Indonesiandaily.com – Universitas Brawijaya (UB) berupaya stop kekerasan di kampus dan menciptakan kampus yang inklusif. Yakni dengan mengenalkan program bernama Rumah Karakter sebagai solusinya. Peresmian Rumah Karakter ini dilakukan langsung oleh Rektor UB Prof. Widodo, Rabu (20/5/2026).
Kepala Unit Pelaksana Teknis Pembinaan Keagamaan dan Pengembangan Kepribadian (UPT PKPK) Mohamad Anas menjelaskan di dalam Rumah Karakter mahasiswa bisa belajar, bercerita. Sekaligus memperkuat nilai-nilai kebangsaan yang toleran di tengah gempuran era disrupsi informasi.
āBukan dengan cara mendikte, melainkan melalui pendekatan yang lebih merangkul dan memahami gaya hidup anak muda masa kini,ā kata Moh Anas di sela sela kegiatan.
Rumah Karakter Diharapkan Lahirkan Budaya Toleran
Pembangunan Rumah Karakter, diharapkan bisa menjadi wadah pembinaan mahasiswa yang berdampak dan mampu melahirkan budaya kampus yang toleran serta berkarakter.
āMelalui wadah baru ini, UB ingin memastikan bahwa setiap mahasiswa memiliki ruang aman untuk berkembang tanpa rasa takut akan diskriminasi atau perundungan,ā katanya.
Selain peluncuran rumah karakter, kegiatan tersebut juga diisi dengan diskusi Kebangsaan bertajuk āMembangun Ekosistem Digital dan Pendidikan Tinggi yang Inklusif, Toleran, dan Anti Kekerasan di Era Disruptifā di Gedung Algoritma Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) UB. Kegiatan ini menjadi momentum penguatan literasi kebangsaan sekaligus peluncuran Rumah Karakter sebagai wadah pembinaan karakter mahasiswa di lingkungan kampus.
Dr. Prisca Kiki Wulandari, S.Pd., M.Sc., yang menjadi moderator mengatakan ruang digital saat ini tidak lagi sekadar menjadi tempat pertukaran informasi, tetapi juga ruang pembentukan sikap sosial dan karakter masyarakat.
āRuang digital bukan hanya tempat informasi, tetapi juga ruang pembentukan sikap sosial dan karakter. Karena itu, kita perlu membangun ruang digital yang sehat, aman, inklusif, toleran, serta bebas dari kekerasan,ā ujarnya dalam laporan pelaksana.
Ia menjelaskan kegiatan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar UB, khususnya melalui UPT PKPK UB, dalam memperkuat literasi kebangsaan di tengah perkembangan era digital yang semakin disruptif. Menurutnya, melalui diskusi tersebut mahasiswa mendapatkan penguatan perspektif akademik sekaligus nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan.
Rektor UB Tekankan Sikap Saling Menghormati
Dalam sesi talkshow, Rektor Prof. Widodo menekankan pentingnya sikap saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari, baik di dunia nyata maupun dunia digital. Ia menilai penghormatan terhadap orang lain merupakan fondasi penting dalam membangun bangsa yang besar.
āKalau kita mau dihargai, kita harus menghargai orang lain. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai antar individu lainnya,ā katanya.
Ia mencontohkan sikap sederhana seperti mematuhi lampu lalu lintas sebagai bentuk penghargaan terhadap hak dan keselamatan orang lain. Menurutnya, perilaku tersebut mencerminkan karakter seseorang dalam kehidupan sosial.
Prof. Widodo juga menyoroti perubahan perilaku masyarakat di era digital. Menurutnya, banyak orang mampu menjaga tutur kata di dunia nyata, tetapi kehilangan empati ketika berada di ruang maya.
āKita sekarang hidup di dua dunia, yaitu dunia nyata dan dunia maya. Ketika berada di dunia nyata, kita punya rem dalam berbicara agar tidak menyakiti orang lain. Namun ketika masuk ke dunia maya, semua bisa keluar tanpa kontrol. Karena itu, kita harus memiliki empati yang sama baik di dunia nyata maupun digital,ā ujarnya.
Ia menambahkan jejak digital kini menjadi bagian dari identitas seseorang. Karakter dan kepribadian seseorang, kata dia, dapat dilihat dari cara berkomunikasi di media sosial.
āSuatu saat ketika lulus, perusahaan juga bisa melihat karakter seseorang dari media sosialnya. Karena itu, etika dan empati di ruang digital menjadi sangat penting,ā tambahnya.
Dalam paparannya, Prof. Widodo juga menyinggung hasil temuan terkait perilaku mahasiswa dalam mengakses informasi digital. Sebanyak 46 persen mahasiswa disebut memilih sumber informasi berdasarkan popularitas, sementara 43,5 persen lainnya berdasarkan kebiasaan. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penguatan literasi digital yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga etis dan kritis.
UB, lanjutnya, mendorong pembangunan ekosistem digital yang berlandaskan enam Pilar Brawijaya, yakni inklusif, religius, humanis, excellent, pionir, dan inovatif.
āMembangun masa depan yang mulia bukan hanya soal kompetensi teknis, tetapi juga karakter dan etika. Negara yang kuat bukan hanya ditentukan presidennya, tetapi masyarakatnya,ā tegasnya.
Pentingnya Kehadiran Mahasiswa dalam Kuliah
Sementara itu, Wakil Rektor III UB Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kewirausahaan Mahasiswa, Setiawan Noerdajasakti menekankan pentingnya kehadiran mahasiswa dalam proses pembelajaran di tengah perkembangan sistem kuliah daring.
Menurutnya, kuliah daring yang berkembang akibat kemajuan teknologi menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa dalam menjaga kedisiplinan dan keterlibatan akademik.
āHadir di kuliah merupakan hal yang penting. Kuliah daring yang berkembang karena teknologi menjadi tantangan yang harus dihadapi mahasiswa,ā ujarnya.
Ia menambahkan mahasiswa juga perlu terus mengembangkan hard skill maupun kemampuan organisasi sebagai bekal menghadapi perubahan zaman. Salah satu bentuk pengembangan tersebut terlihat dalam proses seleksi kepanitiaan PKKMB yang melibatkan ribuan mahasiswa.
āMahasiswa yang mendaftar menjadi panitia PKKMB mencapai 3.374 orang dan setelah diseleksi menjadi sekitar 800 sampai 1.000 orang,ā jelasnya.
Dampak Teknologi harus Diantisipasi
Menurut Dr. Setiawan, dampak perkembangan teknologi digital harus diantisipasi dengan penguatan aktivitas kemahasiswaan yang positif dan inklusif. Karena itu, pihaknya memastikan jajaran kemahasiswaan bersama Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) tingkat universitas maupun fakultas siap menjadi ruang pengembangan minat, bakat, dan karakter mahasiswa.
āYang penting jajaran kemahasiswaan bersama UKM tingkat universitas dan fakultas siap menampung saudara dalam bidang kemahasiswaan,ā katanya.
Melalui Diskusi Kebangsaan dan peluncuran Rumah Karakter tersebut, UB berharap mampu menciptakan ruang aman yang mendorong toleransi, empati, dan penguatan karakter mahasiswa, baik di lingkungan kampus maupun di ruang digital.
