LiNGUA UIN Malang Perbarui Fokus Riset, Bidik Reindeksasi Scopus 2027 dengan Usung Isu SDGs

LiNGUA UIN Malang Perbarui Fokus Riset, Bidik Reindeksasi Scopus 2027 dengan Usung Isu SDGs

Indonesiandaily.com – Fakultas Humaniora UIN Malang melakukan langkah strategis untuk memperkuat kualitas publikasi ilmiah internasional. Melalui reformulasi Focus and Scope, LiNGUA: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra kini mengarahkan publikasi riset agar lebih relevan dengan berbagai tantangan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari penguatan identitas akademik LiNGUA sekaligus fondasi penting menuju pengajuan kembali indeksasi Scopus pada 2027. Dengan arah baru ini, jurnal tidak hanya berfokus pada pengembangan teori linguistik, sastra, dan budaya, tetapi juga mendorong penelitian yang mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Selama ini LiNGUA dikenal sebagai wadah publikasi penelitian linguistik, sastra, dan kajian budaya. Beragam topik telah diterbitkan, mulai dari World Englishes, analisis wacana kritis, pragmatik, sosiolinguistik, linguistik terapan, teori sastra, kritik sastra, sejarah sastra, hingga kajian budaya Asia Tenggara.

Melalui reformulasi tersebut, kekayaan tema itu tetap dipertahankan. Namun diperkuat dengan orientasi yang lebih responsif terhadap isu-isu global.

Kini, LiNGUA menempatkan perspektif humaniora sebagai instrumen untuk mengkaji persoalan strategis seperti kesetaraan gender, perdamaian, keadilan sosial. Juga transformasi digital, keberlanjutan lingkungan, pemberdayaan masyarakat, hingga perubahan sosial.

Pendekatan tersebut menegaskan bahwa bahasa, sastra, dan budaya memiliki peran penting. Khususnya dalam membangun masyarakat yang inklusif, adil, dan berkelanjutan.

Terintegrasi dengan Agenda SDGs

Sebagai bagian dari penguatan arah ilmiah, LiNGUA mengintegrasikan ruang lingkup publikasinya dengan sejumlah target SDGs, antara lain SDG 5 (Kesetaraan Gender), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), SDG 10 (Pengurangan Kesenjangan).

Termasuk pula SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan), SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

Integrasi tersebut menandai perubahan paradigma penelitian humaniora. Setiap artikel diharapkan tidak hanya menawarkan pengembangan konsep akademik. Tetapi juga menunjukkan kontribusi terhadap penyelesaian persoalan pembangunan berkelanjutan.

Di sisi lain, LiNGUA tetap mempertahankan identitasnya sebagai jurnal yang berakar pada konteks Indonesia, Asia, dan Asia Tenggara. Penulis didorong mengangkat isu-isu lokal yang mampu diposisikan dalam diskursus akademik internasional.

Dalam bidang linguistik, jurnal ini memprioritaskan penelitian mengenai pelestarian bahasa masyarakat adat. Juga inklusi linguistik kelompok marginal, analisis wacana untuk pembangunan perdamaian. Hingga relasi bahasa, identitas budaya, dan pembangunan berkelanjutan.

Sementara pada bidang sastra, perhatian diarahkan pada isu kesetaraan gender, ekokritik, sastra feminis, sastra pascakolonial, hak asasi manusia, hingga sastra digital. Adapun kajian budaya mencakup ketahanan budaya, pemberdayaan komunitas, adaptasi terhadap perubahan lingkungan, budaya populer, media, dan kewargaan digital.

LiNGUA juga membuka ruang bagi penelitian lintas disiplin yang menghubungkan linguistik, sastra, budaya, etika, ilmu sosial, transformasi digital, kecerdasan artifisial (AI), hingga aksi iklim. Pendekatan integratif tersebut diharapkan menghasilkan perspektif baru dalam menjawab tantangan global.

Perkuat Tata Kelola Editorial

Tak hanya memperbarui fokus kajian, LiNGUA juga memperkuat tata kelola editorial. Pembenahan dilakukan melalui penyelarasan pedoman penulis, sistem penelaahan artikel, komposisi mitra bestari, strategi internasionalisasi, hingga pengembangan jejaring akademik.

Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas artikel, memperkuat orisinalitas penelitian. Serta memperluas dampak akademik jurnal di tingkat internasional.

“Reformulasi Focus and Scope mencerminkan komitmen LiNGUA untuk mempertemukan ketelitian akademik dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat,” ungkap Zainur Rofiq, M.A., Ketua Unit Informasi dan Publikasi Fakultas Humaniora UIN Malang.

Ia menambahkan, pihaknya ingin memastikan bahwa penelitian linguistik, sastra, dan budaya tidak berhenti pada pengembangan konsep, tetapi juga memberikan pemahaman kritis mengenai kesetaraan, perdamaian, keberlanjutan, dan transformasi sosial,” ujar Zainur Rofiq, M.A., Ketua Unit Informasi dan Publikasi Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Menurutnya, reformulasi tersebut merupakan bagian dari strategi Fakultas Humaniora dalam membangun ekosistem publikasi ilmiah. Terutama yang adaptif, berkualitas, dan bereputasi internasional.

Melalui langkah ini, LiNGUA menegaskan posisinya sebagai jurnal humaniora yang berakar pada konteks Indonesia dan Asia Tenggara, berorientasi global. Serta berkomitmen menghadirkan publikasi ilmiah yang relevan, berdampak, dan menjadi pijakan penting menuju reindeksasi Scopus pada 2027.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *