anugerah Wirausaha Seni Berdampak di Pilmapres Nasional 2026

Mahasiswa Difabel UB Raih Anugerah Wirausaha Seni Berdampak di Pilmapres Nasional 2026

Indonesiandaily.com – Keterbatasan bukan penghalang bagi Athaya Putri Nirwasita untuk terus berkarya. Mahasiswa difabel Program Studi Administrasi Bisnis, Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya (UB) itu sukses meraih Anugerah Kategori Khusus Wirausaha Seni Berdampak pada Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Nasional 2026 kategori Mahasiswa Disabilitas.

Penghargaan tersebut diumumkan dalam rangkaian Pilmapres Nasional 2026 yang digelar Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi di Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Tangerang, Banten, pada 4–8 Agustus 2026.

Athaya membawa inovasi kewirausahaan berbasis seni bernama Athaya Arts. Melalui inovasi tersebut, ia mengembangkan konsep wearable art dengan menjadikan lukisan orisinalnya sebagai motif berbagai produk fesyen dan kriya.

Produk yang dikembangkan meliputi sepatu, tas, topi, hijab, outer, anting, hingga gantungan kunci. Karya tersebut tidak hanya bernilai artistik, tetapi juga membawa pesan tentang pemberdayaan penyandang disabilitas.

Athaya merupakan penyandang disabilitas Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Sejak kecil, ia mengalami hambatan dalam motorik halus, motorik kasar, serta kemampuan komunikasi.

Namun, kondisi tersebut tidak membuat Athaya berhenti berkarya. Justru dari proses mengenali dirinya, ia menemukan cara berbeda untuk mengekspresikan gagasan melalui seni.

Melukis Tanpa Kuas

Berbeda dari pelukis pada umumnya, Athaya tidak mengandalkan kuas ketika melukis. Ia menggunakan berbagai benda sederhana yang mudah ditemukan di sekitar rumah.

Mulai dari pembersih kaca, sisir, sikat cuci piring, spons, garpu, hingga sendok digunakan untuk menghasilkan tekstur dan pola pada kanvas.

Salah satu karya awal Athaya berjudul My Family bahkan dibuat menggunakan alat pembersih kaca.

Ibunda Athaya, Isha Maisa, mengatakan penggunaan alat-alat sederhana tersebut membuat putrinya lebih nyaman dalam mengekspresikan diri.

“Awalnya waktu kecil untuk melatih motorik halusnya dulu pakai kuas, tetapi Athaya kesulitan. Setelah tidak sengaja dikenalkan alat-alat dapur seperti sisir, garpu, dan pembersih kaca, tangannya justru lebih nyaman dan lebih mudah mengekspresikan apa yang ada di pikirannya,” ujarnya.

Perjalanan Athaya mengembangkan kewirausahaan berbasis seni juga telah mengantarkannya meraih sejumlah prestasi. Ia pernah menjadi Juara 1 Nasional Kompetisi Kewirausahaan Menembus Batas yang digelar Kementerian Koperasi bersama J&T Express.

Athaya juga berhasil masuk 15 besar program Kinetic Australia-Indonesia serta menerima penghargaan Women of the Year Malang Raya 2023 dari Times Indonesia.

Berkarya Sekaligus Memberdayakan

Athaya Arts mengusung tagline “Istimewa Berkarya, Istimewa Berdaya” dengan logo berbentuk daun kecil.

Bagi Athaya, daun menjadi simbol bahwa sebuah karya tidak harus menunggu menjadi besar untuk memberikan manfaat.

“Sehelai daun yang tetap memberi oksigen dan menjaga lingkungan di sekitarnya, harapannya karya Athaya bisa memberi dampak nyata meski dimulai dari langkah sederhana,” ujar Athaya.

Semangat pemberdayaan itu diterapkan dalam proses produksi Athaya Arts. Ia melibatkan ibu rumah tangga dan penjahit lokal yang merupakan penyandang disabilitas.

