20 Tahun ROG, Laptop Gaming Kini Jadi Senjata Kreator hingga Mahasiswa

20 Tahun ROG, Laptop Gaming Kini Jadi Senjata Kreator hingga Mahasiswa

Indonesiandaily.com – Dua layar dalam satu laptop, bobot hanya sekitar 1,2 kilogram, hingga kemampuan AI yang bisa bekerja tanpa koneksi internet. Perkembangan perangkat komputasi membuat laptop gaming kini tak lagi hanya identik dengan permainan.

Hal itu tergambar dalam peringatan 20 tahun Republic of Gamers (ROG), lini gaming ASUS, yang menghadirkan teknologi untuk kebutuhan yang semakin beragam, termasuk gaming, kreativitas, pekerjaan profesional hingga aktivitas mahasiswa.

Product Marketing ASUS Indonesia, Vania Margonoharto, mengatakan perjalanan ROG selama dua dekade dibangun dengan semangat menghadirkan inovasi yang tidak berhenti pada peningkatan spesifikasi.

“ROG setiap tahun selalu berusaha menjadi yang pertama, terbaik, dan paling inovatif,” kata Vania.

Menurutnya, DNA tersebut berangkat dari semangat ASUS untuk terus mencari sesuatu yang luar biasa. Karena itu, inovasi menjadi salah satu fondasi utama ROG dalam mengembangkan perangkat.

Namun, teknologi tidak hanya soal seberapa tinggi spesifikasi yang ditawarkan. Vania menilai kebutuhan pengguna juga semakin beragam sehingga perangkat harus mampu mengikuti cara kerja dan aktivitas masing-masing.

“Setiap orang punya cara berbeda dalam bermain dan bekerja. ROG berusaha menjawab kebutuhan itu,” ujarnya.

Laptop yang mencoba menggantikan dua perangkat 

Salah satu pendekatan tersebut terlihat pada ROG Zephyrus Duo. Laptop ini membawa konsep dua layar dalam satu perangkat, sehingga pengguna dapat melakukan pekerjaan multitasking tanpa harus membawa monitor tambahan.

Layar kedua juga mendukung sentuhan. Bagi kreator maupun profesional, konsep ini membuka ruang kerja yang lebih fleksibel ketika harus menjalankan beberapa aplikasi sekaligus.

Menariknya, kemampuan tersebut dikemas dalam perangkat dengan bobot sekitar 1,2 kilogram, meski membawa komponen berperforma tinggi.

Vania menyebut kemampuan tersebut sebagai bagian dari keberanian ROG bereksperimen dengan desain dan rekayasa perangkat.

“Poinnya bukan sekadar flexing, tetapi bagaimana ROG menciptakan produk yang membuat pengguna lebih nyaman dan produktif,” jelasnya.

Konsep itu memperlihatkan perubahan fungsi laptop gaming. Perangkat yang sebelumnya identik dengan aktivitas hiburan kini dapat digunakan untuk mengerjakan tugas kuliah, membuat konten, mengolah desain hingga pekerjaan profesional.

Dari gamer hingga mahasiswa 

Ekosistem ROG sendiri tidak hanya terdiri dari satu jenis perangkat. ASUS menghadirkan sejumlah lini, mulai ROG Strix, ROG Zephyrus, ROG Flow hingga ROG Ally yang merupakan perangkat handheld gaming.

ROG Ally bahkan dapat dihubungkan dengan monitor dan digunakan layaknya komputer berukuran mini. Fleksibilitas tersebut membuat perangkat gaming semakin dekat dengan kebutuhan produktivitas sehari-hari.

Vania mencontohkan penggunaan handheld gaming yang tidak berhenti pada bermain gim. Perangkat tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan pekerjaan akademik.

“Punya handheld gaming untuk mengerjakan skripsi juga bisa,” katanya.

Di segmen yang lebih terjangkau, ASUS juga menghadirkan lini ASUS Gaming yang menyasar pelajar dan mahasiswa. Perangkat tersebut dibekali antara lain GPU RTX, layar dengan cakupan warna 100 persen sRGB serta sistem pendingin dual fan.

AI mulai masuk ke aktivitas sehari-hari 

Perubahan lainnya terlihat dari integrasi kecerdasan buatan dalam ekosistem perangkat ASUS.

Salah satunya melalui ASUS Omni, asisten virtual berbasis AI yang dapat berjalan secara offline. Teknologi ini dirancang untuk membantu pengguna melakukan berbagai aktivitas, mulai dari menjawab pertanyaan hingga mengolah dokumen.

ASUS Omni juga dibekali fitur untuk membantu proses transkripsi dan merangkum dokumen. Dengan kemampuan tersebut, AI tidak hanya ditempatkan sebagai fitur tambahan, tetapi mulai diarahkan menjadi bagian dari aktivitas kerja pengguna.

Bagi mahasiswa, kreator maupun pekerja profesional, kehadiran fitur semacam ini dapat memangkas sejumlah pekerjaan repetitif sehingga waktu dapat dialihkan untuk aktivitas yang membutuhkan kreativitas dan pengambilan keputusan.

Dua dekade perjalanan ROG akhirnya tidak hanya berbicara tentang bagaimana membuat laptop semakin bertenaga. Perkembangan tersebut menunjukkan arah baru perangkat teknologi: semakin ringkas, fleksibel, personal, dan mampu membantu manusia menyelesaikan lebih banyak pekerjaan.

Di titik itu, gaming dan produktivitas tidak lagi selalu berada di dua dunia yang berbeda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *