Indonesiandaily.com – Universitas Islam Malang (UNISMA) mendorong pemanfaatan limbah kulit kopi menjadi produk pangan bernilai tambah melalui program pengabdian kepada masyarakat di Desa Ketindan, Kabupaten Malang.
Program yang mengolah limbah kulit kopi menjadi kombucha ini menjadi bagian dari skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Selama lima bulan, sejak akhir April hingga Agustus 2026, tim UNISMA tidak hanya mengenalkan teknologi pengolahan limbah. Program ini juga diarahkan untuk membangun model ekonomi sirkular berbasis potensi lokal desa.
Kegiatan tersebut diketuai Dina Kartika Sari, dosen Program Studi Agribisnis UNISMA, bersama Anita Qur’ania dari Program Studi Agroteknologi dan Arief Joko Saputro dari Program Studi Agribisnis.
Dua mahasiswa, M. Alaikal Atiiq dan Muhammad Abdul Adhim A, turut dilibatkan sebagai pendamping. Mereka membantu proses teknis, dokumentasi, hingga evaluasi program.
UNISMA Lihat Potensi Besar Limbah Kulit Kopi
Desa Ketindan dikenal sebagai salah satu sentra kopi robusta di Kabupaten Malang. Besarnya produksi kopi juga menghasilkan limbah kulit dalam jumlah tidak sedikit.
Dari setiap satu ton buah kopi yang dipanen, sekitar 400 kilogram di antaranya dapat menjadi limbah kulit kopi.
Bagi tim UNISMA, kondisi tersebut bukan sekadar persoalan lingkungan. Limbah kulit kopi justru memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.
Melalui pendampingan masyarakat, limbah tersebut diolah menjadi kombucha, minuman pangan fungsional berbasis probiotik.
Inovasi ini sekaligus memperkenalkan konsep ekonomi sirkular. Limbah dari aktivitas pertanian diolah kembali menjadi produk baru yang memiliki nilai tambah.
UNISMA Dorong TP PKK Naik Kelas
Program pengabdian UNISMA menyasar TP PKK Desa Ketindan yang diketuai Riatin. Kegiatan tersebut mendapat dukungan Kepala Desa Ketindan, Artining.
Dina Kartika Sari mengatakan, pendekatan program dirancang secara bertahap agar TP PKK tidak hanya berperan sebagai kelompok sosial. Lebih dari itu, kelompok tersebut diharapkan berkembang menjadi kelompok ekonomi produktif.
“Limbah yang tadinya tidak bernilai kini berhasil diubah menjadi produk bernilai tambah yang ramah lingkungan sekaligus berpotensi menjadi produk unggulan baru,” ujar Dina.
Menurutnya, pendampingan juga diarahkan untuk memperkuat kapasitas perempuan desa. Pelatihan tidak hanya menyentuh aspek produksi, tetapi juga membuka peluang pengembangan usaha.
“Melalui pelatihan ini dapat meningkatkan peran perempuan desa dan berpotensi meningkatkan kesejahteraannya sampai dapat mengelola usaha,” tambahnya.
Dari Persoalan Lingkungan Menjadi Peluang Ekonomi
Bagi UNISMA, pengolahan kulit kopi menjadi kombucha menjadi contoh bahwa pengabdian perguruan tinggi dapat menjawab persoalan nyata di masyarakat.
Limbah yang sebelumnya berpotensi menumpuk dan mencemari lingkungan diarahkan menjadi bahan baku produk bernilai tambah.
Program ini sekaligus memperkuat posisi perempuan desa dalam aktivitas ekonomi. TP PKK Desa Ketindan didorong memiliki keterampilan produksi dan kemampuan mengembangkan usaha secara mandiri.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya UNISMA menghadirkan inovasi yang tidak berhenti di lingkungan kampus. Pengetahuan dan hasil riset diarahkan untuk memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Melalui pengolahan limbah kulit kopi, UNISMA menunjukkan bahwa potensi lokal desa dapat menjadi fondasi ekonomi baru. Dari limbah, lahir inovasi. Dari inovasi, terbuka peluang usaha bagi masyarakat.
