Indonesiandaily.com – Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya (UB) membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat, mahasiswa, orang tua, alumni, pengguna lulusan, hingga mitra industri untuk memberikan kritik dan masukan terhadap layanan publik. Aspirasi tersebut dihimpun melalui Uji Publik Standar Pelayanan Unit Layanan Terpadu (ULT) sebagai dasar penyusunan Peraturan Dekan (Perdek) terbaru, Jumat (3/7/2026).
Uji publik ini menjadi langkah strategis FSTeM UB dalam memastikan standar pelayanan tidak hanya memenuhi regulasi, tetapi juga menjawab kebutuhan para pemangku kepentingan. Seluruh masukan akan digunakan untuk menyempurnakan standar pelayanan sekaligus mengharmonisasi Peraturan Dekan sebelum ditetapkan.
Dekan FSTeM UB, Prof. Ir. Sukir Maryanto, S.Si., M.Si., Ph.D., menegaskan bahwa uji publik dilakukan sejak awal penyusunan regulasi agar kebijakan yang lahir benar-benar berdasarkan kebutuhan masyarakat.
“Kami memang mencari masukan, kritik, dan saran yang membangun. Mumpung masih di tahap awal penyusunan Peraturan Dekan, sehingga ketika ada hal yang perlu disesuaikan, kita belum telanjur melangkah lebih jauh,” ujarnya.
Pelayanan Harus Memberikan Kepuasan Masyarakat
Menurut Prof. Sukir, pelayanan publik yang berkualitas tidak cukup hanya memenuhi standar administratif, tetapi juga harus mampu memberikan kepuasan kepada masyarakat sebagai pengguna layanan.
“Ketika kita memiliki pelayanan maupun fasilitas, semuanya harus memenuhi standar minimal sekaligus memenuhi kepuasan masyarakat dan para pengguna layanan. Karena itu kami membutuhkan masukan dari luar sebagai bahan introspeksi bagi fakultas,” katanya.
Ia menambahkan, FSTeM UB tengah mempercepat transformasi fakultas tanpa mengabaikan kualitas pelayanan.
“Kami ingin membawa FSTeM melaju lebih cepat, tetapi tidak boleh meninggalkan standar pelayanan kepada masyarakat. Justru dengan uji publik ini kami bisa memastikan seluruh kebijakan berjalan sesuai regulasi, efisien, efektif, sekaligus sesuai harapan stakeholder,” tuturnya.
Kasus SKL Jadi Evaluasi Pelayanan
Dalam forum tersebut, FSTeM UB juga mengangkat berbagai persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Salah satunya permintaan Surat Keterangan Lulus (SKL) dari perusahaan tempat mahasiswa bekerja, sementara mahasiswa tersebut belum menyelesaikan ujian komprehensif.
Menurut Prof. Sukir, kondisi tersebut menjadi pelajaran penting agar layanan administrasi mampu lebih adaptif tanpa keluar dari koridor regulasi.
“Kalau memang diperlukan pelayanan insidental dan masih berada dalam koridor regulasi, tentu bisa kita akselerasi. Dari situ kita belajar bahwa ada kebutuhan masyarakat yang harus kita jemput, bukan hanya menunggu prosedur reguler,” jelasnya.
Ia menilai keterlibatan mahasiswa, orang tua, alumni, pengguna lulusan, dan mitra industri membantu fakultas memahami kebutuhan riil masyarakat sehingga proses bisnis di lingkungan fakultas dapat terus disempurnakan.
Perubahan Nama FSTeM Mulai Diterima
Pada kesempatan itu, Prof. Sukir juga menyinggung perubahan nama fakultas dari FMIPA menjadi FSTeM. Menurutnya, identitas baru tersebut mulai mendapat respons positif dari berbagai kalangan.
“Saya melihat perubahan nama ini mulai diterima. Ketika bertemu berbagai stakeholder di luar UB, mereka memahami bahwa penggunaan nama STEM memang lebih sesuai untuk menggambarkan arah pengembangan fakultas. Harapannya, perubahan mindset masyarakat juga ikut terjadi, bahwa lulusan fakultas ini memiliki peluang karier yang jauh lebih luas,” katanya.
Siapkan Sistem Ticketing dan Chatbot AI
Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Umum, Keuangan, dan Sumber Daya FSTeM UB, Zulfaidah Panata Gama, S.Si., M.Si., Ph.D., mengatakan seluruh masukan hasil uji publik akan menjadi dasar penyempurnaan Standar Operasional Prosedur (SOP) di Unit Layanan Terpadu.
“Kita akan melihat masukan tadi apakah SOP yang ada perlu diperbaiki, termasuk durasi pelayanannya. Kalau sebelumnya membutuhkan lima hari, apakah ke depan bisa dipercepat. Harapannya pelayanan semakin cepat dan seluruh sistem terintegrasi,” ujarnya.
FSTeM UB juga menargetkan penerapan layanan administrasi berbasis sistem ticketing sehingga mahasiswa tidak perlu lagi mengantre di Unit Layanan Terpadu.
“Ke depan cita-citanya mahasiswa tidak perlu antre di ULT. Dari rumah mereka sudah bisa mengajukan ticketing secara daring, mengunggah seluruh persyaratan, kemudian sistem akan memberi jadwal kapan hasilnya bisa diambil. Jadi antrean bisa dihilangkan,” jelasnya.
Layanan Digital Pangkas Proses Administrasi
Transformasi digital sebenarnya telah mulai diterapkan melalui platform sains.ub.ac.id. Salah satu layanan yang telah terdigitalisasi adalah pengurusan surat bebas laboratorium.
Jika sebelumnya mahasiswa harus mendatangi 45 laboratorium dan membutuhkan waktu hampir dua pekan, kini seluruh proses dapat diselesaikan hanya dalam waktu sekitar lima hingga sepuluh menit melalui sistem terintegrasi.
Digitalisasi juga diterapkan pada layanan peminjaman ruangan sehingga jadwal penggunaan ruang dapat dipantau secara real time, mengurangi benturan jadwal, sekaligus meningkatkan transparansi.
Ke depan, FSTeM UB juga akan menghadirkan basis pengetahuan berupa Frequently Asked Questions (FAQ) dan chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk menjawab berbagai pertanyaan mahasiswa secara otomatis.
“Harapannya nanti seperti di tingkat universitas. Mahasiswa cukup mengetik pertanyaan, misalnya bagaimana mengurus legalisir ijazah, lalu chatbot langsung memberikan jawaban. Dengan begitu pekerjaan staf juga menjadi lebih ringan dan respons kepada mahasiswa semakin cepat,” kata Zulfaidah.
Selain itu, kanal pengaduan MIPA Care tetap dimanfaatkan sebagai media penyampaian kritik dan saran. Seluruh laporan dipantau hampir selama 24 jam agar setiap persoalan dapat segera ditindaklanjuti.
Melalui uji publik ini, FSTeM UB berharap mampu membangun budaya pelayanan yang semakin adaptif, transparan, digital, dan berorientasi pada kepuasan masyarakat. Masukan dari seluruh pemangku kepentingan akan menjadi fondasi penyempurnaan regulasi sekaligus memperkuat transformasi pelayanan publik di lingkungan fakultas.
Jika diinginkan, saya juga dapat membuat versi yang lebih ramah SEO untuk media seperti Detik, Kompas, Tribun, lengkap dengan judul utama, meta description, slug URL, dan 5–10 kata kunci.
