Halaqoh Diniyah UNISMA, Kyai Sableng Bekali Maba dengan 7 Ukhuwah dan Kecerdasan Digital

Halaqoh Diniyah UNISMA, Kyai Sableng Bekali Maba dengan 7 Ukhuwah dan Kecerdasan Digital

Indonesiandaily.com – Memasuki kehidupan perkuliahan, mahasiswa baru Universitas Islam Malang (UNISMA) tidak hanya dibekali pengetahuan akademik. Mereka juga diajak membangun kecerdasan emosional, spiritual, sosial, hingga kemampuan beradaptasi dengan dunia digital.

Pesan itu mengemuka dalam Halaqoh Diniyah perdana yang digelar UNISMA setelah rangkaian pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru. Kegiatan tersebut menghadirkan Kyai Sableng dan Cak Suro dari JTV bersama sejumlah pengisi materi.

Rektor UNISMA Prof. Junaidi PhD mengatakan, halaqoh menjadi bagian lanjutan dari proses pembentukan karakter mahasiswa setelah mereka mengikuti pengenalan kampus selama tiga hari.

“Fondasi karakter religiusitas dan keislaman perlu diperkuat sejak mahasiswa memasuki kehidupan kampus,” kata Prof Junaidi, Kamis (01/10/’26).

Menurut Rektor UNISMA Malang ini, pendidikan di perguruan tinggi tidak cukup hanya mengejar kemampuan akademik. Mahasiswa juga perlu memiliki karakter, kepedulian terhadap sesama, serta kemampuan menghadapi perubahan zaman.

Tidak Cukup Hanya Mengandalkan IQ 

Dalam kesempatan tersebut Kyai Sableng dalam tausiyahnya mengajak mahasiswa baru melihat keberhasilan dari perspektif yang lebih luas. Kecerdasan intelektual, menurut dia, perlu berjalan bersama kecerdasan emosional dan sosial.

Ia menekankan pentingnya mahasiswa membangun pertemanan dan jaringan selama berada di kampus.

“Kalau IQ saja tanpa emosional dan sosial, sulit menjadi orang,” ujarnya.

Jaringan pertemanan, lanjutnya, bukan sekadar kebutuhan sosial. Relasi yang dibangun secara sehat dapat menjadi modal mahasiswa dalam mengembangkan pengalaman, kesempatan, maupun karier setelah menyelesaikan pendidikan.

Di tengah perkembangan teknologi, ia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak mengabaikan kecerdasan digital atau digital quotient (DQ).

“Kalau kita tidak segera menuju digital quotient, kita akan terlindas,” katanya.

Pesan tersebut menjadi penting karena hampir seluruh bidang kehidupan kini bersentuhan dengan teknologi digital, termasuk pendidikan, ekonomi, komunikasi, dan dunia kerja.

Tujuh Ukhuwah untuk Kehidupan Mahasiswa

Dalam kesempatan itu, Kyai Sableng juga mengajak mahasiswa memahami ukhuwah secara lebih luas. Persaudaraan tidak hanya dibangun dalam hubungan antarteman, tetapi dimulai dari kemampuan menjaga hubungan dengan diri sendiri.

Ia mengenalkan tujuh bentuk ukhuwah, yakni Ukhuwah Nafsiyah atau persaudaraan dengan diri sendiri, Ukhuwah Zaujiyah dalam hubungan suami-istri, dan Ukhuwah Ahliah dalam keluarga.

Berikutnya, Ukhuwah Wathaniyah yang menekankan persaudaraan sebagai sesama warga bangsa, Ukhuwah Diniyah antarsesama umat beragama, Ukhuwah Insaniyah/Basyariyah sebagai persaudaraan sesama manusia, serta Ukhuwah Jam’iyah dalam kelompok, organisasi, dan komunitas.

Bagi mahasiswa baru, konsep tersebut dapat menjadi bekal untuk membangun kehidupan kampus yang tidak berhenti pada hubungan akademik, tetapi juga mengedepankan kepedulian dan kebersamaan.

Belajar Bukan Sekadar Mengejar Gelar

Kyai Sableng juga mengingatkan mahasiswa mengenai pentingnya menuntut ilmu. Ia menyampaikan pesan keagamaan bahwa Allah meninggikan derajat orang-orang yang berilmu.

Ia kemudian mengisahkan cerita yang dikaitkan dengan Gus Dur tentang seseorang yang baru masuk Islam dan segera menjalankan salat. Kisah itu digunakan untuk menekankan bahwa menjalankan ibadah harus berjalan beriringan dengan kemauan untuk terus belajar.

Bagi mahasiswa, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa memasuki perguruan tinggi bukan sekadar perjalanan memperoleh gelar, tetapi kesempatan memperluas pengetahuan, pengalaman, dan cara pandang.

Tiga Tanggung Jawab Mahasiswa 

Selain ukhuwah, mahasiswa juga diajak memahami tiga tanggung jawab yang harus berjalan seimbang, yakni theological responsibility, human responsibility, dan ecological responsibility.

Tanggung jawab teologis berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan. Tanggung jawab kemanusiaan menyangkut kepedulian terhadap sesama, sedangkan tanggung jawab ekologis menempatkan lingkungan sebagai bagian yang tidak boleh diabaikan.

Kyai Sableng menekankan bahwa kehidupan beragama tidak cukup berhenti pada ritual. Nilai spiritual perlu diterjemahkan menjadi kepedulian terhadap manusia dan lingkungan.

Rangkaian halaqoh kemudian berlangsung lebih cair. Tausiyah diselingi nyanyian dan pembagian hadiah kepada peserta sehingga mahasiswa baru dapat mengikuti kegiatan dalam suasana yang lebih santai dan interaktif.

Bagi UNISMA, halaqoh tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan bahwa kehidupan kampus bukan hanya tentang kecerdasan akademik, tetapi juga tentang bagaimana mahasiswa membangun hubungan dengan Tuhan, manusia, diri sendiri, serta lingkungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *