Indonesiandaily.com – Pengalaman belajar di luar negeri tidak selalu tentang mengenal budaya baru atau memperluas jaringan internasional. Bagi Moh Faiz dan Meisa Rahmawati, kunjungan akademik ke Singapura justru menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dalam warisan intelektual Indonesia melalui pemikiran sastrawan besar Asrul Sani.
Dua mahasiswa Program Studi Sastra Inggris Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tersebut mengikuti forum internasional Bicara Karya: Gelanggang Asrul Sani, Mendalami Zaman dan Kemanusiaan Mengilhami di National Library Building, Singapura, Sabtu (31/10/2026).
Kegiatan itu menjadi bagian dari peringatan 100 tahun kelahiran Asrul Sani yang melibatkan National Library Board (NLB), Department of Malay Studies National University of Singapore (NUS), Majlis Bahasa Melayu Singapura, dan Sahabat Sastera.
Keikutsertaan Faiz dan Meisa merupakan bagian dari program Humaniora International Student Mobility and Academic Sharing (I-SMASH) 2026. Melalui forum tersebut, keduanya berkesempatan menyimak diskusi akademik mengenai karya, pemikiran, serta kontribusi Asrul Sani terhadap perkembangan sastra dan kebudayaan Indonesia.
Salah satu pembahasan yang menarik perhatian mereka adalah materi bertajuk Asrul Sani, Seorang Eseis yang Berani. Diskusi tersebut membuka perspektif baru tentang keberanian intelektual seorang sastrawan dalam menyampaikan kritik terhadap persoalan sosial dan politik melalui tulisan maupun ekspresi kebudayaan.
Bagi keduanya, pengalaman itu memberikan pemahaman bahwa sastra bukan sekadar karya estetis. Sastra juga dapat menjadi medium untuk membaca realitas, menyampaikan kritik, dan merekam persoalan kemanusiaan dalam suatu zaman.
Menemukan Kembali Kekayaan Intelektual Indonesia
Salah satu hal yang membekas bagi Faiz dan Meisa adalah kenyataan bahwa pemikiran tokoh sastra Indonesia mendapat perhatian dalam forum akademik internasional di Singapura.
Sebelumnya, mereka lebih banyak mengenal Asrul Sani sebagai salah satu tokoh penting Angkatan ’45. Namun, diskusi tersebut memperluas pemahaman mereka mengenai peran Asrul Sani sebagai eseis dan pekerja kebudayaan.
Pengalaman ini sekaligus menyadarkan keduanya bahwa warisan intelektual Indonesia memiliki relevansi untuk terus dibaca dan diperbincangkan lintas negara.
Sebagai mahasiswa Sastra Inggris, Faiz dan Meisa juga menemukan keterkaitan antara materi forum dengan pembelajaran di bangku kuliah. Teori kritik sastra, sejarah sastra, serta hubungan antara teks dan masyarakat ternyata dapat digunakan untuk memahami berbagai tradisi kesusastraan, termasuk sastra Indonesia.
Mereka melihat bahwa kemampuan mempelajari karya sastra asing seharusnya berjalan beriringan dengan pemahaman terhadap kekayaan sastra sendiri.
Meski demikian, mengikuti diskusi mengenai pemikiran Asrul Sani bukan tanpa tantangan. Sejumlah materi membutuhkan pemahaman tentang sejarah politik, perkembangan kebudayaan, dan dinamika kesusastraan Indonesia.
Untuk mengikutinya, keduanya berusaha menghubungkan penjelasan para panelis dengan teori kritik sastra yang telah dipelajari. Pengalaman tersebut justru mendorong mereka memperluas bacaan dan memperdalam pemahaman terhadap konteks sejarah karya sastra.
Belajar Melampaui Batas Negara
Forum di Singapura juga memperlihatkan bagaimana karya dan pemikiran sastrawan Indonesia menjadi bagian dari percakapan intelektual di kawasan Asia Tenggara.
Bagi Faiz dan Meisa, sastra tidak mengenal batas geografis. Karya dapat melintasi negara, bahasa, dan generasi melalui kegiatan membaca, penelitian, penerjemahan, serta diskusi akademik.
Pengalaman tersebut memperkuat kesadaran bahwa internasionalisasi pendidikan bukan berarti meninggalkan identitas kebudayaan sendiri. Sebaliknya, perjumpaan dengan lingkungan akademik internasional dapat menjadi ruang untuk mengenali kembali kekayaan intelektual bangsa.
Sebagai mahasiswa semester VII yang tengah mempersiapkan penelitian, keduanya berencana memperluas kajian mengenai karya dan pemikiran Asrul Sani. Mereka juga ingin membagikan pengalaman tersebut kepada mahasiswa lain. Agar semakin tertarik mengikuti forum sastra dan kegiatan akademik lintas negara.
Pengalaman Faiz dan Meisa menjadi salah satu gambaran tujuan program I-SMASH 2026 Fakultas Humaniora UIN Malang. Mahasiswa tidak hanya memperoleh kesempatan belajar di luar negeri, tetapi juga diajak mengembangkan perspektif akademik. Sekaligus memperkuat apresiasi terhadap warisan kebudayaan Indonesia.
Dari Singapura, keduanya membawa pelajaran bahwa memahami dunia yang semakin luas. juga membutuhkan pemahaman mendalam terhadap pemikiran dan karya intelektual bangsanya sendiri.



