Baru Semester 1, Mahasiswa Vokasi UB Ciptakan Wayang Digital yang Bisa Dimainkan dengan Gerakan Tangan

Baru Semester 1, Mahasiswa Vokasi UB Ciptakan Wayang Digital yang Bisa Dimainkan dengan Gerakan Tangan

Indonesiandaily.com – Melestarikan budaya tradisional tidak selalu harus dilakukan dengan cara konvensional. Teknologi digital justru bisa menjadi jembatan agar kesenian warisan bangsa lebih mudah dikenal dan dimainkan generasi muda.

Gagasan tersebut diwujudkan Haikal Muhammad Ar-rabani, mahasiswa semester pertama Program Studi Sarjana Terapan (DIV) Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak (TRPL) Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya (UB). Ia mengembangkan Wayang Vokasi UB, sebuah website interaktif yang memungkinkan siapa saja memainkan wayang kulit hanya dengan menggerakkan tangan di depan kamera.

Inovasi yang dikembangkan di bawah bimbingan dosen Rachmad Andri Atmoko, S.ST., M.T. itu diperkenalkan kepada publik melalui DIPA MediaArt Festival 2026 di Gazebo Raden Wijaya Universitas Brawijaya, Malang, Selasa (27/10/2026).

Kehadiran Wayang Vokasi UB menawarkan pengalaman baru dalam menikmati seni pertunjukan tradisional. Pengunjung tidak perlu menguasai teknik mendalang atau menggunakan perangkat panggung khusus. Cukup berdiri di depan webcam, gerakan tangan dan jari akan diterjemahkan menjadi gerakan tokoh wayang di layar monitor.

Cukup Gerakkan Tangan, Wayang Langsung Bergerak

Berbeda dengan pertunjukan wayang kulit konvensional yang membutuhkan keterampilan khusus, aplikasi ini dirancang agar lebih mudah dimainkan oleh masyarakat, termasuk anak-anak dan generasi muda.

Sistem bekerja dengan menangkap gerakan tangan melalui kamera. Teknologi MediaPipe kemudian mendeteksi titik-titik sendi tangan secara langsung. Data tersebut diteruskan menggunakan protokol WebSocket untuk menggerakkan bagian tubuh dan lengan dua tokoh wayang yang tampil di layar.

Menariknya, masing-masing tangan pengguna mengendalikan satu tokoh wayang. Aplikasi ini juga menyediakan dua pilihan tampilan, yakni wayang berwarna dengan ornamen emas, merah, dan biru serta mode siluet bayangan yang menyerupai pertunjukan wayang kulit.

Seluruh sistem dijalankan melalui komputer lokal menggunakan mini PC sehingga tidak membutuhkan perangkat sensor tambahan yang harus dikenakan pengguna.

Bagi Haikal, membuat wayang dapat bergerak saja belum cukup. Ia juga harus memastikan setiap gerakan tangan diterjemahkan dengan lancar agar pengalaman pengguna terasa alami.

“Setelah diuji pada beberapa perangkat, saya menyadari bahwa kelancaran respons gerakan sangat menentukan kenyamanan pengguna saat mencoba memainkan wayang tersebut,” ujar Haikal.

Ia sempat menghadapi kendala animasi yang bergerak patah-patah akibat beban pemrosesan deteksi tangan dan tampilan grafis yang berjalan bersamaan di peramban.

Untuk mengatasinya, Haikal memisahkan proses pendeteksian gerakan tangan dari sistem tampilan. Keduanya kemudian dihubungkan melalui WebSocket sehingga aliran data lebih stabil dan gerakan wayang menjadi responsif.

“Ke depannya, saya juga terus menyempurnakan algoritma pemetaan sendi agar gerakan lengan wayang bisa lebih luwes mendekati gerakan wayang kulit asli,” katanya.

Belajar Rekayasa Perangkat Lunak dari Persoalan Nyata

Pengembangan Wayang Vokasi UB juga memperlihatkan bagaimana pembelajaran berbasis proyek dapat memberikan pengalaman praktis kepada mahasiswa sejak awal perkuliahan.

Haikal tidak hanya belajar menyusun kode program. Ia terlibat dalam perancangan antarmuka, integrasi teknologi pengolahan citra, komunikasi data waktu nyata, hingga pengujian perangkat saat dipamerkan kepada masyarakat.

Dosen pembimbing Rachmad Andri Atmoko menjelaskan, proyek tersebut dirancang agar mahasiswa terbiasa menghadapi persoalan teknis secara langsung, bukan sekadar memahami teori pemrograman di ruang kelas.

“Proyek ini menjadi sarana pembelajaran langsung bagi mahasiswa sejak semester pertama untuk tidak hanya memahami teori pemrograman di ruang kelas, tetapi juga merancang arsitektur sistem yang utuh,” jelas Rachmad.

Menurut dia, penggabungan teknologi computer vision dengan komunikasi data real-time melatih mahasiswa memahami keterkaitan berbagai komponen dalam sebuah sistem.

Pengalaman menguji karya di hadapan pengunjung pameran juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengetahui bagaimana teknologi yang dikembangkan bekerja ketika digunakan secara langsung.

Teknologi untuk Mendekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Lebih dari sekadar demonstrasi kemampuan pemrograman, Wayang Vokasi UB membuka peluang pemanfaatan teknologi sebagai media pengenalan budaya tradisional.

Rachmad menilai rekayasa perangkat lunak memiliki ruang penerapan yang luas, termasuk untuk mendukung pelestarian kesenian daerah. Karena itu, inovasi semacam ini perlu terus dikembangkan agar memiliki manfaat edukatif yang lebih besar.

Ia berharap Wayang Vokasi UB dapat disempurnakan melalui peningkatan kelenturan animasi, penambahan variasi tokoh, hingga pengembangan lakon yang bisa dimainkan pengguna.

“Harapannya, sistem Wayang Vokasi UB ini dapat terus disempurnakan sehingga siap dimanfaatkan sebagai media edukasi interaktif di sekolah-sekolah maupun pameran teknologi,” tambahnya.

Karya Haikal menunjukkan bahwa upaya merawat budaya tidak harus berhenti pada pengenalan tradisi secara turun-temurun. Pendekatan teknologi dapat menghadirkan cara baru agar generasi muda lebih dekat dengan warisan budaya bangsa.

Bahkan, melalui proyek yang dikembangkan sejak semester pertama, mahasiswa Vokasi UB tersebut memperlihatkan bahwa keahlian rekayasa perangkat lunak dapat menghasilkan karya yang tidak hanya bernilai teknis, tetapi juga memiliki manfaat bagi pendidikan dan pelestarian budaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *