UIN Maliki Malang Gembleng 13 Penerima BIB, Bersiap Tembus Kampus Global

UIN Maliki Malang Gembleng 13 Penerima BIB, Bersiap Tembus Kampus Global

Indonesiandaily.com – UIN Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang kembali dipercaya Kementerian Agama RI melalui Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Puspenma) untuk menggelar Language and Academic Preparation Program (LAPP) bagi penerima Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB).

Program yang digelar melalui Pusat Pengembangan Bahasa UIN Maliki Malang itu diikuti 13 penerima BIB yang akan melanjutkan studi magister dan doktoral di sejumlah perguruan tinggi luar negeri, termasuk Australia, China, Inggris, dan Yordania.

Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga UIN Maliki Malang, Prof. Dr. H.M. Abdul Hamid, MA, menegaskan LAPP bukan sekadar kursus bahasa Inggris. Peserta ditempa agar siap menghadapi tuntutan akademik di lingkungan perguruan tinggi internasional.

“Bahasa bukan tujuan akhir. Bahasa adalah instrumen untuk memasuki, memahami, dan berkontribusi dalam ekosistem akademik global,” ujar Prof Hamid.

Selama 90 hari, peserta mendapat pembinaan intensif dengan target skor IELTS di atas 7. Mereka juga diarahkan menyusun draf proposal tesis maupun disertasi sebagai bekal memasuki kampus tujuan.

Menurut Prof Hamid, kemampuan bahasa harus berjalan beriringan dengan kesiapan akademik. Peserta dituntut mampu membaca literatur secara kritis, menyusun argumentasi ilmiah, melakukan riset, hingga mengartikulasikan gagasan sesuai standar akademik internasional.

Ia menyebut peserta yang menempuh studi di luar negeri membawa lebih dari sekadar identitas pribadi.

“Di dalam dirinya ada nama institusi, bangsa, bahkan wajah pendidikan Islam Indonesia,” tukas WR IV ini.

Kepercayaan Puspenma kepada UIN Maliki Malang bukan kali pertama. Kampus tersebut hampir setiap tahun dipercaya menggelar program persiapan serupa, termasuk PPSL dan PPBA.

Melalui LAPP, UIN Maliki Malang ingin memastikan mobilitas akademik mahasiswa tidak berhenti pada keberangkatan. Mereka diproyeksikan menjadi academic global talent yang memiliki kemampuan bahasa, kapasitas riset, ketangguhan akademik, dan kesiapan berkompetisi di komunitas ilmiah internasional.

Tiga bulan ke depan menjadi fase penting bagi 13 peserta tersebut. Mereka tidak hanya belajar bahasa Inggris, tetapi juga dipersiapkan untuk memasuki dunia akademik global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *