Indonesiandaily.com – Program magang Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya (UB) kembali membuktikan efektivitas kurikulum berbasis industri. Dua mahasiswa DIII Teknologi Informasi, Adimus Ricky dan Aditya Hardiansyah, sukses mengembangkan Sistem Monitoring Retort Berbasis IoT. Alat ini dipamerkan dalam Forum Koordinasi Nasional Pangan Steril Komersial 2026.
Forum yang diselenggarakan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bersama Gabungan Perusahaan Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI) itu berlangsung di Aula Gedung Bhinneka Tunggal Ika, BPOM RI, Jakarta, Selasa (30/6/2026).
Magang Hadirkan Solusi Digital untuk Industri Pangan
Kedua mahasiswa menjalani magang di CV Indah Jaya Teknik (Indahmesin). Perusahaan yang bergerak di bidang fabrikasi mesin retort untuk industri pangan steril komersial.
Selama magang, mereka tidak hanya mempelajari proses kerja industri, tetapi juga terlibat langsung dalam pengembangan sistem informasi yang mendukung operasional mesin retort. Mulai dari pembuatan antarmuka pemantauan proses, integrasi data suhu, hingga pengujian sistem di lingkungan industri.
Kontribusi terbesar keduanya adalah mentransformasi sistem data logger retort yang sebelumnya masih bergantung pada satu komputer lokal. Dimana hal tersebut menyulitkan pemantauan jarak jauh serta penyimpanan data proses sterilisasi.
Monitoring Real-Time Berbasis IoT
Melalui inovasi tersebut, data suhu dari sensor dan PID Controller dibaca oleh node logger yang telah dilengkapi Real-Time Clock (RTC).
Selanjutnya, data dikirim secara berkala menggunakan protokol MQTT menuju cloud dan ditampilkan melalui dashboard berbasis web. Operator kini dapat memantau suhu aktual, set point proses, status steam, hingga grafik historis proses sterilisasi secara daring.
Pada unit demonstrasi yang dipamerkan di forum nasional tersebut, sistem mampu menampilkan set point 121,1 derajat Celsius. Ukuran suhu tersebut yang menjadi acuan umum dalam proses sterilisasi pangan steril komersial.
Akurasi Data Tetap Terjaga
Selama proses pengujian di lapangan, tim menemukan tantangan berupa keterlambatan tampilan data akibat kualitas jaringan internet yang tidak selalu stabil.
Namun, teknologi RTC onboard mampu menjaga akurasi pencatatan waktu. Sehingga seluruh data yang tersimpan di cloud tetap presisi meski proses pengiriman mengalami keterlambatan.
“Awalnya kami fokus membuat suhu tampil real-time di dashboard. Setelah uji di plant, kami paham bahwa yang paling penting bukan animasi di layar, tetapi urutan waktu dan suhu yang tersimpan. RTC membuat data tetap presisi meski paket MQTT terkirim terlambat karena internet drop,” ujar Adimus.
Senada dengan itu, Aditya Hardiansyah menjelaskan sistem juga dirancang tetap mengirimkan seluruh data secara berurutan setelah koneksi internet kembali normal.
“Kami mendesain background service agar tetap mengantre dan mengirim payload begitu koneksi kembali tanpa mengacak urutan waktu. Karena proses stamping sudah dilakukan di perangkat,” jelasnya.
Mendukung Digitalisasi Industri Pangan
Sistem IoT yang dikembangkan mahasiswa UB tersebut telah terintegrasi dengan panel kontrol industri. Meliputi sistem tenaga, steam, burner, air, alarm, PID controller, hingga unit retort berbahan stainless steel SUS304.
Selain itu, sistem juga mendukung validasi nilai Fâ‚€, teknologi overpressure, sistem cooling terintegrasi, double safety. Serta data logger profesional yang turut dipamerkan dalam forum nasional.
Melalui proyek ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman kerja nyata, tetapi juga berkontribusi menghadirkan solusi digital yang mendukung transformasi industri pangan steril komersial di Indonesia.
