Tujuh Profesor Baru UIN Malang, Langkah Prof Ilfi Perkuat Reputasi Akademik Global

Tujuh Profesor Baru UIN Malang, Langkah Prof Ilfi Perkuat Reputasi Akademik Global

Indonesiandaily.com – Tujuh profesor baru menjadi amunisi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang untuk memperkuat reputasi akademiknya di tingkat global. Pengukuhan tersebut sekaligus menandai keseriusan kampus memperbanyak profesor sebagai penggerak riset, publikasi, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.

Tujuh Guru Besar itu dikukuhkan dalam Sidang Terbuka Senat UIN Malang, Rabu (23/9/2026). Prosesi pengukuhan dipimpin langsung Rektor UIN Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si.

Bagi Prof Ilfi, bertambahnya profesor bukan sekadar capaian akademik individual. Kehadiran guru besar harus memberi efek berantai terhadap kualitas riset dan publikasi, sekaligus memperluas jejaring akademik UIN Malang di tingkat internasional.

Langkah tersebut berkaitan erat dengan target UIN Malang memasuki tahap kedua menuju visi sebagai perguruan tinggi bereputasi internasional yang ditargetkan semakin kuat hingga 2029.

“Semakin banyak guru besar, otomatis akan semakin berdampak pada kampus kita,” ujar Prof Ilfi seusai pengukuhan.

Profesor dan Jalan Menuju Reputasi Global 

Prof Ilfi melihat jumlah profesor sebagai salah satu kekuatan penting dalam membangun reputasi perguruan tinggi. Guru besar tidak hanya dituntut menghasilkan karya ilmiah, tetapi juga membuka ruang kolaborasi, meningkatkan kualitas publikasi dan memperluas dampak penelitian.

Menurutnya, riset yang mampu menembus ruang akademik internasional akan membawa nama kampus semakin dikenal. Dampaknya dapat terlihat melalui peningkatan sitasi, kolaborasi internasional, pengakuan akademik hingga pemeringkatan perguruan tinggi.

UIN Malang, kata Prof Ilfi, selama ini mampu bersaing dalam berbagai pemeringkatan meski jumlah profesor masih relatif lebih sedikit dibandingkan sejumlah perguruan tinggi besar di Indonesia.

“Kita ini kalau di antara perguruan tinggi besar sebenarnya pendatang baru. Guru besarnya tidak sebanyak mereka, tetapi bisa masuk top five,” katanya.

Kondisi tersebut menjadi modal untuk terus memperkuat posisi UIN Malang. Penambahan tujuh profesor diharapkan tidak berhenti pada seremoni pengukuhan, tetapi diterjemahkan menjadi peningkatan produktivitas akademik.

Dosen Lektor Kepala Dipacu Naik Kelas 

Untuk menjaga kesinambungan, UIN Malang tidak hanya menunggu dosen mencapai syarat guru besar. Kampus mulai memetakan para dosen dengan jabatan lektor kepala yang telah memenuhi atau mendekati persyaratan profesor.

Mereka akan mendapatkan pendampingan agar proses menuju guru besar dapat berlangsung lebih terarah.

“Dosen-dosen yang sudah lektor kepala kita coach untuk segera punya syarat mengajukan guru besar,” jelas Prof Ilfi.

Pendampingan juga disertai dukungan pembiayaan dan skema penghargaan melalui remunerasi. Karya akademik dosen, baik yang dipublikasikan di tingkat nasional maupun internasional, mendapatkan dukungan secara proporsional.

Skema tersebut dirancang agar dosen tidak berjalan sendiri ketika menghadapi proses panjang menuju jabatan profesor.

Salah satu tantangan yang kerap muncul adalah waktu tunggu publikasi jurnal. Proses antrean penerbitan membuat perjalanan seorang dosen menuju guru besar membutuhkan persiapan sejak jauh hari.

“Memang butuh waktu karena jurnal itu antre. Tapi itu tidak menyurutkan semangat teman-teman,” tutur Prof Ilfi.

Dari Profesor untuk Generasi Akademisi Berikutnya 

Bagi Prof Ilfi, keberadaan guru besar juga harus menjadi investasi untuk regenerasi akademik. Profesor tidak hanya menghasilkan penelitian sendiri, tetapi ikut membimbing dosen muda agar mampu membangun rekam jejak publikasi.

Dosen muda diarahkan mulai menghasilkan publikasi sejak awal karier. UIN Malang bahkan memberikan dukungan awal bagi sekitar 300 dosen yang belum mendapatkan pendanaan penelitian dari lembaga lain.

Dukungan tersebut diarahkan sebagai pemantik agar dosen muda memiliki pengalaman penelitian dan publikasi, termasuk pada jurnal nasional terindeks Sinta.

Dengan cara itu, ketika memasuki jenjang karier berikutnya, para dosen telah memiliki rekam jejak akademik yang dapat menjadi bekal untuk kenaikan jabatan.

“Jangan melihat nominalnya, tetapi semangatnya. Output dari anggaran itu yang kita lihat,” kata Prof Ilfi.

Reputasi Global Harus Berdampak ke Masyarakat 

Penguatan reputasi akademik UIN Malang juga tidak diarahkan hanya untuk mengejar angka pemeringkatan. Prof Ilfi ingin peningkatan kapasitas guru besar berujung pada manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Karena itu, profesor didorong aktif dalam pengabdian kepada masyarakat sekaligus membimbing dosen muda.

Salah satu fokus yang dikembangkan hingga 2029 adalah pengabdian berbasis madrasah dan pesantren. Para dosen dan guru besar didorong membawa bidang keilmuannya masing-masing untuk menjawab kebutuhan masyarakat di lingkungan tersebut.

“Dakwah sekarang tidak hanya dalam bidang agama, tetapi melalui sains sesuai bidang keilmuan,” tegasnya.

Bagi UIN Malang, inilah titik temu antara reputasi global dan kebermanfaatan lokal. Publikasi internasional menjadi salah satu jalan memperkenalkan kampus kepada dunia, sementara riset dan pengabdian memastikan ilmu yang dikembangkan tidak berhenti di jurnal.

Dengan tambahan tujuh profesor, Prof Ilfi ingin UIN Malang memiliki lebih banyak penggerak akademik yang mampu membawa nama kampus ke tingkat global sekaligus tetap dekat dengan persoalan masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *