Indonesiandaily.com – Bagi sebagian siswa sekolah dasar, geometri terasa sulit karena harus berhadapan dengan rumus yang abstrak. Di SDN Giripurno 01 Batu, Universitas Brawijaya (UB) mencoba mengubah pengalaman itu melalui sebuah perangkat bernama “Lantai Pintar Geometri”.
Perangkat yang dikembangkan Departemen Matematika FSTeM UB tersebut membuat siswa tidak hanya menghafal rumus luas dan keliling, tetapi belajar dengan cara mencoba, memindahkan, dan melihat langsung perubahan bentuk bangun geometri.
Dalam kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM), siswa mendapat kesempatan berinteraksi langsung dengan alat berbasis Arduino tersebut. Respons visual dan suara membuat proses belajar terasa seperti permainan, sekaligus membantu siswa memahami konsep yang sebelumnya sulit dibayangkan.
Salah satu bagian penting terdapat pada mode transformasi. Siswa dapat mengubah susunan ubin menjadi bentuk berbeda, kemudian melihat bahwa perubahan bentuk tidak otomatis mengubah jumlah satuan luasnya.
Cara belajar semacam ini membantu menjembatani konsep matematika dengan pengalaman konkret. Siswa tidak sekadar mengetahui bahwa luas segitiga memiliki rumus tertentu, tetapi diajak memahami dari mana konsep tersebut berasal.
Dampaknya juga dirasakan guru. Sebanyak 10 guru dan kepala sekolah mendapat kesempatan mencoba perangkat sekaligus mempelajari cara penggunaannya dalam pembelajaran matematika.
Lantai Pintar Geometri memiliki tujuh mode pembelajaran, mulai dari eksplorasi bebas, keliling, alas dan tinggi, stensil, target luas, target keliling hingga transformasi.
Setelah kegiatan, perangkat tersebut diserahkan kepada SDN Giripurno 01 Batu oleh Ketua Tim PKM Dr. Sa’adatul Fitri, M.Sc. Harapannya, inovasi tersebut tidak berhenti sebagai alat peraga, tetapi terus digunakan untuk membantu siswa membangun pemahaman matematika melalui pengalaman yang lebih konkret dan menyenangkan.
Kolaborasi UB dan sekolah dasar ini menunjukkan bahwa teknologi pembelajaran tidak selalu harus rumit. Ketika dirancang sesuai kebutuhan siswa, teknologi dapat menjadi jembatan untuk membuat pelajaran yang semula abstrak terasa lebih dekat dengan kehidupan mereka.



