Piala Dunia Jadi Cermin Kehidupan, Akademisi UIN Maliki: Kemenangan Uji Kerendahan Hati, Kekalahan Uji Keteguhan

Piala Dunia Jadi Cermin Kehidupan, Akademisi UIN Maliki: Kemenangan Uji Kerendahan Hati, Kekalahan Uji Keteguhan

Indonesiandaily.com – Euforia dan air mata yang mewarnai Piala Dunia 2026 bukan sekadar cerita tentang sepak bola. Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang, Prof Dr HM Abdul Hamid SAg MA, menilai turnamen sepak bola terbesar di dunia itu menghadirkan pelajaran mendalam tentang makna kemenangan, kekalahan, serta karakter manusia dalam menghadapi keduanya.

Menurut Prof Hamid, peluit akhir laga tidak hanya menandai lahirnya seorang juara, tetapi juga memperlihatkan dua sisi kehidupan yang terjadi dalam waktu bersamaan.

“Kehidupan tidak pernah hanya berisi kemenangan atau hanya dipenuhi kekalahan. Dalam satu waktu yang sama, Allah memperlihatkan kepada manusia dua wajah kehidupan: kebahagiaan dan kesedihan,” ujarnya.

Sunatullah yang Terus Berulang

Ia menjelaskan, satu tim merayakan keberhasilan dengan pelukan dan tangis bahagia, sementara tim lain harus menerima kenyataan pahit setelah perjuangan panjang. Kondisi tersebut, katanya, merupakan sunatullah yang terus berulang dalam kehidupan manusia.

Hamid mengutip firman Allah SWT dalam QS. Ali Imran ayat 140, “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia.” Menurutnya, ayat tersebut menegaskan bahwa kemenangan dan kekalahan merupakan bagian dari siklus kehidupan yang tidak akan berlangsung selamanya.

“Kemenangan sesungguhnya bukan hanya soal mengangkat trofi. Kemenangan adalah ujian yang jauh lebih berat daripada kekalahan,” tegasnya.

Keberhasilan Tak Boleh Lahirkan Kesombongan

Ia mengingatkan, keberhasilan tidak boleh melahirkan kesombongan maupun merendahkan pihak yang kalah. Sebaliknya, kemenangan harus disikapi dengan rasa syukur dan kerendahan hati karena setiap pencapaian merupakan titipan Allah SWT.

Di sisi lain, kekalahan juga bukan akhir dari segalanya. Hamid menilai kegagalan justru menjadi ruang untuk belajar, melakukan evaluasi, memperkuat mental, dan membangun karakter agar mampu bangkit lebih baik di masa depan.

“Kekalahan adalah ruang untuk bertumbuh. Ia mengajarkan evaluasi, melatih kesabaran, membangun mental, dan menempa karakter yang tidak bisa dibentuk oleh kemenangan,” katanya.

Seluruh Urusan Seorang Mukmin Adalah Baik

Ia juga mengutip hadis riwayat Muslim yang menyebutkan bahwa seluruh urusan seorang mukmin adalah baik. Ketika memperoleh nikmat, ia bersyukur, dan ketika menghadapi kesulitan, ia bersabar.

Menurut Hamid, syukur menjadi benteng agar seseorang tidak mabuk oleh keberhasilan, sedangkan sabar menjaga seseorang agar tidak hancur oleh kegagalan.

Lebih jauh, ia menilai musuh terbesar manusia bukanlah lawan yang berada di hadapannya, melainkan hawa nafsu dalam dirinya sendiri.

“Pemenang akan diuji, apakah tetap rendah hati setelah dipuji dunia. Yang kalah juga diuji, apakah tetap tegar ketika dunia berpaling darinya,” ungkapnya.

Piala Dunia Sejatinya Jadi Cerminan Hidup

Prof Hamid menegaskan, Piala Dunia 2026 sejatinya menjadi cermin perjalanan hidup manusia yang dipenuhi kerja keras, pengorbanan, doa, strategi, harapan, kegagalan, hingga keberhasilan.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk tidak menjadikan kebahagiaan sebagai alasan melukai mereka yang sedang berduka. Kemenangan harus dirayakan dengan syukur, sedangkan kekalahan dihadapi dengan kesabaran.

“Pada akhirnya, bukan trofi yang menentukan kemuliaan seseorang. Yang menentukan adalah karakter, akhlak, dan kualitas jiwa yang tetap teguh dalam syukur ketika menang serta kokoh dalam sabar ketika kalah,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *