Tak Sekadar Penerjemah, Lulusan BSA UIN Malang Dibidik Jadi Diplomat hingga Praktisi Pariwisata

Tak Sekadar Penerjemah, Lulusan BSA UIN Malang Dibidik Jadi Diplomat hingga Praktisi Pariwisata

Indonesiandaily.com – Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang justru memperluas peluang karier lulusannya. Tak hanya mencetak penerjemah profesional, program studi ini membidik lulusan yang mampu bersaing sebagai diplomat, pengajar, praktisi pariwisata, hingga pelaku industri kreatif.

Ketua Prodi BSA UIN Malang, Dr. Abdul Basid, S.S., M.Pd., menegaskan bahwa penerjemahan hanyalah satu dari enam jalur profesi yang dipersiapkan bagi mahasiswa. Seiring meningkatnya kebutuhan tenaga profesional yang menguasai bahasa Arab dan komunikasi lintas budaya, prospek lulusan dinilai semakin terbuka.

“Profesi lulusan BSA tidak hanya menjadi penerjemah. Mereka juga dapat berkarier sebagai diplomat, pengajar, praktisi pariwisata, sineas, dan berbagai profesi lain yang membutuhkan kemampuan bahasa,” ujarnya.

Prospek Karier Semakin Luas

Abdul Basid menjelaskan, penguasaan bahasa Arab kini menjadi nilai tambah di berbagai sektor. Tidak hanya di dunia pendidikan dan keagamaan, tetapi juga pada bidang hubungan internasional. Termasuk pula diplomasi, industri pariwisata, media, hingga ekonomi kreatif.

Karena itu, Prodi BSA terus memperbarui kurikulum agar sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Mahasiswa tidak hanya mempelajari teori kebahasaan, tetapi juga dibekali keterampilan profesional. Yakni melalui praktik lapangan sejak semester lima dan enam.

Untuk memperkuat kompetensi tersebut, kampus turut menghadirkan praktisi dari berbagai bidang sebagai dosen profesional. Langkah ini diharapkan mampu menjembatani kebutuhan industri dengan kompetensi lulusan.

AI Bukan Ancaman, Melainkan Mitra

Pesatnya perkembangan AI memang mengubah industri bahasa. Beragam aplikasi seperti ChatGPT, Google Translate, hingga DeepL kini mampu menerjemahkan teks dalam hitungan detik.

Namun, Abdul Basid menilai teknologi tersebut belum mampu menggantikan kemampuan manusia dalam memahami konteks budaya, nuansa makna, maupun emosi yang terkandung di dalam sebuah teks.

“AI hanya menjadi alat bantu. Makna kontekstual, rasa bahasa, dan interpretasi tetap membutuhkan manusia,” katanya.

Menurutnya, kemampuan tersebut sangat penting ketika menerjemahkan karya sastra, manuskrip kuno. Maupun teks keagamaan yang menuntut ketelitian dan pemahaman budaya secara mendalam.

Alumni Tembus Kementerian hingga Diplomasi

Prospek lulusan BSA tercermin dari kiprah alumninya. Salah satu lulusan pada 2025 berhasil lolos sebagai CPNS penerjemah di Kementerian Agama RI.

Selain itu, tidak sedikit alumni yang berkarier sebagai diplomat, praktisi hubungan internasional. Maupun tenaga profesional di berbagai lembaga yang membutuhkan kemampuan multilingual.

Minat mahasiswa terhadap peminatan penerjemahan juga tetap tinggi. Dalam satu angkatan, peminatan tersebut dapat diikuti sekitar 30 hingga 40 mahasiswa.

Dibekali AI Sekaligus Budaya Akademik

Meski menekankan pentingnya kompetensi manusia, Prodi BSA tidak menutup diri terhadap perkembangan teknologi. Mahasiswa diperkenalkan dengan berbagai platform AI untuk memahami cara kerja, kelebihan, dan keterbatasannya dalam industri bahasa.

Pendekatan tersebut dipadukan dengan budaya akademik yang kuat. Prodi BSA telah mengantongi sertifikasi internasional AUN-QA, akreditasi internasional FIBAA dari Jerman, serta akreditasi Unggul dari BAN-PT.

Tak hanya itu, program studi ini juga dikenal sebagai salah satu Prodi Bahasa dan Sastra Arab paling produktif dalam publikasi ilmiah di Indonesia. Mahasiswa didorong menghasilkan artikel ilmiah, karya sastra, artikel populer, hingga konten digital sebagai bekal menghadapi dunia profesional.

Dengan kombinasi kompetensi bahasa, penguasaan teknologi AI, pengalaman praktik profesi, serta budaya akademik yang kuat, Prodi BSA UIN Maulana Malik Ibrahim Malang optimistis mampu melahirkan lulusan yang adaptif dan berdaya saing global. Mereka tidak hanya siap menjadi penerjemah, tetapi juga tampil sebagai diplomat, pendidik, praktisi pariwisata, hingga profesional di berbagai sektor strategis.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *