Indonesiandaily.com – Jerawat di punggung dan dada ternyata tak selalu berkaitan dengan bakteri. Jamur juga dapat terlibat dalam peradangan kulit di area batang tubuh tersebut. Celah inilah yang coba dijawab mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) melalui inovasi spray berbahan ekstrak kulit kakao dan daun pegagan.
Inovasi itu dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa-Riset Eksakta (PKM-RE). Tim berupaya menghasilkan sediaan semprot yang dapat menyasar mikroorganisme penyebab peradangan sekaligus membantu pemulihan kondisi kulit.
Ketua tim, Fatla Sela Iracahyono dari Departemen Teknik Biosistem, mengatakan gagasan penelitian berangkat dari persoalan jerawat pada area punggung dan dada yang relatif sulit ditangani karena luasnya area serta kemungkinan adanya lebih dari satu pemicu.
“Penelitian jerawat umumnya fokus pada bakteri Cutibacterium acnes. Padahal, pada area punggung dan dada juga dapat melibatkan Malassezia furfur,” kata Fatla.
Tim kemudian memadukan kulit kakao (Theobroma cacao) dengan daun pegagan (Centella asiatica). Kulit kakao dipilih karena selama ini pemanfaatannya belum optimal, meski porsinya mencapai sekitar 75,52 persen dari bobot buah kakao.
Menurut Fatla, kulit kakao memiliki kandungan senyawa seperti alkaloid dan flavonoid yang berpotensi memberikan aktivitas antimikroba. Sementara pegagan mengandung asiaticoside dan madecassoside yang dikenal berkaitan dengan aktivitas anti-inflamasi serta regenerasi kulit.
“Kalau kulit kakao fokus pada mikrobanya, pegagan membantu meredakan peradangan dan memperbaiki skin barrier,” ujarnya.
Dipilih dalam bentuk spray
Bukan hanya bahan yang menjadi perhatian. Tim juga memilih bentuk sediaan semprot cair karena sasaran penggunaannya adalah bagian tubuh yang relatif luas dan sulit dijangkau, terutama punggung.
Berbeda dengan krim atau gel yang membutuhkan kontak langsung dengan kulit, spray memungkinkan cairan diaplikasikan tanpa banyak menyentuh area yang sedang mengalami peradangan.
Dalam penelitian tersebut, mahasiswa menguji sejumlah perbandingan ekstrak untuk mendapatkan formula dengan aktivitas antimikroba yang optimal terhadap C. acnes dan M. furfur.
Formula terpilih selanjutnya dikembangkan menjadi sediaan spray. Pengujian dilakukan untuk melihat karakteristik fisik, pH, stabilitas, hingga aktivitas antimikroba di laboratorium.
Mengolah limbah menjadi inovasi
Dosen pembimbing Prof. Dr. Agustin Krisna Wardani menilai penelitian tersebut menarik karena mempertemukan persoalan limbah agroindustri dengan kebutuhan di bidang kesehatan kulit.
Menurutnya, kolaborasi mahasiswa dari Teknik Biosistem, Ilmu Pangan dan Bioteknologi, serta Farmasi membuat penelitian tidak berhenti pada pemanfaatan bahan alam, tetapi juga diarahkan pada pengembangan bentuk sediaan.
“Mahasiswa melihat limbah kulit kakao dari sisi teknologi pengolahan, pegagan dari sisi fungsional, kemudian diformulasikan menjadi produk farmasetis,” ujarnya.
Penelitian kini masih berlanjut. Tim mahasiswa melakukan optimasi stabilitas spray dan menyiapkan uji iritasi sebagai bagian dari evaluasi keamanan sebelum inovasi tersebut dikembangkan menuju tahap hilirisasi.
Anggota tim terdiri atas Khesya Olivia, Athaya Nur Febriliana, Kristin Angelia, dan Clara Zaaky.



