Workshop Produk Pembelajaran Profesi Ners UMM, Dorong Karya Mahasiswa Berbasis HKI dan Paten

Workshop Produk Pembelajaran Profesi Ners UMM, Dorong Karya Mahasiswa Berbasis HKI dan Paten

Indonesiandaily.com – Program Studi Profesi Ners Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Workshop Produk Pembelajaran pada Sabtu (27/6) di Gedung Kuliah Bersama (GKB) V UMM. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kualitas luaran pembelajaran mahasiswa agar memiliki dampak yang lebih luas dan berkelanjutan.

Workshop menghadirkan narasumber Dr. Yektining Tiastuti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat. Kegiatan tersebut fokus pada pendampingan produk pembelajaran mahasiswa agar terdokumentasi dengan baik serta berpotensi memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HKI) maupun paten.

Kepala Prodi Profesi Ners UMM, Ns. Anis Ika Nur Rohmah, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.MB., menjelaskan bahwa mahasiswa selama ini telah menghasilkan banyak karya bernilai. Namun, belum seluruhnya terdokumentasi dan dikembangkan secara optimal.

“Fokus workshop ini adalah bagaimana produk-produk pembelajaran mahasiswa bisa berdampak dan meninggalkan jejak, misalnya melalui HKI, paten, maupun bentuk luaran lainnya yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Tingkatkan Mutu dan Keberlanjutan Produk Mahasiswa

Anis menjelaskan, produk pembelajaran mahasiswa Profesi Ners sangat beragam. Mulai dari logbook, standar operasional prosedur (SOP), video edukasi, program penyuluhan kesehatan, hingga berbagai proyek pembelajaran berbasis praktik keperawatan.

Menurutnya, secara kuantitas jumlah produk yang dihasilkan mahasiswa sudah memenuhi target pembelajaran. Tantangan berikutnya adalah meningkatkan kualitas dan keberlanjutan setiap karya yang dihasilkan.

“Secara kuantitas sebenarnya sudah cukup. Yang ingin kami tingkatkan sekarang adalah kualitasnya. Jangan sampai produk yang sudah dibuat berhenti begitu saja tanpa memberikan dampak lanjutan,” katanya.

Workshop ini juga menjadi bagian dari strategi peningkatan mutu akademik yang selaras dengan standar terbaru Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan (LAM-PTKes).

“Kami tidak ingin menunggu mendekati akreditasi baru mulai berbenah. Catatan dari asesor saat akreditasi 2025 menjadi bahan evaluasi untuk terus melakukan perbaikan sejak sekarang,” jelas Anis.

Karya Ilmiah Mahasiswa Berpotensi Menjadi Inovasi

Salah satu produk yang mendapat perhatian dalam workshop adalah karya ilmiah akhir mahasiswa Profesi Ners. Karya tersebut memuat praktik evidence-based nursing yang diadaptasi dari berbagai hasil penelitian dan pengalaman internasional untuk diterapkan pada pasien di Indonesia.

Dari proses tersebut lahir berbagai inovasi berupa SOP, rekomendasi tindakan keperawatan, hingga produk pembelajaran yang berpotensi memperoleh HKI.

“Mahasiswa melakukan berbagai intervensi keperawatan berbasis bukti. Dari situ lahir SOP, rekomendasi tindakan, hingga inovasi yang bisa dikembangkan menjadi produk pembelajaran dan diajukan HKI,” ungkapnya.

Beberapa inovasi bahkan mengembangkan pendekatan nonfarmakologis yang dapat menjadi alternatif intervensi keperawatan. Hasilnya berpotensi memperkaya praktik pelayanan kesehatan sekaligus dimanfaatkan oleh rumah sakit pendidikan maupun fasilitas layanan kesehatan lainnya.

Mahasiswa Berprestasi Dapat Insentif Akademik

Untuk mendorong lahirnya lebih banyak inovasi, Prodi Profesi Ners UMM menerapkan kebijakan khusus bagi mahasiswa yang mampu menghasilkan produk pembelajaran terukur dan dipublikasikan.

Anis mengatakan, karya yang memenuhi kriteria tertentu dapat dikonversi menjadi nilai akademik.

“Jika mahasiswa mampu menghasilkan produk yang terukur dan dipublikasikan, nilainya dapat dikonversikan sehingga tidak perlu mengikuti ujian akhir dan langsung memperoleh nilai A,” ujarnya.

Kebijakan tersebut diharapkan menjadi motivasi bagi mahasiswa dan dosen untuk terus menghasilkan karya inovatif yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Prodi Keperawatan UMM Gelar Workshop Blueprint Penilaian untuk Perkuat Mutu Pembelajaran
Dr. Yektining Tiastuti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat., saat memberikan materi mengenai cetak biru produk pembelajaran yang diselenggarakan Prodi Profesi Keperawatan UMM.

Mengenal Perbedaan Bahan Ajar dan Buku Ajar

Dalam kesempatan yang sama, Dr. Yektining Tiastuti mengulas perbedaan antara bahan ajar dan buku ajar yang kerap dianggap serupa dalam proses pendidikan tinggi.

Ia menjelaskan bahwa bahan ajar primer disusun berdasarkan kurikulum, silabus, atau Rencana Pembelajaran Semester (RPS) suatu mata kuliah. Bentuknya dapat berupa modul ajar, buku panduan praktikum, diktat, tutorial, hingga handout dan salindia pembelajaran.

Sementara itu, bahan ajar sekunder tidak secara langsung disusun berdasarkan RPS, melainkan digunakan sebagai pendukung pembelajaran. Contohnya buku referensi, monograf, buku ilmiah populer, makalah ilmiah, prosiding, bunga rampai, maupun book chapter.

Yektining juga menekankan pentingnya pengembangan bahan ajar yang memiliki unsur kebaruan sebagai bagian dari pelaksanaan pendidikan tinggi.

“Pengembangan bahan pengajaran yang memiliki nilai kebaruan tidak hanya mendukung proses pembelajaran, tetapi juga menjadi bagian dari penguatan mutu akademik dan profesionalisme dosen,” jelasnya.

Target Melampaui Predikat Unggul

Saat ini Program Studi S1 Keperawatan dan Profesi Ners UMM telah meraih predikat akreditasi unggul. Namun, capaian tersebut tidak membuat pengelola program studi berpuas diri.

“Harapannya tidak hanya mencapai predikat unggul, tetapi juga melampaui target yang sudah ada. Yang paling penting, produk pembelajaran yang dihasilkan benar-benar berdampak, meninggalkan jejak, dan bermanfaat bagi masyarakat luas,” tegas Anis.

Melalui workshop ini, Prodi Profesi Ners UMM berharap budaya inovasi, publikasi ilmiah, penguatan HKI, serta pengembangan produk pembelajaran berbasis kebutuhan masyarakat terus tumbuh dan menjadi bagian penting dari peningkatan mutu pendidikan keperawatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *