Indonesiandaily.com – Pengembangan pariwisata kesehatan di Malang Raya mendapat momentum baru setelah Malang Health Tourism Board dilibatkan dalam rapat koordinasi percepatan investasi pariwisata Indonesia untuk enam bulan ke depan, Rabu (23/9/2026).
Forum tersebut menjadi ruang bagi berbagai pemangku kepentingan untuk membahas langkah konkret mempercepat investasi sekaligus memperkuat daya saing sektor pariwisata Indonesia.
Malang Health Tourism Board melihat arah kebijakan tersebut memiliki peluang besar untuk dikembangkan di Malang Raya. Terlebih, kawasan ini tidak hanya memiliki destinasi wisata, tetapi juga rumah sakit, fasilitas kesehatan, perguruan tinggi, serta potensi wellness dan sport tourism.
Penggagas health tourism di Kota Malang, Ardantya Syahreza, menyambut positif enam strategi pariwisata yang dibahas Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI.
Enam strategi itu mencakup perluasan bebas visa kunjungan, penguatan konektivitas, reformasi tata kelola event, peningkatan lama tinggal wisatawan, penguatan promosi, serta pemberian insentif untuk perfilman.
Namun, bagi pengembangan Malang Raya, terdapat tiga agenda yang dinilai memiliki keterkaitan kuat dengan konsep health tourism.
Membidik Wisatawan SeniorÂ
Salah satunya adalah Silver Hair Visa, fasilitas tinggal jangka panjang yang ditujukan bagi warga negara asing lanjut usia.
Skema tersebut dinilai berpotensi mendorong wisatawan senior untuk tinggal lebih lama di Indonesia. Dampaknya tidak hanya dirasakan sektor pariwisata, tetapi juga real estate, senior living resort, wellness hingga layanan kesehatan.
Malang Raya dinilai memiliki modal pendukung berupa iklim yang relatif nyaman. Termasuk pula ekosistem layanan kesehatan yang dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan wisatawan senior internasional.
Konsep ini sekaligus membuka peluang agar wisatawan tidak sekadar datang untuk berlibur. Mereka dapat tinggal lebih lama sambil memperoleh layanan kesehatan. Juga kebugaran, maupun aktivitas wisata yang sesuai dengan kebutuhan usia lanjut.
Health Tourism Butuh Promosi BersamaÂ
Agenda berikutnya adalah penguatan promosi health tourism.
Malang Health Tourism Board menilai promosi wisata kesehatan yang mencakup layanan medik, wellness dan sport tourism membutuhkan keterlibatan pemerintah.
Promosi, menurut mereka, tidak cukup jika hanya mengandalkan kemampuan masing-masing pelaku usaha. Dukungan berupa kampanye nasional, anggaran promosi, serta keikutsertaan. Khususnya dalam pameran pariwisata dan kesehatan di dalam maupun luar negeri dinilai penting.
Dengan promosi yang lebih terintegrasi, destinasi wisata dan fasilitas kesehatan di Indonesia memiliki peluang lebih besar dikenal pasar internasional.
Penerbangan Internasional Jadi KunciÂ
Persoalan konektivitas juga menjadi perhatian. Salah satu usulan yang didorong adalah pembukaan kembali dan pengembangan penerbangan internasional menuju Malang.
Akses penerbangan langsung dinilai dapat memperpendek rantai perjalanan wisatawan mancanegara menuju Malang Raya.
Dari kawasan ini, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan menuju sejumlah destinasi seperti Gunung Bromo, Kota Batu. Juga kawasan pantai selatan, sekaligus menikmati layanan kesehatan dan kebugaran.
Bagi Malang Raya, konektivitas udara bukan sekadar persoalan transportasi. Akses tersebut berkaitan dengan bagaimana wisatawan internasional dapat lebih mudah menggabungkan kebutuhan berwisata. Terutama dengan layanan kesehatan dalam satu perjalanan.
Karena itu, pengembangan health tourism membutuhkan kerja bersama. Pemerintah, pelaku pariwisata, rumah sakit dan penyedia layanan kesehatan, maskapai. Juga pengelola destinasi hingga dunia usaha perlu berada dalam ekosistem yang sama.
Malang Health Tourism Board berharap kebijakan pariwisata di tingkat nasional dapat diterjemahkan. Khususnya menjadi peluang investasi dan pertumbuhan ekonomi di tingkat daerah.
Dari kebijakan nasional, menuju pertumbuhan ekonomi Malang Raya.



