14 Mahasiswa Kehutanan UB Tanam 10.000 Mangrove di Wonorejo, Dorong Pemulihan Ekosistem Pesisir

14 Mahasiswa Kehutanan UB Tanam 10.000 Mangrove di Wonorejo, Dorong Pemulihan Ekosistem Pesisir

Indonesiandaily.com – Upaya memulihkan ekosistem pesisir terus dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor. Sebanyak 14 mahasiswa Program Studi Kehutanan Fakultas Bio-Industri, Pertanian, dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya (UB) terlibat dalam penanaman 10.000 bibit mangrove di kawasan pesisir Wonorejo, Surabaya.

Kegiatan tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Mangrove Sedunia yang diperingati setiap 26 Juli. Penanaman menggunakan metode cluster planting atau rumpun berjarak yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan pesisir.

Metode tersebut dirancang untuk meningkatkan peluang tumbuh mangrove melalui pengaturan jarak tanam yang lebih adaptif. Dengan pendekatan ini, rehabilitasi tidak sekadar mengejar jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga keberhasilan pertumbuhan mangrove di kawasan pesisir.

Kegiatan ini merupakan inisiatif Wahana Visi Indonesia dengan melibatkan berbagai pihak. Di antaranya mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi, Dinas Kelautan dan Perikanan, BPDAS Brantas Sampean, kelompok nelayan, serta masyarakat setempat.

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat rehabilitasi ekosistem mangrove sebagai benteng alami kawasan pesisir. Pada saat yang sama, pemulihan lingkungan diharapkan berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya pesisir secara berkelanjutan.

Mahasiswa UB Belajar Konservasi Langsung di Lapangan

Keterlibatan mahasiswa Kehutanan FBiPK UB menjadi bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.

Bagi mahasiswa kehutanan, aktivitas tersebut menjadi ruang pembelajaran langsung mengenai kompleksitas ekosistem pesisir. Mereka tidak hanya mempelajari teori konservasi, tetapi juga menghadapi kondisi lapangan, mulai dari karakteristik habitat hingga tantangan dalam rehabilitasi mangrove.

Mangrove memiliki fungsi penting bagi kawasan pesisir. Vegetasi ini membantu melindungi garis pantai dari abrasi dan intrusi air laut sekaligus menjadi habitat berbagai biota.Lebih jauh, mangrove memiliki peran penting dalam mitigasi perubahan iklim melalui kemampuannya menyerap dan menyimpan karbon atau blue carbon. Karbon tersimpan tidak hanya pada biomassa pohon, tetapi juga pada serasah dan sedimen tanah.

Dosen Pendamping Program Studi Kehutanan FBiPK UB, Arif Delviawan, S.Hut., M.Agr., Ph.D., menilai pengalaman lapangan menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter mahasiswa kehutanan.

“Konservasi mangrove tidak cukup dipahami melalui teori di ruang kelas, tetapi harus dipelajari secara langsung di lapangan,” ujar Arif.

Menurutnya, kegiatan tersebut mengajarkan mahasiswa mengenai pentingnya kolaborasi sekaligus memperlihatkan kompleksitas ekosistem pesisir.

“Rehabilitasi mangrove merupakan tanggung jawab bersama. Saya berharap pengalaman ini dapat menumbuhkan kepedulian, memperkuat karakter sebagai calon rimbawan, dan mendorong mahasiswa untuk terus berkontribusi menjaga kelestarian lingkungan melalui ilmu pengetahuan dan aksi nyata,” katanya.

Mangrove Tak Hanya untuk LingkunganRehabilitasi mangrove di Wonorejo juga diarahkan untuk memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Livelihood Coordinator Wahana Visi Indonesia, Jumpa Sitopu, S.IP., mengatakan pihaknya berkolaborasi dengan UMKM Semanggi untuk mengembangkan produk berbahan dasar buah mangrove jenis Sonneratia caseolaris atau yang dikenal masyarakat sebagai buah bogem.

Melalui pendampingan dan pelatihan, sekitar 10 anggota UMKM telah mampu mengolah buah mangrove menjadi sejumlah produk kreatif.

Produk tersebut antara lain Sambal Mangrove, Mangrove Infuse Water, dan Nastar Mangrove. Wahana Visi Indonesia juga mendampingi proses pemasaran dengan memperkenalkan produk tersebut melalui kegiatan bazar.

Langkah ini menunjukkan bahwa konservasi mangrove dapat dikembangkan bersamaan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Ekosistem yang terjaga menjadi sumber daya yang dapat dimanfaatkan secara bijak tanpa mengorbankan keberlanjutannya.

Pengalaman Berharga Mahasiswa

Bagi mahasiswa, kegiatan penanaman 10.000 mangrove tersebut menjadi pengalaman yang memberikan perspektif baru tentang konservasi.

Arya Pratama, salah satu mahasiswa peserta, mengaku antusias mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, pengalaman menanam mangrove secara langsung memberikan pembelajaran yang berbeda dibandingkan aktivitas perkuliahan.

“Seru sekali bisa mendapat pengalaman baru menanam mangrove, memahami lingkungan pesisir, dan berkenalan dengan teman-teman dari kampus lain. Semoga ke depannya program serupa dari Wahana Visi Indonesia terus berlanjut,” ujar Arya.

Hal senada disampaikan Najla Hannan Rizaldiantara. Ia menilai pengalaman berada langsung di kawasan rehabilitasi memberikan pemahaman yang tidak sepenuhnya diperoleh melalui pembelajaran di kelas.

“Biasanya hanya mengetahui teori di kelas, tetapi kali ini saya dapat melihat langsung tantangan rehabilitasi mangrove di lapangan. Walaupun harus berpanas-panasan dan berlumpur, semuanya terbayar dengan pengalaman yang sangat berharga,” katanya.

Ia berharap mangrove yang ditanam dapat tumbuh dengan baik dan semakin banyak generasi muda terlibat dalam aksi pelestarian lingkungan.

Penanaman 10.000 bibit mangrove di Wonorejo pada akhirnya bukan sekadar kegiatan simbolis memperingati Hari Mangrove Sedunia. Agenda tersebut memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat. Juga organisasi sosial dalam menjaga ekosistem pesisir.

Di tengah ancaman abrasi dan perubahan iklim, rehabilitasi mangrove menjadi investasi ekologis sekaligus sosial. Keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga oleh keberlanjutan perawatan, keterlibatan masyarakat. Serta kemampuan menghubungkan konservasi dengan peningkatan ekonomi warga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *