IPK 3,93 dan Kehilangan Sang Ayah, Perjuangan Yuniar Jadi Wisudawan Terbaik ITN Malang

IPK 3,93 dan Kehilangan Sang Ayah, Perjuangan Yuniar Jadi Wisudawan Terbaik ITN Malang

Indonesiandaily.com – Ada nama ayah yang selalu ikut hadir di balik toga yang akan dikenakan Yuniar Faizati. Bukan dalam bentuk sosok yang berdiri di antara keluarga dan tamu wisuda, melainkan dalam ingatan tentang seorang pedagang martabak yang pernah bermimpi melihat putri bungsunya menyandang gelar sarjana.

Yuniar akan menjadi salah satu wisudawan yang namanya mencuri perhatian dalam Wisuda ke-76 Periode II 2026 Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Mahasiswi asal Singaraja, Bali, itu tercatat sebagai lulusan terbaik Fakultas Teknologi Industri (FTI) sekaligus Program Studi Teknik Industri S-1 dengan IPK 3,93.

Namun, capaian tersebut tidak datang dari perjalanan yang mudah.

Sebulan sebelum seminar hasil skripsinya, Yuniar harus kehilangan ayahnya, Jarkoni. Sang ayah meninggal dunia pada 1 Juni 2026 akibat penyakit jantung.

Kehilangan itu datang ketika Yuniar tengah berada di fase akhir perjuangan akademiknya. Di tengah tekanan menyelesaikan skripsi, ia harus menghadapi kenyataan bahwa sosok yang selama ini memberikan dukungan justru pergi untuk selamanya.

“Bahagia, tapi di balik itu ada rasa haru dan sedih yang dalam. Prestasi ini sangat emosional,” kata Yuniar.

Ia bahkan mengaku pernah berada pada titik ingin mengakhiri kuliah dan memilih bekerja.

Kehadiran sang ayah selama ini menjadi salah satu alasan Yuniar bertahan. Jarkoni yang sehari-hari berjualan martabak dan terang bulan memang tidak sempat mengenyam pendidikan tinggi. Karena itu, ia menyimpan harapan agar anak-anaknya dapat meraih pendidikan setinggi mungkin.

Dari lima bersaudara, Yuniar merupakan anak bungsu.

“Ayah tidak sempat sekolah tinggi, jadi beliau ingin sekali anak-anaknya bisa sarjana,” tuturnya.

Kenangan terakhir bersama sang ayah pun masih begitu kuat. Saat Idulfitri 2026, keduanya masih sempat bertemu. Ketika itu, Jarkoni mengungkapkan kebanggaannya karena putrinya sebentar lagi menyelesaikan kuliah.

Yuniar tidak pernah menyangka percakapan sederhana tersebut menjadi pertemuan terakhir mereka.

“Waktu Idulfitri kemarin masih sempat bertemu. Ayah bilang bangga sekali saya mau wisuda. Saya tidak menyangka itu jadi momen terakhir kami,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Bangkit dari Kehilangan 

Setelah kepergian ayahnya, Yuniar berusaha kembali menata langkah. Dukungan ibunya, Siti Hayati, menjadi salah satu alasan dirinya tidak menyerah.

Dorongan juga datang dari para dosen Teknik Industri ITN Malang yang terus mendampingi hingga skripsinya tuntas.

Di tengah proses tersebut, Yuniar menyelesaikan penelitian yang tidak sederhana. Ia mengangkat persoalan downtime mesin Fiber Semen (FS) 8 di PT Nusantara Building Industries.

Penelitian itu berfokus pada kerusakan komponen mesin dan bagaimana menentukan pola perawatan yang lebih efektif agar waktu berhenti produksi dapat ditekan.

Yuniar menggunakan metode Reliability Centered Maintenance (RCM) dan Age Replacement. Menariknya, ia juga memanfaatkan teknologi AI Google Studio untuk membantu memvisualisasikan alur produksi mesin semen yang menjadi objek penelitiannya.

“Tantangannya harus memahami karakter lima mesin produksi satu per satu, padahal saya bukan anak Teknik Mesin,” jelasnya.

Hasil analisis menunjukkan interval perawatan preventif yang direkomendasikan berada pada angka 2.000 menit dengan peluang downtime sebesar 0,13 atau 13 persen.

Bagi Yuniar, penelitian tersebut menjadi pengalaman penting karena memperlihatkan bahwa ilmu Teknik Industri tidak berhenti pada persoalan mesin.

Belajar Melihat Industri sebagai Satu Sistem 

Selama menjadi mahasiswa, Yuniar tidak hanya berkutat dengan perkuliahan dan skripsi.

Ia pernah mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) ke Manado, aktif selama dua periode di Himpunan Mahasiswa Teknik Industri (HMTI), menjadi editor Industrial Magazine, serta menjalani magang di PT Nusantara Building Industries, Demak.

Pengalaman magang di bidang maintenance dan marketing communication membuat perspektifnya tentang Teknik Industri semakin luas.

“Industrial Engineer bukan hanya mengoptimalkan mesin, tapi memahami bagaimana seluruh sistem terhubung, mulai dari manusia, teknologi hingga kebutuhan bisnis,” katanya.

Pengalaman tersebut pula yang kini mengarahkannya pada rencana karier setelah lulus. Yuniar ingin mengembangkan diri di bidang marketing analyst maupun supply chain.

Disiplin Dimulai Setelah Subuh 

Di balik aktivitas akademik dan organisasi yang padat, Yuniar memiliki kebiasaan sederhana untuk menjaga ritme kegiatannya.

Setiap pagi setelah salat Subuh, ia berusaha tidak kembali tidur. Waktu tersebut digunakan untuk menyusun agenda dan menentukan pekerjaan yang harus diselesaikan.

Senjatanya bukan metode belajar yang rumit, melainkan aplikasi Notion untuk mengatur prioritas.

“Setiap habis Subuh saya usahakan tidak tidur lagi. Saya buka Notion untuk menyusun skala prioritas,” ungkap alumnus SMAN 1 Singaraja tersebut.

Ia menentukan tugas berdasarkan tenggat waktu dan tingkat kesulitannya. Prinsipnya sederhana: pekerjaan yang sudah dimulai harus diselesaikan dengan sungguh-sungguh.

“Kalau ada tugas, kerjakan totalitas, jangan ala kadarnya,” tegasnya.

Kini, ketika wisuda tinggal menghitung hari, Yuniar tidak sekadar membawa IPK 3,93. Ia membawa perjalanan panjang tentang kehilangan, ketekunan, dukungan keluarga, dan keyakinan untuk tetap menyelesaikan sesuatu yang telah dimulai.

Wisuda pada 19 September 2026 nanti mungkin menjadi hari yang membahagiakan. Namun, di balik toga dan gelar sarjana itu, akan selalu ada satu sosok yang tidak lagi bisa menyaksikannya secara langsung: sang ayah.

Pesan Yuniar kepada mahasiswa yang masih menjalani proses kuliah pun lahir dari perjalanan tersebut.

“Sembunyikan prosesmu, fokus sama diri sendiri, dan terapkan ilmu padi,” pesannya.

Baginya, fokus bukan berarti menjauh dari orang lain. Empati dan kepedulian tetap harus dijaga, sementara suara-suara yang tidak membangun cukup dikesampingkan.

“Percayalah pada prosesmu sendiri, karena setiap orang punya waktunya masing-masing untuk berhasil,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *