Indonesiandaily.com – Jeruk dari Kota Batu tak harus selalu berakhir di pasar sebagai buah segar. Dengan teknologi pengeringan beku atau freeze dryer, buah tersebut bisa diolah menjadi camilan ringan, renyah, tahan lebih lama, sekaligus memiliki nilai jual lebih tinggi.
Peluang itu dikenalkan Universitas Brawijaya (UB) bersama PLUT KUMKM Kota Batu melalui pelatihan pengembangan produk olahan jeruk kering beku bagi pelaku UMKM.
Pelatihan menjadi bagian dari Program Dosen Berkarya (DOKAR) UB 2026 Skema A. Program ini menggandeng peserta Program 365 UP (UMKM Maju Bersama PLUT) sebagai mitra dalam mengembangkan produk, bukan sekadar sebagai penerima teknologi.
Ketua pelaksana, Mas’ud Effendi, mengatakan inovasi tersebut berangkat dari persoalan sederhana yang sering dihadapi pelaku usaha, yakni buah segar memiliki umur simpan relatif pendek.
“Fokus kami bukan sekadar mengenalkan mesin, tetapi membangun mindset inovasi pada UMKM,” kata Mas’ud.
Menurutnya, jeruk yang selama ini dijual dalam bentuk segar dapat dikembangkan menjadi produk yang lebih praktis dan bernilai ekonomi. Dengan proses yang tepat, produk jeruk kering beku tetap mempertahankan karakter bahan aslinya.
Teknologi freeze drying bekerja dengan membekukan air dalam bahan, kemudian mengeluarkannya melalui proses sublimasi dalam kondisi vakum. Cara ini memungkinkan bentuk, warna, aroma, dan sebagian besar karakter produk tetap terjaga.
Dalam pelatihan, peserta tidak hanya menerima penjelasan. Mereka langsung mempraktikkan proses mulai dari memilih dan mencuci jeruk, mengiris bahan secara seragam, membekukannya, mengoperasikan mesin, memantau proses pengeringan hingga mengemas produk.
Untuk jeruk keprok, misalnya, peserta dikenalkan dengan irisan sekitar 4–6 milimeter. Bahan kemudian melalui proses pre-freeze sebelum masuk tahap pengeringan. Selama proses, suhu bahan, tekanan vakum, waktu, dan program mesin harus dipantau.
Mas’ud menegaskan, parameter yang diperkenalkan dalam pelatihan masih merupakan starting recipe. Artinya, formula tersebut belum dapat langsung dianggap sebagai standar produksi.
“Setiap kali produksi, catat ketebalan irisan, berat bahan, suhu, tekanan vakum, dan hasilnya. Dari situ UMKM bisa menemukan formula terbaiknya sendiri,” ujarnya.
Pencatatan itu menjadi penting ketika produk mulai diarahkan ke pasar. Konsistensi rasa, tekstur dan mutu harus dijaga dari satu produksi ke produksi berikutnya.
Tim UB juga mengingatkan pelaku UMKM agar tidak terburu-buru menetapkan umur simpan hanya berdasarkan hasil uji coba. Kadar air dan aktivitas air (water activity/aw) perlu diverifikasi melalui pengujian laboratorium sebelum produk dipasarkan dengan klaim umur simpan tertentu.
Pelatihan ini menjadi salah satu tahapan program DOKAR yang tidak berhenti pada pengenalan teknologi. Setelah workshop, peserta diarahkan menuju pendampingan penyusunan Business Feasibility Plan, mulai dari analisis pasar, proyeksi keuangan hingga rencana operasional.
Bagi UMKM Kota Batu, pendekatan tersebut membuka peluang agar hasil pertanian lokal tidak hanya dijual sebagai bahan mentah. Jeruk dapat diolah menjadi produk dengan umur simpan lebih panjang dan bentuk konsumsi yang berbeda.
Di sisi lain, pengolahan juga berpotensi mengurangi buah yang terbuang ketika pasokan melimpah atau produk segar tidak segera terserap pasar.
Kolaborasi UB dan PLUT KUMKM Kota Batu pun diarahkan pada satu tujuan: membuat inovasi yang tidak berhenti di mesin dan ruang pelatihan, tetapi bisa benar-benar digunakan UMKM untuk mengembangkan usaha.
Jeruk Batu akhirnya memiliki pilihan lain selain dijual segar—diolah menjadi produk modern yang lebih ringan, praktis, dan memiliki nilai tambah.



