Indonesiandaily.com – Universitas Islam Malang (UNISMA) melalui Prodi Pendidikan Matematika kembali menghadirkan inovasi pembelajaran. Kali ini melalui kegiatan Klinik Matematika Ceria, dengan Klinik Numerasi dan Penalaran yang resmi diluncurkan pada bulan April 2026. Kegiatan ini sebagai upaya kampus ini untuk menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap Matematika.
Dijelaskan oleh dosen pengampu program Klinik Ceria ini, Dr. Surya Sari Faradiba, S.Si., M.Pd, yang akrab dipanggil Faradiba. Bahwa kegiatan ini merupakan luaran dari mata kuliah Mathematics Learning for Special Needs yang bertujuan untuk membantu anak-anak mengatasi kesulitan belajar Matematika. Termasuk bertujuan untuk menumbuhkan minat dan rasa percaya diri dalam memahami konsep numerasi.
“Mulai peluncurannya, kegiatan yang dinamai Klinik Matematika Ceria mendapatkan antusiasme yang sangat tinggi dari masyarakat,” ungkap Faradiba, Selasa (21/04).
Tercatat sedikitnya 150 siswa tingkat TK hingga SD di Kota Malang bergabung dalam kegiatan ini. Tingginya partisipasi ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan pendampingan belajar Matematika yang ramah, menyenangkan, dan inklusif semakin dirasakan oleh masyarakat.
Klinik Matematika Ceria dirancang sebagai ruang belajar yang adaptif terhadap kebutuhan belajar setiap anak, termasuk anak dengan karakteristik Slow Learner serta anak yang mengalami kesulitan spesifik seperti gangguan dalam memahami konsep dan operasi matematika (Dyscalculia).
Melalui pendekatan yang interaktif, kontekstual, dan berbasis asesmen diagnostik, setiap anak mendapatkan pendampingan yang sesuai dengan profil belajarnya.
Mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika UNISMA Malang, yang terlibat dalam kegiatan ini diantaranya Farah Rosyidah Putri Yasfi, Reza Ine Berlian, dan Fahyu Nita Elfa Fitria.
Kegiatan ini di bawah bimbingan dosen pengampu Dr. Faradiba serta Yuli Ismi Nahdiyati Ilmi, S.Pd., M.Pd,. Dimana para mahasiswa tidak hanya berperan sebagai tutor, tetapi juga sebagai fasilitator yang mengidentifikasi kebutuhan belajar siswa melalui pendekatan diagnostik sederhana.
“Melalui Klinik Matematika Ceria, kami ingin menghadirkan pengalaman belajar yang fokusnya bukan hanya pada hasil. Tetapi pada proses berpikir, rasa percaya diri, dan keberanian anak untuk mencoba,” urai Faradiba.
Selain memberikan pendampingan belajar, program ini juga mengembangkan instrumen diagnostik untuk mengidentifikasi kesulitan belajar siswa, termasuk indikasi kesulitan numerasi dasar. Dengan demikian, strategi pembelajaran yang diberikan menjadi lebih tepat sasaran dan berorientasi pada kebutuhan individual siswa.
Klinik Matematika Ceria diharapkan dapat menjadi model praktik baik (Best Practice) dalam pembelajaran matematika inklusif, khususnya bagi anak dengan kebutuhan belajar beragam. Termasuk juga memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan literasi numerasi di masyarakat.
