Indonesiandaily.com – Universitas Brawijaya (UB) kembali menambah jajaran akademisi bergelar profesor dengan mengukuhkan tiga guru besar dari lintas fakultas pada Senin (8/6/2026). Ketiga profesor tersebut menghadirkan gagasan inovatif yang menjawab berbagai tantangan strategis nasional, mulai dari sektor kelautan, ketahanan pangan, hingga penguatan ekonomi berbasis komunitas.
Ketiga guru besar yang dikukuhkan adalah Prof. Bambang Semedi dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), Prof. Erni Sofia Murtini dari Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB), serta Prof. Sri Muljaningsih dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB).
AI Prediksi Lokasi Ikan di Tengah Perubahan Iklim
Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Bambang Semedi yang dikukuhkan sebagai Profesor Bidang Ilmu Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis Kelautan memperkenalkan MARINESCAPE (Marine Intelligence System for Spatio-temporal Catch Prediction).
Teknologi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tersebut dirancang untuk memprediksi Zona Potensi Penangkapan Ikan (ZPPI) secara lebih akurat di tengah dampak perubahan iklim yang mengubah pola migrasi ikan.
Menurutnya, pemanasan global menyebabkan perubahan suhu permukaan laut dan arus laut yang berdampak pada pergeseran habitat ikan pelagis bernilai ekonomi tinggi, seperti cakalang. Kondisi ini membuat metode penangkapan ikan berbasis pengalaman tradisional semakin sulit diandalkan.
Melalui MARINESCAPE, berbagai data satelit seperti suhu permukaan laut, konsentrasi klorofil-a, dan front laut dianalisis menggunakan machine learning, termasuk Artificial Neural Networks (ANN) dan deep learning. Teknologi tersebut mampu mendeteksi pola lingkungan laut yang kompleks untuk membantu nelayan menentukan lokasi penangkapan ikan secara lebih efisien.
Prof. Bambang juga menggagas pembentukan UB-MARINESCAPE sebagai pusat riset dan diseminasi data yang menghubungkan peneliti, nelayan, pengelola perikanan, hingga pembuat kebijakan.
“MARINESCAPE hadir sebagai sistem pendukung keputusan yang membantu nelayan beralih dari pola reaktif menjadi antisipatif demi menjaga ketahanan pangan kelautan di masa depan,” ujarnya.
Dorong Diversifikasi Pangan dan Modernisasi Makanan Tradisional
Sementara itu, Prof. Erni Sofia Murtini yang dikukuhkan sebagai Profesor Bidang Teknologi Serealia dan Makanan Tradisional menyoroti tingginya ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap beras dan gandum.
Ia menilai diversifikasi pangan perlu terus diperkuat dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang melimpah, salah satunya sorgum. Tanaman ini dinilai memiliki potensi besar karena mampu tumbuh di lahan marginal dan sejalan dengan meningkatnya tren produk bebas gluten di pasar global.
Selain isu serealia, Prof. Erni juga menyoroti mulai menurunnya popularitas makanan tradisional di kalangan generasi muda. Kondisi tersebut berpotensi memunculkan fenomena lost generation, yakni generasi yang mengenal nama makanan tradisional tetapi tidak pernah mencicipi maupun mengetahui proses pembuatannya.
Untuk mengatasi hal tersebut, ia memperkenalkan pendekatan pengembangan produk pangan berbasis serealia dan makanan tradisional melalui inovasi serta modernisasi produk tanpa menghilangkan nilai budaya yang melekat.
“Makanan tradisional perlu dikemas dengan cara yang lebih menarik dan sesuai dengan selera generasi masa kini agar tetap relevan dan mampu bersaing di pasar modern,” katanya.
Model LILY Perkuat Ekonomi Lokal Berbasis Komunitas
Pada kesempatan yang sama, Prof. Sri Muljaningsih dikukuhkan sebagai Profesor Bidang Ekonomi Sumber Daya Alam. Dalam orasi ilmiahnya, ia memperkenalkan MODEL LILY (Local Integrated Livelihood Yield), sebuah konsep valorisasi tanaman lokal dalam ekonomi sirkular berbasis komunitas organik.
Model tersebut mengintegrasikan nilai spiritual, sistem komunitas, dan proses penciptaan nilai tambah dalam pemanfaatan sumber daya lokal. Gagasan ini lahir dari keprihatinannya terhadap produk organik yang masih berharga relatif tinggi dan belum sepenuhnya memberikan manfaat ekonomi yang merata bagi masyarakat.
Menurut Prof. Sri, setiap pelaku usaha, khususnya UMKM, memiliki peluang untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam yang tersedia di lingkungannya. Namun, penerapan konsep tersebut memerlukan perubahan pola pikir ekonomi masyarakat agar lebih berorientasi pada keberlanjutan dan kolaborasi.
Keunggulan MODEL LILY terletak pada integrasi kewirausahaan, komunitas, dan spiritualitas dalam satu ekosistem yang berpusat pada masyarakat (community-centric). Melalui pendekatan tersebut, penciptaan nilai ekonomi tidak hanya berfokus pada keuntungan, tetapi juga pada penguatan hubungan sosial dan keberlanjutan lingkungan.
Ia berharap MODEL LILY dapat menjadi instrumen untuk memperkuat ekonomi lokal, menciptakan lapangan kerja baru, serta mendorong tumbuhnya kewirausahaan berbasis sumber daya lokal.
Dengan pengukuhan tiga guru besar baru ini, Universitas Brawijaya menegaskan komitmennya dalam menghadirkan inovasi dan solusi ilmiah untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan berkelanjutan di Indonesia, mulai dari sektor kelautan, pangan, hingga ekonomi berbasis komunitas.