Athaya juga mengajak teman-teman difabel tampil sebagai model dalam berbagai pameran produknya, termasuk dalam kegiatan Malang Fashion Week.

Tak berhenti di sana, ia terus mendorong teman-teman disabilitas untuk berkarya bersama di rumahnya.

“Saya ingin suatu hari nanti ada ruang di mana teman disabilitas bisa belajar, berkarya, dan percaya pada kemampuannya sendiri. Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti mencoba,” katanya.

Dukungan UB Antar Athaya ke Pilmapres Nasional

Keberhasilan Athaya menembus Pilmapres Disabilitas Nasional 2026 tidak lepas dari dukungan Fakultas Vokasi dan Pusat Layanan Disabilitas (PLD) UB, termasuk keluarga dan teman-temannya.

Isha mengatakan Athaya sempat merasa takut dan ragu ketika mengetahui salah satu tahapan seleksi mengharuskannya membuat video berbahasa Inggris.

Namun, dukungan dari lingkungan kampus membuat kepercayaan diri Athaya tumbuh. Pendampingan dilakukan sejak penyusunan berkas hingga proses pembuatan video seleksi.

“Saat dihubungi dan tahu harus membuat video berbahasa Inggris, anaknya sempat takut dan ragu. Namun, pihak fakultas dan PLD terus meyakinkan Athaya dan mendampingi, mulai dari penyusunan berkas hingga pembuatan video, sampai akhirnya Athaya percaya diri mengikuti seleksi,” jelas Isha.

Ketua Pusat Layanan Disabilitas (PSLD) UB, Zubaidah Ningsih AS., Ph.D., menegaskan setiap mahasiswa penyandang disabilitas memiliki potensi yang sama untuk berprestasi apabila memperoleh dukungan dan kesempatan yang setara.

Menurutnya, proses pemilihan delegasi Pilmapres dilakukan melalui koordinasi antara SLDPI, Kemahasiswaan UB, Program Studi Administrasi Bisnis, dan keluarga Athaya.

Pendampingan diberikan sejak proses pendataan, penyaringan, penilaian, hingga penentuan delegasi. SLDPI juga membantu memastikan akomodasi yang layak selama proses seleksi internal hingga tingkat nasional.

“Dalam proses pemilihan delegasi Pilmapres ini SLDPI selalu melakukan koordinasi dan pendampingan dengan pihak Kemahasiswaan UB, Prodi Administrasi Bisnis dan pihak keluarga,” ujar Zubaidah.

Ia menilai capaian Athaya bukan sekadar prestasi personal. Penghargaan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa penyandang disabilitas memiliki ruang untuk berkontribusi dan berdaya melalui potensi yang dimiliki.

Termasuk melalui sektor ekonomi kreatif yang membuka peluang bagi penyandang disabilitas untuk mandiri dan menciptakan dampak sosial.

Ingin Hadirkan Ruang Berkarya bagi Difabel

Bagi Athaya, penghargaan Pilmapres Nasional 2026 bukan menjadi titik akhir. Ia ingin terus mengembangkan Athaya Arts agar manfaatnya dapat dirasakan lebih banyak orang.

Isha pun mengaku bangga putrinya mampu membawa nama baik UB di tingkat nasional. Namun, ia berharap pencapaian tersebut juga menjadi motivasi bagi keluarga lain yang memiliki anak penyandang disabilitas.

“Saya bangga Athaya bisa membawa nama baik UB di Pilmapres Nasional ini. Yang lebih penting, semoga semakin banyak teman-teman disabilitas yang percaya diri, berkarya, dan mendapatkan kesempatan yang sama,” tuturnya.

Ia berharap Athaya terus tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan mampu memberi manfaat bagi lingkungan.

“Yang terpenting adalah Athaya terus bertumbuh, mandiri, dan bermanfaat bagi orang lain. Jika perjalanan Athaya bisa membuat orang tua lain lebih percaya diri mendampingi anak-anak disabilitas, itu sudah menjadi pencapaian yang sangat berarti bagi kami,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *