Indonesiandaily.com – Kekayaan sumber daya alam (SDA) Indonesia belum otomatis menjadi kekuatan ekonomi karena ketersediaan sumber daya manusia (SDM) terampil masih jauh dari kebutuhan industri.
Hal itu disampaikan Direktur Politeknik Negeri Malang (Polinema) dalam Wisuda ke-73 Polinema, Sabtu (29/8/2026).
Menurutnya, jumlah penduduk sekitar 287 juta jiwa dan bonus demografi harus dibarengi kompetensi yang sesuai kebutuhan industri. Dua hal yang perlu diperkuat adalah kualitas SDM dan hilirisasi industri.
Data yang dipaparkan menunjukkan Kementerian Ketenagakerjaan baru mampu menyediakan sekitar 526 ribu tenaga kerja terampil atau 14,22 persen dari kebutuhan pasar kerja. Industri membutuhkan keahlian spesifik, seperti metalurgi, kimia industri, otomasi, instrumentasi, serta keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
“Hambatan utama dalam menyiapkan SDM terampil dan kompeten terletak pada masih rendahnya kualitas lembaga pendidikan vokasi, minimnya penguasaan teknologi proses, dan terbatasnya kapasitas penelitian dan pengembangan dalam negeri,” ujarnya.
Pendidikan vokasi dinilai berperan penting menjembatani kebutuhan industri dan dunia pendidikan. Berdasarkan Tracer Study Kemdiktisaintek, penyerapan lulusan vokasi ke dunia kerja pada 2020-2024 mencapai sekitar 77 persen, lebih tinggi dibandingkan lulusan akademik yang berada di kisaran 72 persen.
Namun, perguruan tinggi vokasi baru berjumlah 851 dari 4.303 perguruan tinggi nasional atau sekitar 19,77 persen.
Polinema mendorong kurikulum berbasis kompetensi melalui Outcome-Based Education (OBE), magang industri, kewirausahaan, pembinaan karier, serta keterlibatan praktisi. Hubungan kampus dan industri juga diperkuat melalui dosen industri, magang, dan rekrutmen lulusan.
“Pendidikan tinggi vokasi adalah kunci yang sangat penting untuk membangun ekonomi Indonesia. Jadi pendidikan tinggi vokasi adalah masa depan Indonesia,” tegasnya.
