Indonesiandaily.com – Universitas Negeri Malang (UM) menunjukkan komitmennya membangun lingkungan kampus yang inklusif sejak hari pertama mahasiswa baru. Komitmen itu diwujudkan melalui pelaksanaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2026 yang ramah bagi mahasiswa disabilitas.
Melalui Gempita UM, kampus menyiapkan pendampingan sekaligus pemenuhan kebutuhan aksesibilitas. Terutama bagi mahasiswa disabilitas selama mengikuti PKKMB, Senin (10/8), di Graha Cakrawala UM.
Ketua Gempita UM, Juhari, mengatakan pihaknya telah melakukan penjaringan terhadap mahasiswa baru. Lantas menemukan 31 mahasiswa disabilitas dengan kebutuhan yang beragam.
Setiap mahasiswa mendapatkan satu pendamping. Pendamping tersebut bertugas memastikan mahasiswa dapat mengikuti seluruh rangkaian PKKMB secara aman, nyaman, dan setara.
“Pendampingan kami sesuaikan dengan kebutuhan masing-masing mahasiswa. Ada yang membutuhkan bantuan mobilitas, kursi roda, hingga juru bahasa isyarat,” kata Juhari.
Tidak hanya fasilitas dan pendampingan, Gempita juga menyiapkan tenda untuk mahasiswa yang membutuhkan tempat beristirahat. Yakni ketika mengikuti kegiatan PKKMB di luar ruangan.
Menurut Juhari, pendekatan tersebut tidak berhenti pada pendampingan selama masa orientasi. Gempita juga menyiapkan pembekalan khusus mengenai adaptasi kehidupan perkuliahan bagi mahasiswa disabilitas.
Materi tersebut diarahkan agar mahasiswa mampu memahami lingkungan kampus, berinisiatif menyampaikan kebutuhannya. Sekaligus mengadvokasi hak dan kebutuhan selama menjalani pendidikan di UM.
“Kami menyiapkan kegiatan khusus bagi teman-teman disabilitas, yaitu pemberian materi untuk adaptasi selama berkuliah. Mereka diajarkan bagaimana beradaptasi dengan kehidupan kampus. Juga berinisiatif untuk bertanya, serta mengadvokasikan kebutuhan mereka sebagai mahasiswa disabilitas,” ujarnya.
Mahasiswa Disabilitas Tak Sekadar Didampingi
UM juga memberikan ruang bagi mahasiswa disabilitas untuk tampil dan berpartisipasi aktif dalam rangkaian PKKMB. Salah satunya ditunjukkan melalui penampilan mahasiswa tunanetra yang membawakan lagu Buka Album Biru sembari bermain gitar.
Penampilan tersebut bukan sekadar hiburan. Aksi itu menjadi bagian dari pesan bahwa mahasiswa disabilitas memiliki ruang yang sama. Terutama untuk berkontribusi dan menunjukkan potensinya di lingkungan kampus.
Penampilan tersebut dipersiapkan melalui latihan bersama Gempita selama beberapa hari sebelum tampil dalam agenda PKKMB UM 2026.
Salah satu mahasiswa baru Program Studi D4 Animasi UM, Kresna, mengapresiasi pendampingan yang diberikan Gempita. Ia menilai keberadaan pendamping membuat mahasiswa berkebutuhan khusus lebih nyaman mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
“Saya sangat terbantu dengan adanya Gempita ini. Dengan adanya Gempita, kami sebagai mahasiswa berkebutuhan khusus merasa lebih terbantu dalam mengikuti PKKMB,” ujar Kresna.
Pelaksanaan PKKMB yang inklusif menjadi langkah awal UM dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang ramah terhadap keberagaman. Aksesibilitas tidak hanya diposisikan sebagai fasilitas tambahan. Namun menjadi bagian penting dalam memastikan seluruh mahasiswa memiliki kesempatan yang setara.
Langkah tersebut juga sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4. Yakni tentang Pendidikan Berkualitas melalui penyelenggaraan pendidikan yang inklusif dan setara.
Selain itu, PKKMB ramah disabilitas turut mendukung SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan. Upaya tersebut diwujudkan dengan membuka akses dan kesempatan yang setara bagi mahasiswa disabilitas. Terutama dalam kehidupan akademik maupun kemahasiswaan.
Dengan demikian, PKKMB UM 2026 tidak hanya menjadi pintu masuk mahasiswa baru menuju kehidupan perguruan tinggi. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang awal untuk memastikan setiap mahasiswa. Termasuk penyandang disabilitas, merasa diterima, memiliki kesempatan yang sama, dan mampu berkembang di lingkungan kampus.
