Indonesiandaily.com – Program Studi (Prodi) Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Workshop Blueprint Penilaian Pembelajaran. Hal ini sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidikan, kompetensi lulusan, serta kesiapan menghadapi standar akreditasi terbaru.
Ketua Prodi Keperawatan UMM, Nur Aini, M.Kep., Ph.D., menjelaskan bahwa blueprint penilaian menjadi instrumen penting dalam menjamin kualitas proses evaluasi mahasiswa.
“Blueprint penilaian berfungsi sebagai panduan untuk memastikan setiap instrumen penilaian benar-benar mengukur kompetensi yang harus dicapai mahasiswa,” ujarnya, Sabtu (27/06).
Menurutnya, keberadaan blueprint penilaian juga menjadi salah satu syarat utama dalam pemenuhan standar akreditasi program studi.
Selaras dengan Regulasi Penjaminan Mutu
Nur Aini menegaskan bahwa workshop tersebut sejalan dengan Permendikbudristek Nomor 53 Tahun 2023 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi yang menekankan aspek mutu, relevansi, keberlanjutan, dan asesmen berkualitas.
“Melalui blueprint ini, kami memastikan proses assessment berjalan sesuai standar sehingga mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas,” katanya.
Selain menyusun blueprint penilaian, workshop juga membahas pengembangan produk pembelajaran, khususnya modul praktikum yang digunakan mahasiswa selama proses belajar di laboratorium maupun lahan praktik klinik.
Modul Praktikum Utamakan Aspek Keselamatan
Dalam standar akreditasi terbaru, aspek keselamatan menjadi perhatian utama. Karena itu, modul pembelajaran yang disusun harus memuat prinsip keselamatan mahasiswa, pasien, dan lingkungan.
“Ketika mahasiswa belajar di klinik maupun laboratorium, keselamatan harus menjadi prioritas. Karena itu modul praktikum yang kami susun harus mengakomodasi aspek safety secara komprehensif,” jelasnya.
Ia menambahkan, pembaruan modul diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus mendukung pencapaian akreditasi program studi.
Saat ini Prodi Keperawatan UMM telah meraih status akreditasi unggul dengan masa berlaku lima tahun, sebuah capaian yang masih relatif terbatas di Indonesia.
“Meski akreditasi kami masih berlaku hingga 2030, peningkatan mutu harus terus dilakukan secara berkelanjutan,” tegasnya.
Hadirkan Asesor Akreditasi Nasional
Untuk memperkuat kualitas penyusunan blueprint dan produk pembelajaran, Prodi Keperawatan UMM menghadirkan Dr. Yektiningtiastuti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat., dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto sebagai narasumber.
Nur Aini menyebutkan bahwa Yektining merupakan asesor akreditasi program studi keperawatan yang memiliki pengalaman dan pemahaman mendalam terkait instrumen penilaian.
“Beliau sangat memahami instrumen akreditasi dan proses penilaiannya. Karena itu kami ingin banyak berdiskusi dan belajar dari pengalaman beliau,” ungkapnya.

Dorong Lulusan Lebih Cepat dan Berkualitas
Upaya peningkatan mutu yang dilakukan Prodi Keperawatan UMM mulai menunjukkan hasil positif. Salah satunya terlihat dari meningkatnya rata-rata masa studi mahasiswa.
Jika sebelumnya mahasiswa umumnya menyelesaikan studi dalam waktu empat tahun, kini banyak mahasiswa mampu lulus dalam waktu 3,5 tahun.
“Ini menjadi salah satu indikator bahwa berbagai program peningkatan kualitas yang kami lakukan mulai memberikan dampak positif terhadap capaian lulusan,” kata Nur Aini.
Workshop ini diikuti oleh 33 dosen Keperawatan UMM. Hasil akhirnya berupa blueprint penilaian yang mencakup aspek kognitif, sikap, keterampilan, profesionalisme, keselamatan pasien, hingga nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK).
Ia berharap workshop tersebut dapat semakin memperkuat kualitas pembelajaran, meningkatkan kompetensi mahasiswa, serta menjaga capaian akreditasi unggul yang telah diraih.
“Ketika modul pembelajaran dan sistem penilaian disusun dengan baik, maka kualitas lulusan juga akan meningkat. Pada akhirnya, hal itu akan memberikan dampak positif bagi mahasiswa maupun institusi,” tuturnya.
Narasumber Ulas Pentingnya SKL
Dalam kesempatan tersebut narasumber tunggal Dr. Yektining Tiastuti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat., mengulas pentingnya Standar Kompetensi Lulusan (SKL) sebagai dasar penyusunan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL).
Mengacu pada Pasal 29 Ayat 2 UU Nomor 12 Tahun 2012, standar kompetensi lulusan digunakan untuk menyiapkan mahasiswa menjadi anggota masyarakat yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berkarakter, serta mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Lulusan perguruan tinggi harus mampu menerapkan, mengembangkan, bahkan menemukan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat,” jelasnya.
Ia juga menyinggung keterkaitan SKL dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) yang diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2012 serta regulasi terbaru mengenai Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi.
Dalam workshop tersebut, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai sistem pendidikan tinggi yang mengintegrasikan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Keberhasilan Pendidikan Tinggi Diukur Juga Luarannya
Menurut Dr. Yektining, keberhasilan pendidikan tinggi tidak hanya diukur dari proses pembelajaran, tetapi juga dari luaran dan dampak yang dihasilkan. Indikatornya meliputi data lulusan, publikasi ilmiah, hingga karya inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ia menegaskan bahwa pendekatan Outcome Based Education (OBE) menjadi salah satu strategi penting dalam pengembangan kurikulum modern.
“OBE adalah pendekatan sistem pendidikan yang memfokuskan kurikulum, proses pembelajaran, dan penilaian pada kemampuan yang harus dikuasai mahasiswa saat menyelesaikan proses belajarnya,” tuturnya.
Melalui pendekatan tersebut, perguruan tinggi diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang kompeten, adaptif terhadap perubahan, serta sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dan masyarakat.
