Indonesiandaily.com – Universitas Negeri Malang (UM) tak ingin pembelajaran di perguruan tinggi berhenti pada transfer pengetahuan. Kampus ini mendorong dosen menghadirkan proses belajar yang mampu mengubah cara mahasiswa melihat. Serta memahami, dan merespons persoalan nyata di masyarakat.
Langkah tersebut diperkuat melalui Pelatihan Pembelajaran Transformatif bagi Dosen Tahun 2026 yang digelar UM bersama Direktorat Strategi dan Sistem Pembelajaran Transformatif (SSPT). Yakni dari Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Pelatihan berlangsung di Atria Hotel, Jumat-Minggu (7–9/8/2026). Dengan melibatkan 50 dosen dari UM dan sejumlah perguruan tinggi di Malang Raya.
Yang membuat kegiatan ini strategis, UM menjadi salah satu dari tiga perguruan tinggi yang dipercaya Kemdiktisaintek untuk menyelenggarakan pelatihan pembelajaran transformatif. Dua perguruan tinggi lainnya yakni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan Universitas Negeri Makassar (UNM).
Kepercayaan tersebut sekaligus mempertegas posisi UM sebagai salah satu perguruan tinggi yang memiliki kapasitas dalam pengembangan pendidikan dan pembelajaran di tingkat nasional.
Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran (PKP) LPPP UM, Nuril Munfaridah, S.Pd., M.Pd., Ph.D., mengatakan pelatihan ini diarahkan untuk menghasilkan perubahan nyata dalam proses pembelajaran.
“Pelatihan ini diharapkan menjadi langkah awal para dosen di Malang Raya untuk kembali memperkuat pembelajaran yang bermuara pada perubahan. Terutama pada cara pandang mahasiswa terhadap masalah-masalah yang terjadi di masyarakat,” ujar Nuril.
Bukan Sekadar Transfer Materi
Pembelajaran transformatif menempatkan dosen bukan sekadar sebagai penyampai materi. Dosen dituntut mampu menjadi fasilitator yang membantu mahasiswa mempertanyakan perspektif. Juga melakukan refleksi, mengambil tindakan, dan mengintegrasikan pengalaman ke dalam pemahaman baru.
Proses tersebut dibangun melalui empat tahapan, yakni trigger, reflection, action, dan integration.
Melalui tahapan itu, mahasiswa diarahkan untuk tidak hanya mengetahui suatu persoalan. Namun memahami akar masalah, melihatnya dari berbagai sudut pandang, kemudian menghubungkannya dengan kehidupan nyata.
Dengan demikian, ruang kelas tidak lagi menjadi tempat mahasiswa sekadar menghafal teori. Pembelajaran diarahkan menjadi ruang untuk membangun kesadaran, mengasah daya kritis. Sekaligus mendorong mahasiswa merespons persoalan yang ada di masyarakat.
Pendekatan tersebut dinilai selaras dengan Kurikulum Berbasis Kehidupan (Life Based Learning) yang menjadi salah satu ciri khas pembelajaran di UM.
“Pembelajaran transformatif ini juga selaras dengan pendekatan Kurikulum Berbasis Kehidupan (Life Based Learning) yang merupakan ciri khas pembelajaran di UM. Dimana mahasiswa menggunakan konteks permasalahan nyata di masyarakat untuk mengaplikasikan pengetahuannya,” kata Nuril.
50 Dosen Jadi Penggerak Perubahan
Sebanyak 50 dosen mengikuti pelatihan. Sebanyak 25 dosen berasal dari UM dan mewakili setiap fakultas. Sementara 25 peserta lainnya berasal dari sejumlah perguruan tinggi di Malang Raya.
Komposisi tersebut membuka ruang kolaborasi lintas kampus. Pengalaman dan praktik pembelajaran dari berbagai perguruan tinggi dipertukarkan untuk memperkuat penerapan pembelajaran transformatif.
Pelatihan berlangsung selama 92 jam pelajaran (JP) dan dirancang dalam tiga tahapan.
Tahap pertama berupa pembelajaran mandiri secara daring selama 25 JP. Peserta membangun pemahaman konseptual mengenai kebijakan, konsep. Serta arah strategis pembelajaran transformatif.
Selanjutnya, peserta mengikuti pembelajaran tatap muka selama 55 JP. Tahap ini diisi dengan pendalaman materi, simulasi peer-teaching, hingga penyusunan draf Rencana Pembelajaran Semester (RPS). Dengan fokus berbasis pembelajaran transformatif.
Tahap terakhir berupa praktik baik dan refleksi selama 12 JP secara daring.
Materi yang diberikan mencakup kebijakan dan arah strategis pembelajaran transformatif, konsep dasar, desain pembelajaran, fasilitasi. Serta asesmen, praktik baik, serta berbagi pengalaman dan refleksi.
Dosen Dituntut Bawa Perubahan ke Kelas
Pelatihan tersebut juga tidak dirancang berhenti pada sertifikat atau pemahaman konseptual. Setiap peserta diwajibkan menghasilkan luaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran.
Peserta menyusun portofolio asesmen yang mengintegrasikan RPS dan instrumen asesmen. Mereka juga menghasilkan laporan praktik baik yang dilengkapi dokumentasi artefak tugas mahasiswa.
Tak berhenti di sana, setiap peserta juga menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) dan bergabung dalam komunitas berbagi praktik baik.
Skema tersebut menjadi mekanisme untuk memastikan pembelajaran transformatif benar-benar dibawa kembali ke ruang kelas setelah pelatihan berakhir.
Perkuat Reputasi UM di Tingkat Nasional
Wakil Rektor I UM, Prof. Dr. Ibrahim Bafadal, M.Pd., membuka kegiatan tersebut. Turut hadir Ketua LPPP UM Prof. Dr. Hardika, M.Pd., Sekretaris LPPP UM Prof. Dr. Lia Yuliati, M.Pd., serta tim Kemdiktisaintek yang dipimpin Direktur SSPT Prof. dr. Ardi Findyartini, Ph.D., dan Ketua Kelompok Kerja Model Pembelajaran Transformatif Dr. Neneng Khafidho, S.S., M.M.
Bagi UM, keterlibatan dalam program tersebut bukan sekadar agenda pelatihan dosen. Momentum ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem pembelajaran yang relevan. Terutama dengan tantangan zaman.
Kepercayaan Kemdiktisaintek kepada UM juga menjadi modal penting untuk memperluas jejaring pengembangan pembelajaran bersama perguruan tinggi lain.
“UM bersama UPI dan UNM menjadi tiga perguruan tinggi yang dipercaya kementerian untuk menyelenggarakan pelatihan ini. Hal ini semakin menegaskan kembali bahwa UM memiliki reputasi yang baik di tingkat nasional terkait bidang pendidikan dan pembelajaran,” tutur Nuril.
Penguatan pembelajaran transformatif tersebut sekaligus mendukung pencapaian SDGs 4 tentang Pendidikan Berkualitas. Orientasinya adalah menciptakan pendidikan yang tidak hanya menghasilkan lulusan berpengetahuan. Namun juga mampu berpikir kritis, reflektif, adaptif, dan responsif terhadap persoalan masyarakat.
Kolaborasi Kemdiktisaintek, UM, dan perguruan tinggi di Malang Raya juga memperkuat semangat SDGs 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Dengan demikian, pelatihan tiga hari tersebut diharapkan menjadi titik awal. Bukan sekadar menghasilkan dosen yang memahami konsep pembelajaran transformatif. Namun melahirkan praktik pembelajaran baru yang mampu membuat mahasiswa belajar dari realitas. Juga merefleksikannya, lalu mengambil peran untuk menghadirkan perubahan.
