Indonesiandaily.com – Tekanan akademik, tuntutan organisasi, persoalan relasi hingga kebiasaan membandingkan diri di media sosial membuat kesehatan mental menjadi persoalan yang semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa.
Persoalan tersebut menjadi sorotan dalam Bedah Buku Buku Panduan Literasi Kesehatan Mental untuk Mahasiswa yang digelar UB Press, Rabu (2/9/2026).
Buku karya Ulifa Rahma, S.Psi., M.Psi., Psikolog dan Dr. Unita Werdi Rahajeng, S.Psi., M.Psi., Psikolog itu dibedah di Ruang Pertemuan 2, Gedung Perpustakaan Universitas Brawijaya (UB).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Creative Book Fair 2026 yang berlangsung di Gazebo Perpustakaan UB.
Ulifa mengatakan, literasi kesehatan mental tidak berhenti pada kemampuan mengenali gangguan psikologis. Mahasiswa juga perlu memiliki kemampuan memahami kondisi dirinya dan menentukan respons yang tepat ketika menghadapi tekanan.
“Mahasiswa perlu mengenali stres yang dialami dan memahami cara meresponsnya,” ujar Ulifa, yang juga Kepala Subdirektorat Konseling, Pencegahan Kekerasan Seksual dan Perundungan.
Menurutnya, kemampuan tersebut mencakup kesadaran terhadap diri sendiri, pengelolaan emosi, self-care, komunikasi sehat, membangun relasi, hingga mengenali tanda-tanda ketika kondisi mental mulai membutuhkan perhatian.
Mahasiswa juga perlu mengetahui kapan harus menghadapi persoalan secara mandiri dan kapan membutuhkan bantuan profesional.
Stres Tak Selalu Berarti Buruk
Salah satu persoalan yang dibahas dalam buku tersebut adalah cara mahasiswa memandang stres.
Ulifa menjelaskan, stres tidak selalu identik dengan sesuatu yang buruk. Dalam konteks tertentu, tekanan justru dapat menjadi energi untuk mendorong seseorang menghadapi tantangan.
Buku tersebut membedakan stres menjadi distress dan eustress. Distress muncul ketika tekanan terasa terlalu berat dan memberikan dampak negatif.
Sebaliknya, eustress merupakan tekanan yang masih dapat dikelola dan justru mendorong seseorang bergerak menghadapi tantangan.
Karena itu, mahasiswa perlu mengenali bentuk stres yang dialami, termasuk memahami emosi yang muncul tanpa langsung memberikan penilaian negatif terhadap diri sendiri.
Menerima emosi, kata Ulifa, bukan berarti menyerah terhadap keadaan. Justru, hal itu menjadi bagian dari proses memahami diri sebelum menentukan langkah yang tepat.
Jangan Mudah Melabeli Diri
Sementara itu, Unita mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah menggunakan istilah psikologis untuk menjelaskan seluruh persoalan hidup.
Istilah seperti fatherless dan inner child, menurutnya, tidak semestinya otomatis dijadikan penyebab utama seseorang mengalami persoalan psikologis.
Setiap individu memiliki latar belakang, pengalaman dan kondisi yang berbeda. Karena itu, persoalan kesehatan mental perlu dipahami secara utuh, bukan melalui satu label semata.
Unita juga menyinggung fase emerging adulthood yang dialami banyak mahasiswa. Pada fase ini, seseorang mulai dituntut mandiri secara emosional dan finansial, tetapi belum selalu sepenuhnya mampu melepaskan ketergantungan kepada orang tua.
Situasi tersebut dapat menjadi tekanan tersendiri ketika tuntutan untuk mandiri tidak sejalan dengan kondisi yang dihadapi.
Media Sosial dan Perangkap Membandingkan Diri
Tekanan kesehatan mental mahasiswa juga muncul dari sesuatu yang sangat dekat dengan keseharian mereka: media sosial.
Dalam sesi tanya jawab, seorang mahasiswi mengungkapkan dirinya sering merasa tertinggal setelah melihat aktivitas dan pencapaian teman-temannya di media sosial.
Persoalan itu bahkan membuatnya merasa bersalah ketika beristirahat. Ia merasa harus terus produktif agar tidak kalah dari orang lain.
Ulifa menilai kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang memiliki standar penilaian diri yang tidak realistis.
“Dengan adanya media sosial, perbandingan diri menjadi kurang objektif karena kita tidak mengetahui latar belakang kehidupan orang lain,” jelasnya.
Unita kemudian mendorong mahasiswa mengubah cara mengukur keberhasilan. Bukan dengan melihat seberapa jauh orang lain melangkah, tetapi dengan melihat perkembangan dirinya sendiri.
“Bandingkan diri kita yang sekarang dengan diri kita di masa lalu. Pasti ada peningkatan dan pencapaian yang sudah kita lakukan,” tuturnya.
Pesan utama yang muncul dari diskusi tersebut sederhana, tetapi penting: menjaga kesehatan mental bukan sekadar menunggu sampai mengalami gangguan psikologis.
Mahasiswa perlu belajar mengenali dirinya, memahami tekanan, mengelola emosi, menjaga relasi, serta mengetahui sumber bantuan ketika persoalan tidak lagi mampu dihadapi sendiri.
Melalui bedah buku tersebut, UB Press tidak hanya memperkenalkan sebuah buku. Forum itu juga membuka percakapan mengenai kesehatan mental sebagai bagian dari keterampilan hidup mahasiswa di tengah tuntutan akademik, sosial dan perubahan menuju kedewasaan.



