Indonesiandaily.com – Air bisa terlihat melimpah saat hujan turun. Namun, ketika kawasan resapan terus menyempit dan kebutuhan masyarakat meningkat, air perlahan berubah menjadi persoalan yang harus dikelola sejak sekarang.
Kondisi itu menjadi perhatian dalam International Knowledge Sharing World Water Monitoring Day 2026 yang digelar di Malang, Jumat (25/9/2026). Forum tersebut mempertemukan perguruan tinggi dan lembaga riset untuk membahas pentingnya pemantauan serta konservasi sumber daya air.
Rektor Universitas Brawijaya (UB) Prof. Widodo mengatakan persoalan air di Malang semakin relevan seiring pertumbuhan penduduk dan perubahan fungsi lahan.
Menurutnya, kawasan yang sebelumnya berperan sebagai daerah resapan kini sebagian berubah menjadi lahan pertanian dan permukiman. Jika kondisi tersebut tidak diimbangi upaya konservasi, kemampuan alam menyimpan air akan semakin berkurang.
“Air itu sumber kehidupan. Kalau serapannya semakin habis, kita akan menghadapi kekeringan,” kata Widodo.
Ia menilai monitoring air harus menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran sekaligus dasar pengambilan kebijakan. Pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset dan masyarakat perlu memiliki kepedulian yang sama terhadap keberlanjutan sumber daya air.
Bagi UB, kegiatan tersebut juga menjadi momentum memperkuat kolaborasi riset bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), khususnya dalam memahami kondisi sumber daya air di Jawa Timur.
Bukan Sekadar Mengukur Air
Dr Luki Subehi MSc, Head of Research Center for Limnology and Water Resources BRIN, menegaskan monitoring memiliki peran penting karena kondisi sumber daya air setiap wilayah tidak selalu sama.
Pemantauan secara berkelanjutan diperlukan untuk mengetahui karakter suatu wilayah, termasuk perubahan muka air dan kualitas air. Data tersebut kemudian dapat digunakan untuk membaca persoalan sebelum berkembang menjadi ancaman yang lebih besar.
“Monitoring penting untuk melihat karakter daerah tersebut, termasuk tingkat muka air dan kualitas air,” ujar Luki.
Menurut dia, persoalan air juga tidak berdiri sendiri. Ketersediaan air berkaitan erat dengan ketahanan pangan dan energi. Gangguan pada sumber air dapat memberikan dampak berantai terhadap berbagai kebutuhan masyarakat.
Karena itu, pengelolaan air membutuhkan pendekatan lintas sektor dan tidak bisa hanya dibebankan kepada satu lembaga.
DAS Brantas Jadi Perhatian
Luki mengatakan BRIN memiliki perhatian terhadap sejumlah daerah aliran sungai (DAS) yang menghadapi tekanan lingkungan. Salah satu kawasan yang menjadi perhatian di Jawa Timur adalah DAS Brantas.
Kajian terhadap DAS tersebut dapat diperkuat melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi, pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya. Kolaborasi dibutuhkan untuk memetakan kondisi air sekaligus mencari pendekatan pengelolaan yang sesuai dengan karakter masing-masing wilayah.
“Tidak mungkin kami sendiri. Harus bersinergi dengan kampus, pemerintah dan pihak lainnya,” kata Luki.
Ia menambahkan, persoalan DAS kritis memiliki sejumlah indikator yang perlu dilihat secara menyeluruh, mulai dari kondisi kualitas air hingga karakter lingkungan di wilayah tersebut.
Karena itu, monitoring menjadi langkah awal untuk menghasilkan gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi sumber daya air.
Menjaga Air Sebelum Krisis Datang
Persoalan air sering kali baru mendapat perhatian ketika masyarakat mulai menghadapi kekeringan, sungai menyusut atau sumber mata air mengalami penurunan debit.
Padahal, menurut Luki, pemantauan harus dilakukan sebelum persoalan tersebut menjadi krisis.
Hal serupa menjadi perhatian Prof Widodo. Ia menilai perubahan kawasan resapan di Malang perlu menjadi perhatian bersama karena kebutuhan air terus berjalan seiring pertumbuhan masyarakat.
Pesan utama World Water Monitoring Day 2026 pun menjadi sederhana: air bukan hanya sesuatu yang digunakan setiap hari, tetapi sumber kehidupan yang harus dijaga keberlangsungannya.
Monitoring, riset dan konservasi menjadi tiga bagian yang tidak dapat dipisahkan. Dengan mengetahui kondisi air sejak dini, langkah menjaga sumber daya tersebut dapat dilakukan sebelum masyarakat berhadapan dengan dampak yang lebih berat.



