Indonesiandaily.com – Kepala BRIN, Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memiliki green skill untuk menghadapi tantangan masa depan. Hal itu disampaikannya saat memberikan Kuliah Umum Riset Nasional di Aula Rektorat Universitas Negeri Malang (UM), Jumat (3/7/2026).
Menurut Arif, perkembangan teknologi harus berjalan seiring dengan kemampuan menjaga lingkungan. Karena itu, bidang-bidang seperti ilmu lingkungan, konservasi, energi terbarukan, hingga perlindungan satwa liar akan menjadi kompetensi yang semakin dibutuhkan di masa mendatang.
“Jangan terlalu sedih hati, karena yang sangat diperlukan juga adalah green skill. Green skill adalah keterampilan di bidang lingkungan, seperti environmental science, konservasi, renewable energy, hingga wildlife conservation. Semua itu sekarang menjadi sangat penting,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa perubahan iklim dan kerusakan ekosistem membuat berbagai profesi berbasis lingkungan semakin strategis. Salah satu contohnya adalah konservasi satwa liar yang berperan menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus melindungi kehidupan manusia.
Arif mencontohkan pentingnya keberadaan satwa tertentu dalam menjaga rantai makanan di alam. Ketika keseimbangan tersebut terganggu akibat kerusakan hutan, risiko munculnya berbagai persoalan lingkungan hingga penyakit juga meningkat.
Konsep One Health Jadi Masa Depan
Dalam kesempatan itu, Arif juga memperkenalkan konsep One Health, yakni pendekatan yang mengintegrasikan kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan.
“Ke depan tidak bisa lagi kesehatan manusia dipisahkan dari kesehatan hewan dan kesehatan lingkungan. Semuanya saling berkaitan. Karena itu dokter manusia dan dokter hewan harus saling mendukung,” katanya.
Ia mengungkapkan bahwa perkembangan ilmu kedokteran hewan kini semakin maju dengan hadirnya berbagai layanan spesialis.
Sebagai contoh, saat menjabat Rektor IPB, kampus tersebut telah membuka klinik gigi hingga klinik kulit untuk hewan.
“Kami bahkan memiliki layanan operasi gigi untuk satwa, termasuk harimau. Kalau giginya bermasalah, harus dioperasi agar satwa itu bisa kembali berburu dan bertahan hidup,” jelasnya.
Kemajuan Bangsa Ditentukan Riset dan SDM
Lebih lanjut, Arif menegaskan bahwa kemajuan suatu negara pada masa depan akan sangat ditentukan oleh kekuatan riset, inovasi, serta kualitas sumber daya manusia.
“Fondasi kemajuan teknologi sebuah bangsa hanya bertumpu pada dua hal, yaitu riset dan inovasi (R&D), serta human capital yang berkualitas dan berjiwa entrepreneurship,” tegasnya.
Ia menambahkan, negara yang memiliki indeks inovasi tinggi umumnya juga menikmati pertumbuhan ekonomi yang lebih baik.
Menurutnya, Indonesia memiliki modal besar berupa kekayaan sumber daya alam. Namun, potensi tersebut baru akan memberikan nilai tambah apabila didukung sumber daya manusia unggul dan teknologi yang kuat.
“Kita punya sumber daya alam yang luar biasa. Tetapi negara hanya akan maju jika kekayaan itu dikelola dengan SDM yang kuat dan teknologi yang maju,” ujarnya.
Belajar dari Lompatan Inovasi Tiongkok
Dalam kuliah umum tersebut, Arif mengajak mahasiswa belajar dari keberhasilan Tiongkok yang mampu melakukan lompatan inovasi hanya dalam beberapa dekade.
Ia menyebut jumlah permohonan paten Tiongkok kini telah mencapai sekitar 1,8 juta per tahun, jauh melampaui banyak negara maju. Sementara Indonesia masih berada di kisaran 15 ribu paten.
Meski demikian, Arif optimistis Indonesia mampu mengejar ketertinggalan.
“Yang besar tidak selamanya besar, dan yang kecil tidak selamanya kecil. Sejarah sudah membuktikan itu berkali-kali,” katanya.
Sebagai ilustrasi, ia menampilkan perkembangan industri kendaraan listrik dunia yang menunjukkan bagaimana produsen asal Tiongkok mampu menembus dominasi merek-merek global hanya dalam waktu sekitar lima tahun.
“From zero menjadi hero, dari nobody menjadi somebody. Itu fakta. Sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak mungkin ternyata bisa terjadi,” ungkapnya.
Di akhir kuliah umum, Arif mengajak sivitas akademika untuk tidak berkecil hati terhadap posisi Indonesia saat ini. Menurutnya, kemajuan dapat diraih melalui konsistensi membangun budaya riset, inovasi, dan kolaborasi.
“Jangan pernah berkecil hati. Semua perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten,” tegasnya.
