Indonesiandaily.com ā Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat regional. Kampus Putih berhasil meraih dua penghargaan bergengsi dari Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII.
Yakni sebagai Perguruan Tinggi dengan Kerja Sama Internasional Paling Berdampak dan Perguruan Tinggi dengan Kerja Sama Industri Paling Berdampak.
Dua penghargaan tersebut mengantarkan UMM menjadi wakil LLDIKTI Wilayah VII untuk bersaing di tingkat nasional. Capaian ini menjadi pengakuan atas keberhasilan UMM membangun kolaborasi yang tidak hanya bersifat seremonial. Namun juga memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa, industri, dan masyarakat.
Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., mengatakan penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa strategi internasionalisasi dan kemitraan industri yang dijalankan UMM berjalan efektif.
“Ini menjadi kebanggaan karena kinerja UMM mendapatkan apresiasi. Kami terus berupaya menghadirkan kerja sama yang benar-benar berdampak bagi mahasiswa dan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Salis, berbeda dengan sebagian besar perguruan tinggi yang mengandalkan program pertukaran mahasiswa dan dosen. UMM justru mengembangkan model internasionalisasi yang lebih aplikatif.
Melalui program magang internasional dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) internasional, mahasiswa dari berbagai fakultas memperoleh pengalaman langsung di sejumlah negara. Seperti Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Thailand, Taiwan, hingga Vietnam.
“Kalau yang lain internasional itu pertukaran dosen dan mahasiswa. Kami menghadirkan magang dan pengabdian masyarakat internasional. Program ini benar-benar mempersiapkan mahasiswa agar siap bersaing di tingkat global, bukan sekadar mendapatkan eksposur internasional,” jelasnya.
Di sisi lain, keberhasilan UMM dalam kategori kerja sama industri tidak lepas dari penguatan program Center of Excellence (CoE). Dimana yang menghubungkan dunia pendidikan dengan kebutuhan industri.
Salis menegaskan bahwa perguruan tinggi harus mampu menghasilkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
“Pendidikan tinggi tidak mungkin berjalan optimal tanpa kolaborasi dengan industri. Apa yang dihasilkan perguruan tinggi pada akhirnya harus mampu menjawab kebutuhan industri. Itulah yang kami bangun melalui Center of Excellence,” katanya.
Program Kemitraan Harus Bewujud Nyata
UMM juga menerapkan kebijakan yang cukup tegas dalam membangun kemitraan. Setiap nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) wajib diikuti dengan Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang memiliki program nyata dan terukur.
“Di UMM tidak boleh ada MoU tanpa PKS. Jadi setiap kerja sama harus menghasilkan minimal satu program yang benar-benar dilaksanakan. Bukan hanya dokumen yang disimpan,” tegas Salis.
Strategi tersebut membuat setiap mitra tidak hanya dimanfaatkan pada satu bidang. Tetapi dikembangkan menjadi kolaborasi lintas disiplin.
Ia mencontohkan kerja sama dengan Jepang yang awalnya berfokus pada sektor pangan. Kemudian berkembang ke bidang perhotelan hingga keperawatan.
“Setiap mitra kami dorong agar memberi manfaat lebih luas. Dari satu kerja sama bisa lahir kolaborasi di berbagai bidang yang berbeda,” imbuhnya.
Ke depan, UMM menargetkan perluasan jejaring internasional agar mahasiswa memiliki peluang yang lebih besar untuk berkiprah di kawasan Eropa maupun Amerika, tidak hanya di Asia.
“Kami ingin lulusan UMM memiliki daya saing global melalui industrialisasi dan internasionalisasi. Sehingga mampu bersaing di tingkat dunia,” pungkasnya.
Dua penghargaan dari LLDIKTI Wilayah VII tersebut semakin menegaskan posisi UMM sebagai salah satu perguruan tinggi yang konsisten membangun kolaborasi strategis. Melalui sinergi dengan industri dan mitra internasional, Kampus Putih terus memperkuat komitmennya mencetak lulusan berkompetensi global yang siap memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.
