Indonesiandaily.com – Mahasiswa Program Studi Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menghadirkan inovasi yang menjawab persoalan nyata di sektor peternakan. Mahasiswa angkatan 2024 berhasil mengembangkan Waboos (Wafer Imunobooster), pakan herbal bernutrisi tinggi yang dirancang untuk menjaga kesehatan sistem pencernaan ternak sekaligus meningkatkan penyerapan nutrisi secara optimal.
Inovasi ini lahir dari keprihatinan terhadap masih banyaknya peternak yang mengalami kerugian akibat rendahnya perhatian terhadap kesehatan saluran pencernaan hewan ruminansia. Padahal, sistem pencernaan yang sehat menjadi kunci utama agar nutrisi pakan dapat diserap secara maksimal.
Ketua tim pengembang, Fajar Ferdiansyah, menjelaskan bahwa banyak peternak masih beranggapan pakan berprotein tinggi sudah cukup untuk mempercepat pertumbuhan ternak. Menurutnya, anggapan tersebut kurang tepat jika kesehatan organ pencernaan tidak diperhatikan.
“Masyarakat umumnya hanya mengandalkan pakan mahal agar ternak cepat gemuk. Namun mereka lupa bahwa tanpa sistem pencernaan yang sehat, penyerapan nutrisi tidak akan pernah maksimal,” ujarnya, Rabu (30/7).
Sesuai namanya, Waboos dibuat dalam bentuk padat menyerupai wafer sehingga praktis disimpan maupun diberikan kepada ternak. Produk ini menggunakan bahan-bahan lokal tanpa tambahan bahan kimia berbahaya.
Komposisinya terdiri atas bungkil kopra, jagung giling, dedak padi, pollard, tetes tebu, tepung gaplek, bekatul. Serta diperkaya tepung daun kelor dan temulawak sebagai bahan herbal utama.
Daun kelor dipilih karena kaya protein, vitamin, dan antioksidan yang mampu meningkatkan daya tahan tubuh sekaligus menjaga keseimbangan mikroba usus. Sementara itu, temulawak berfungsi membantu menjaga kesehatan saluran pencernaan sehingga proses penyerapan nutrisi berlangsung lebih efektif.
Hasil uji coba di sejumlah peternakan di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, dan Genteng, Kabupaten Banyuwangi, menunjukkan respons positif. Para peternak mengaku terjadi peningkatan nafsu makan pada kambing dan domba setelah rutin mengonsumsi Waboos.
“Selama uji coba di peternakan, para peternak mengaku adanya peningkatan nafsu makan serta pertumbuhan kambing dan domba setelah mengonsumsi Waboos,” kata Fajar.
Saat ini, Waboos telah dipasarkan secara lokal dalam kemasan 500 gram dengan harga Rp5.000. Produk tersebut menjadi salah satu hasil nyata pembelajaran berbasis inovasi yang dikembangkan di Kampus Putih UMM.
Ke depan, tim pengembang menargetkan penyempurnaan produk melalui pengujian laboratorium yang lebih komprehensif. Sekaligus mengajukan hak paten agar Waboos dapat diproduksi dalam skala industri dan dimanfaatkan lebih luas oleh para peternak di Indonesia.
Inovasi ini merupakan luaran mata kuliah Pakan dan Teknologi Pakan yang menekankan kolaborasi antara teori di kelas dan praktik lapangan. Melalui Waboos, mahasiswa UMM membuktikan bahwa riset sederhana berbasis potensi lokal mampu menghasilkan solusi nyata. Terutamanuntuk meningkatkan produktivitas ternak sekaligus mendukung kesejahteraan peternak.
Dosen pembimbing, Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, M.P., IPU., berharap mahasiswa terus berani melahirkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Jangan pernah takut gagal dalam berinovasi menciptakan karya nyata, karena seorang nakhoda kapal yang tangguh tidak akan pernah tercipta dari ombak lautan yang selalu tenang,” pesannya.
