Indonesiandaily.com – Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang memperkuat kualitas pelayanan akademik dan kemahasiswaan melalui pelatihan kepemimpinan dan pelayanan prima bagi tenaga kependidikan (tendik).
Kegiatan bertajuk Leadership in Service Excellence: Membangun Budaya Pelayanan ini diselenggarakan Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama (AAKK) selama dua hari, Kamis-Jumat (29-30/10/2026). Pelatihan tersebut melibatkan tenaga kependidikan di lingkungan Biro AAKK.
Penguatan kapasitas ini diarahkan untuk membangun budaya kerja yang lebih komunikatif, responsif, dan solid. Sebab, kualitas pelayanan kepada mahasiswa tidak hanya ditentukan kemampuan teknis, tetapi juga sikap, koordinasi, dan kesamaan pemahaman antarpetugas.
Kepala Biro AAKK UIN Malang, Ita Hidayatus Sholihah, S.Ag., M.M., mengatakan keselarasan komunikasi menjadi salah satu kunci agar seluruh bagian pelayanan dapat bekerja secara efektif.
“Mensinkronkan frekuensi antar-tim itu sangat dibutuhkan. Ibarat radio, kalau frekuensinya tidak jelas, suaranya juga akan buruk dan tidak jelas,” ujarnya.
Menurut Ita, tenaga kependidikan Biro AAKK memiliki peran strategis karena berhadapan langsung dengan mahasiswa dalam berbagai urusan. Mulai dari administrasi akademik, kemahasiswaan, admisi, hingga layanan pendukung lainnya.
Karena itu, setiap unit perlu memiliki pemahaman yang sama mengenai standar dan tujuan pelayanan. Seluruh proses tersebut juga harus mendukung pencapaian indikator kinerja utama (IKU) universitas.
“Saya berharap ilmu yang diperoleh dari pelatihan ini bisa diimplementasikan dalam bentuk layanan prima kepada mahasiswa sebagai stakeholder kita,” tegasnya.
Lima Prinsip Membangun Pelayanan Prima
Dalam pelatihan tersebut, trainer dan motivator profesional Al Hasan Abdullah Alkaff, SH., S.Pd., MAP., CHt., CI CET, mengajak peserta memahami bahwa pelayanan berkualitas tidak cukup bertumpu pada keterampilan administratif.
Menurutnya, karakter dan pola pikir petugas turut menentukan pengalaman masyarakat yang menerima layanan. Ia memperkenalkan lima prinsip yang perlu diterapkan dalam lingkungan kerja.
Pertama, membangun keterbukaan dengan bersedia menerima informasi, mendengarkan masukan, serta memahami kebutuhan orang lain. Kedua, menjaga pikiran dan sikap positif agar komunikasi serta hubungan antarpegawai tetap terpelihara.
Ketiga, menerapkan prinsip 3T, yakni taat kepada Allah dan Rasul-Nya, tunduk pada aturan tempat kerja, serta tawadhuk atau rendah hati. Prinsip ini dinilai penting untuk membangun kedisiplinan sekaligus hubungan kerja yang sehat.
Keempat, berani bertanya ketika menghadapi keraguan. Al Hasan mengingatkan bahwa komunikasi terbuka dapat mencegah kesalahpahaman dalam menjalankan tugas.
“Bertanya itu menjadi kunci untuk memahami sesuatu yang masih ada keraguan,” pesannya.
Kelima, membiasakan diri fokus pada solusi, bukan memperbesar persoalan. Setiap kendala pekerjaan perlu disikapi dengan mencari jalan keluar, disertai upaya menjaga keharmonisan dan menghindari sikap iri maupun dengki.
Pengalaman Mahasiswa Jadi Ukuran Pelayanan
Melalui pelatihan ini, Biro AAKK UIN Malang berharap tenaga kependidikan mampu menerapkan prinsip pelayanan prima dalam pekerjaan sehari-hari.
Penguatan tersebut menjadi penting karena pelayanan kampus tidak berhenti pada kecepatan menyelesaikan dokumen atau memenuhi kebutuhan administratif. Cara petugas berkomunikasi, memberikan penjelasan, dan membantu mahasiswa juga menjadi bagian dari kualitas layanan.
Dengan koordinasi yang lebih baik dan sikap kerja yang positif, UIN Malang berharap mahasiswa memperoleh pengalaman pelayanan yang lebih nyaman, responsif, dan manusiawi.



