FIKSFAR UMM Tak Sekadar Cetak Tenaga Kesehatan, Dorong Mahasiswa Jadi Solution Partner Masyarakat

FIKSFAR UMM Tak Sekadar Cetak Tenaga Kesehatan, Dorong Mahasiswa Jadi Solution Partner Masyarakat

Indonesiandaily.com – Fakultas Ilmu Kesehatan dan Farmasi (FIKSFAR) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mulai mengarahkan pendidikan kesehatan pada peran yang lebih luas. Mahasiswa tidak hanya dipersiapkan menguasai ilmu, tetapi juga mampu menghadirkan solusi bagi persoalan kesehatan di tengah masyarakat.

Gagasan tersebut disampaikan Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik saat membuka rangkaian Safari Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) di FIKSFAR UMM, Rabu (9/9/2026).

Nazaruddin mengatakan, perguruan tinggi tidak boleh berhenti sebagai tempat belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Kampus harus mampu menjadi mitra yang memberikan solusi konkret bagi masyarakat.

“UMM bukan sekadar belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Sekarang waktunya memberi solusi kepada masyarakat, khususnya di bidang kesehatan dan kefarmasian,” tegasnya.

Menurutnya, konsep tersebut diarahkan untuk menjadikan institusi pendidikan sebagai solution partner bagi masyarakat. Pendekatan ini dinilai penting agar perguruan tinggi semakin dekat dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Nazaruddin juga menyambut mahasiswa baru FIKSFAR. Ia mendorong mahasiswa menikmati proses perkuliahan, memperluas pergaulan, bekerja keras, serta tetap membangun kehidupan spiritual.

“Selamat bergabung, selamat belajar, selamat mencipta cita-cita setinggi-tingginya. Selamat berdoa, salat, bekerja keras dan berinteraksi. Jangan kurang bergaul,” pesannya.

Kembangkan Keilmuan dan Program Studi

Dekan FIKSFAR UMM Dr. apt. Hidajah Rachmawati, S.Si., Sp.FRS mengatakan, pengembangan keilmuan menjadi salah satu fokus fakultas ke depan.

FIKSFAR saat ini menaungi tiga bidang utama, yakni keperawatan, farmasi dan fisioterapi. Masing-masing juga memiliki jalur pendidikan profesi.

“Kalau keperawatan profesinya nurse, farmasi profesinya apoteker, sedangkan fisioterapi profesinya fisioterapis,” jelasnya.

Hidajah menyebut pengembangan tidak akan berhenti pada tiga bidang tersebut. Fakultas terus menyiapkan pengembangan keilmuan dan penambahan bidang kesehatan serta farmasi sesuai kebutuhan masyarakat.

Ia juga mengungkapkan salah satu agenda pengembangan yang tengah dipersiapkan adalah peluncuran program terkait terapi infus pada 2027.

Menurutnya, pengembangan tersebut merupakan bagian dari upaya FIKSFAR memperkuat ekosistem pendidikan kesehatan yang tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga praktik dan kebutuhan layanan.

Green and Clean Jadi Bagian Pendidikan Mahasiswa

Safari Pesmaba FIKSFAR juga membawa pesan tentang kepedulian terhadap lingkungan. Konsep green and clean diterapkan dalam rangkaian kegiatan mahasiswa baru.

Hidajah mengatakan, penggunaan plastik diminimalkan. Mahasiswa juga diarahkan membawa tumbler serta menggunakan wadah makanan yang dapat digunakan kembali.

“Green and clean. Hari ini kami menggunakan warna hijau dan meminimalkan penggunaan plastik. Adik-adik juga belajar menggunakan tumbler dan wadah makanan tanpa plastik,” ujarnya.

Menurutnya, kebiasaan tersebut bukan sekadar konsep dalam kegiatan Pesmaba. Nilai kepedulian lingkungan diharapkan menjadi bagian dari karakter mahasiswa selama menjalani pendidikan di FIKSFAR.

Siapkan Lulusan Tembus Pasar Kerja Global

FIKSFAR UMM juga menjadikan peluang kerja internasional sebagai salah satu keunggulan yang terus dikembangkan.

Hidajah menyebut mahasiswa dan alumni memiliki peluang mengembangkan karier di sejumlah negara. Program tersebut antara lain membuka akses ke Jepang, Jerman, Austria, Belanda hingga negara-negara di kawasan Timur Tengah.

Untuk Jerman, program penempatan lulusan telah memasuki tahun kedua. Namun, prosesnya tidak mudah karena peserta harus memenuhi standar kompetensi dan kemampuan bahasa yang tinggi.

Dari sekitar 20 peserta yang dipersiapkan, sebanyak sembilan orang akhirnya diberangkatkan.

“Bahasa Jerman memang sulit. Standarnya juga tinggi, khususnya untuk bidang kesehatan,” ungkapnya.

Karena itu, FIKSFAR bersama UMM mulai memperkuat pembekalan bahasa asing sejak mahasiswa masih menempuh pendidikan sarjana.

Melalui program Foreign Language for Students (FLSP), mahasiswa nantinya dapat memilih bahasa yang sesuai dengan tujuan kariernya. Tidak hanya bahasa Inggris, mahasiswa juga dapat mempersiapkan kemampuan bahasa Jerman sejak masa kuliah.

“Kalau sejak S1 mahasiswa sudah tertarik bekerja di Jerman, maka bisa mengambil bahasa Jerman melalui FLSP. Jadi persiapannya sudah dikawal sejak awal,” katanya.

Program internasional tersebut menjadi salah satu pembeda FIKSFAR. Mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk bersaing di pasar kerja nasional, tetapi juga dipersiapkan memenuhi standar kompetensi global.

Perkuat Keunggulan Masing-Masing Prodi

Hidajah menambahkan, setiap program studi FIKSFAR memiliki karakter keunggulan masing-masing.

Keperawatan diarahkan kuat pada pelayanan kesehatan, khususnya pelayanan primer. Sementara fisioterapi dikembangkan tidak hanya untuk pelayanan primer, tetapi juga bidang olahraga.

Sejumlah alumni fisioterapi bahkan telah berkiprah bersama klub olahraga dan tim nasional.

Untuk farmasi, mahasiswa dibekali kompetensi yang membuka peluang karier di berbagai sektor. Selain industri dan rumah sakit, lulusan juga didorong memiliki kemampuan kewirausahaan, termasuk membuka apotek secara mandiri.

“Cakupannya luas. Bisa di industri, rumah sakit, maupun membuka usaha sendiri,” jelasnya.

Dengan penguatan kompetensi tersebut, FIKSFAR ingin memastikan mahasiswa memiliki lebih banyak pilihan setelah lulus.

Bukan hanya menjadi tenaga kesehatan, mereka juga dipersiapkan menjadi profesional yang mampu menciptakan peluang dan memberikan solusi bagi masyarakat.

Di sisi lain, tingginya minat terhadap bidang kesehatan dan farmasi turut menjadi tantangan bagi FIKSFAR untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan.

Hidajah mengatakan mahasiswa baru FIKSFAR tidak hanya berasal dari Jawa Timur. Peserta juga datang dari Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat hingga Papua.

Bahkan, terdapat mahasiswa asal Papua Tengah yang mendapatkan beasiswa untuk menempuh pendidikan di UMM.

“Memang paling banyak dari Jawa, terutama Jawa Timur. Tetapi ada juga dari Sulawesi, Sumatera, Kalimantan, NTT, NTB dan Papua,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *