Indonesiandaily.com – Dunia akting tidak hanya soal tampil di depan kamera. Kemampuan membangun karakter, mengolah ekspresi hingga memahami dialog menjadi bekal penting bagi mereka yang ingin masuk ke industri film dan ekonomi kreatif.
Hal itu menjadi salah satu fokus Workshop Acting bersama aktor laga Aris Kurniawan dan aktris senior sekaligus Ketua Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) Jawa Timur, Wira Lina, yang digelar di Alam Batu Village, Sabtu (3/10/2026).
Peserta workshop mendapat materi teknik dasar acting, ekspresi dan karakter, hingga praktik scene serta dialog. Pembelajaran dikemas secara langsung agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga merasakan proses membangun sebuah adegan.
Bagi Aris, kegiatan semacam ini penting untuk membuka ruang belajar sekaligus mempertemukan talenta lokal dengan perkembangan industri kreatif yang terus berubah.
“Yang penting kita kreatif. Kalau tidak belajar, kita hanya akan menjadi penonton,” kata Aris.
Dari Acting hingga Sinematografi
Aris mengatakan workshop tersebut menjadi bagian dari rencana pengembangan ekosistem kreatif yang tidak berhenti pada seni peran. Peserta juga akan dikenalkan dengan sinematografi dan perkembangan kecerdasan buatan (AI) dalam produksi konten.
Menurutnya, teknologi AI dapat menjadi salah satu alternatif ketika produksi film secara konvensional menghadapi keterbatasan sumber daya manusia, biaya maupun kebutuhan teknis lainnya.
“AI sekarang sudah mulai masuk. Kita akan mencoba berkolaborasi dengan teknologi untuk mengangkat cerita-cerita daerah,” ujarnya.
Jawa Timur dinilai memiliki kekayaan cerita lokal yang dapat dikembangkan menjadi karya film maupun serial. Mulai dari budaya, tradisi, hingga kearifan lokal di berbagai daerah dapat menjadi sumber ide bagi generasi kreatif.
Rencana tersebut bahkan diarahkan untuk menjangkau berbagai wilayah Jawa Timur, dari Banyuwangi hingga Sumenep. Batu menjadi salah satu wilayah yang dipertimbangkan sebagai lokasi produksi.
Ilmu sebagai Modal Menciptakan Peluang
Bagi Aris, investasi dalam industri kreatif tidak selalu harus dimulai dengan modal besar. Pengetahuan dan kemampuan membaca peluang justru menjadi modal yang dapat dikembangkan secara bertahap.
“Kalau punya uang tapi tidak punya ilmu, uangnya bisa habis. Kalau punya ilmu, kita bisa mencari peluang,” tuturnya.
Karena itu, workshop direncanakan tidak berhenti pada satu kegiatan. Aris membuka peluang pendampingan berkala, termasuk pengembangan keterampilan kreatif dan pengenalan teknologi AI.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi ruang bertumbuh bagi generasi muda, terutama mereka yang ingin mengembangkan kemampuan di bidang film, konten digital dan industri kreatif.
Kreativitas Bisa Bersentuhan dengan UMKM
Pengembangan kreativitas juga diarahkan untuk memberi manfaat bagi sektor UMKM. Aris melihat kemampuan produksi konten, fotografi, video hingga AI dapat dimanfaatkan pelaku usaha untuk memperkuat promosi produknya.
Ia mencontohkan pemanfaatan AI untuk membuat materi visual promosi produk. Konten yang menarik, menurutnya, dapat membantu pelaku UMKM memperkenalkan produknya kepada calon konsumen.
“Minimal bisa bikin iklan, bisa jualan. Itu peluang, tergantung bagaimana kita memanfaatkannya,” katanya.
Kolaborasi dengan berbagai pihak di Jawa Timur juga tengah dijajaki, termasuk komunitas, pelaku UMKM, instansi terkait serta organisasi yang bergerak dalam pengembangan generasi muda.
Selain ekonomi kreatif, kegiatan berbasis hiburan dan edukasi juga dinilai dapat menjadi media menyampaikan pesan sosial kepada anak muda.
Membangun Regenerasi Talenta Lokal
Aris menegaskan, tujuan utama rangkaian kegiatan tersebut bukan sekadar menghadirkan workshop, tetapi membangun jejaring dan regenerasi talenta di daerah.
Ia berharap peserta tidak berhenti pada pengalaman mengikuti pelatihan, tetapi berani mempraktikkan ilmu yang diperoleh dan menciptakan karya.
Sementara itu, Wira Lina berharap langkah ini memperkuat pendampingan bagi talenta lokal, khususnya dalam pengembangan seni peran dan jejaring industri perfilman di Jawa Timur.
“Kalau niatnya baik, mari kita jaga komunikasinya dan membangun bersama. Jangan hanya menjadi kegiatan sesaat,” ujar Aris.
Dengan pendekatan tersebut, workshop acting di Batu tidak hanya menjadi ruang belajar akting. Kegiatan ini membuka peluang lebih luas bagi anak muda untuk mengenal film, teknologi AI, produksi konten hingga pemanfaatan kreativitas sebagai bagian dari ekonomi kreatif.



