Indonesiandaily.com — Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FKUB) memperkenalkan lebih luas Museum Anatomi. Hal tersebut sebagai upaya menjadikan museum ini menjadi simpul edukasi kesehatan masyarakat.
Seperti yang disampaikan oleh Ketua Departemen Keilmuan Anatomi Histologi sekaligus Direktur Museum Anatomi FK UB Dr dr Rita Rosita MKes. Bahwa museum ini dikembangkan tidak hanya sebagai ruang penyimpanan preparat anatomi. Tetapi juga sebagai pusat studi, pembelajaran, dan pengembangan wawasan tentang sistem tubuh manusia.
“Museum ini dirancang sebagai wahana belajar yang menarik dan kontekstual. Sehingga pengunjung tidak hanya memahami struktur tubuh manusia secara teoritis. Tapi juga dapat melihat secara langsung representasi anatomi,” ungkap Dr Rita, Sabtu (18/04).
Museum Anatomi FK UB memiliki fasilitas sebagai media belajar pendukung bagi siswa kelas XI SMA, khususnya pada materi sistem organ manusia. Melalui pendekatan berbasis observasi langsung, siswa dapat memperoleh pengalaman belajar yang lebih ilmiah, terarah, dan aplikatif.
Bagi para guru, museum ini juga dapat menjadi mitra pembelajaran untuk memperkaya strategi pengajaran biologi agar lebih kontekstual, interaktif, dan berbasis pengalaman nyata.
Selain mendukung pembelajaran bagi mahasiswa kedokteran dan bidang kesehatan, Museum Anatomi FK UB juga diarahkan untuk menjadi pusat edukasi yang lebih luas bagi pelajar, mahasiswa non-UB, praktisi kesehatan, serta komunitas ilmiah yang membutuhkan sarana pembelajaran sistem tubuh manusia.
Dengan demikian, museum ini diharapkan tidak hanya menjadi aset internal fakultas, tetapi juga berperan sebagai ruang belajar bersama bagi masyarakat pendidikan di Malang Raya dan sekitarnya.
Seiring kemajuan fasilitas yang dimiliki museum ini, FK UB juga menggelar seminar untuk para guru biologi SMA se-Malang Raya. Jumlah guru yang hadir dalam acara ini mencapai 250 orang. Mereka secara bergilir mengunjungi museum anatomi ini.
Dengan demikian museum Anatomi FK UB dapat dimanfaatkan secara lebih optimal sebagai media pembelajaran sains dan kesehatan. Menurut Dr Rita, ke depan, museum ini diharapkan dapat berkembang sebagai simpul edukasi anatomi, riset pendidikan, dan literasi kesehatan masyarakat yang semakin relevan dengan kebutuhan zaman.
