Indonesiandaily.com – Kuliah pertanian di Universitas Tribhuana Tunggadewi (Unitri) tak lagi berhenti di ruang kelas. Melalui Kampus 3 Fakultas Pertanian di Wagir, Kabupaten Malang, mahasiswa didorong berhadapan langsung dengan tanah, tanaman, teknologi hingga persoalan riil yang dihadapi masyarakat.
Kawasan tersebut dikembangkan sebagai Agro Edupark Unitri, sebuah laboratorium hidup yang menggabungkan pembelajaran, penelitian, praktik lapangan dan pemberdayaan masyarakat.
Rektor Unitri Prof. Dodi Wirawan Irawanto mengatakan, pendidikan pertanian membutuhkan pengalaman langsung agar mahasiswa memahami persoalan secara utuh.
“Mahasiswa harus belajar dari tanah, air, tanaman, teknologi, pasar, dan pengalaman nyata masyarakat tani,” ujar Dodi saat meresmikan Kampus 3 Unitri.
Menurut dia, pertanian tidak semata-mata berbicara mengenai produksi pangan. Sektor ini berkaitan dengan ketahanan pangan, kesejahteraan petani, ekonomi desa, lingkungan, perubahan iklim hingga keberlanjutan kehidupan generasi mendatang.
Karena itu, Kampus 3 diarahkan menjadi living laboratory bagi pelaksanaan tridharma perguruan tinggi.
Teori Langsung Diuji di Lahan
Konsep tersebut memungkinkan mahasiswa menguji pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah melalui aktivitas nyata di lapangan.
Praktik, magang, pelatihan dan proyek lapangan menjadi bagian dari pembelajaran. Mahasiswa juga dapat terlibat dalam berbagai aktivitas yang berkaitan dengan produktivitas pertanian, pengolahan hasil, agribisnis hingga pemanfaatan teknologi.
Bagi dosen, kawasan ini menjadi ruang untuk mengembangkan riset terapan. Sejumlah isu yang dapat dikembangkan mencakup kesehatan tanah, pemupukan, produktivitas tanaman, diversifikasi komoditas, pertanian ramah lingkungan dan digitalisasi pertanian.
Dodi menegaskan, riset perguruan tinggi semestinya tidak berhenti sebagai laporan akademik.
“Perguruan tinggi harus menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar pengamat,” tegasnya.
Ratusan Mahasiswa Mulai Hidupkan Wagir
Aktivitas Kampus 3 Unitri telah berjalan sekitar dua pekan. Lebih dari 400 mahasiswa dan dosen mulai beraktivitas di kawasan Wagir, khususnya Desa Jedong dan Desa Dalisodo.
Kehadiran civitas akademika tersebut sekaligus diharapkan menciptakan interaksi ekonomi baru dengan masyarakat sekitar.
Unitri mulai membuka ruang bagi warga desa untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi kampus. Salah satunya melalui tenant kantin yang menyediakan produk berbasis hasil pertanian dan melibatkan kontribusi mahasiswa, dosen, petani serta pelaku UMKM binaan.
Dengan pola tersebut, Agro Edupark tidak hanya menjadi tempat mahasiswa belajar tentang pertanian, tetapi juga ruang bertemunya kampus dengan masyarakat.
Mengukur Kuliah dari Dampaknya
Unitri ingin keberadaan Agro Edupark menghasilkan dampak yang dapat dilihat dan diukur.
Pertanyaan yang menjadi tolok ukur bukan sekadar berapa banyak kegiatan yang digelar, melainkan apakah produktivitas petani meningkat, teknologi dapat diterapkan, kompetensi mahasiswa bertambah, inovasi baru lahir dan pendapatan masyarakat ikut terdorong.
Untuk mencapai target tersebut, Unitri membuka kolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha, masyarakat dan mitra lainnya.
Dodi menyebut model pentahelix menjadi salah satu pendekatan yang didorong untuk memperkuat ekosistem pertanian di kawasan tersebut.
“Dengan kawasan ini, kami ingin menghadirkan inovasi yang sederhana, tetapi bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.
Kampus 3 Unitri pun diposisikan bukan sekadar sebagai bangunan baru Fakultas Pertanian. Agro Edupark Wagir diproyeksikan menjadi ruang ketika teori bertemu praktik, penelitian bertemu kebutuhan masyarakat, dan mahasiswa belajar langsung dari persoalan pertanian di lapangan.



