Usai Gempa, Warga Watunggong Hadapi ISPA hingga Kecemasan, Relawan UM Turun ke Posko

Usai Gempa, Warga Watunggong Hadapi ISPA hingga Kecemasan, Relawan UM Turun ke Posko

Indonesiandaily.com – Gempa bumi yang mengguncang wilayah Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, tak hanya menyisakan kerusakan bangunan. Setelah guncangan berlalu, warga di Desa Watunggong masih harus menghadapi persoalan kesehatan dan rasa cemas.

Kondisi itu terlihat dari layanan yang diberikan relawan Universitas Negeri Malang (UM) di sejumlah posko pengungsian, Minggu (30/8/2026).

Slider Ucapan HUT RI

Di tengah situasi darurat, ratusan warga datang untuk memeriksakan kondisi kesehatan. Keluhan yang muncul cukup beragam, mulai gangguan pernapasan hingga tekanan darah tinggi.

Sebanyak 186 warga mendapatkan pemeriksaan medis. Mereka terdiri atas 12 balita, 21 anak-anak, 101 orang dewasa, dan 52 lansia.

ISPA Jadi Keluhan Terbanyak

Dari ratusan pemeriksaan tersebut, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi keluhan yang paling banyak ditemukan.

Tercatat 54 warga mengalami ISPA. Keluhan berikutnya adalah gastritis atau dispepsia dengan 25 kasus, hipertensi primer 17 kasus, dan nyeri pinggang sebanyak 14 kasus.

Sejumlah warga lainnya mengalami nyeri otot dan sendi, luka ringan, alergi kulit, hingga demam.

Layanan kesehatan berlangsung di Posko Kesehatan Desa Satar Nawang. Warga mendapatkan pemeriksaan dasar, pengukuran tanda vital, penanganan medis, obat-obatan, serta edukasi mengenai kondisi kesehatan mereka.

Bukan Hanya Luka, Rasa Cemas Juga Muncul

Persoalan lain muncul dari sisi psikologis.

Bagi warga yang baru mengalami bencana, rasa takut dan cemas bisa bertahan meski gempa telah berhenti. Karena itu, relawan juga memberikan pendampingan psikososial di Posko Utama Watunggong, Gereja Katolik Santo Paroki Eduardus, dan sejumlah wilayah di sekitarnya.

Sebanyak 112 orang mengikuti layanan dukungan kesehatan mental dan psikososial. Hasil skrining menunjukkan 96 orang mengalami distres atau kecemasan ringan.

Sementara itu, 15 orang menunjukkan reaksi stres tingkat sedang.

Pendampingan dilakukan melalui Psychological First Aid (PFA), konseling suportif, latihan pernapasan, hingga teknik grounding. Pendekatan tersebut diarahkan agar warga dapat mengelola kecemasan dan kembali merasa aman setelah mengalami bencana.

Anak-anak dan remaja mendapat pendekatan berbeda. Sebanyak 104 peserta mengikuti aktivitas Art Therapy dan Play Therapy melalui permainan visual, origami, serta aktivitas melipat kertas.

Aktivitas sederhana tersebut menjadi ruang bagi anak-anak untuk bermain sekaligus mengekspresikan perasaan setelah menghadapi situasi yang menegangkan.

Puskesmas Rusak, Tenda Darurat Jadi Penyangga Layanan

Persoalan di lapangan tidak berhenti pada layanan medis dan psikologis.

Kerusakan fasilitas kesehatan membuat kebutuhan ruang pelayanan darurat menjadi mendesak. Pada sore hari, relawan membantu mendirikan tenda di Puskesmas Watunggong yang terdampak gempa.

Tenda serupa juga dipasang di sejumlah rumah warga yang mengalami kerusakan atau dinilai tidak lagi aman untuk ditempati.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga agar warga tetap memiliki tempat untuk mendapatkan layanan kesehatan sekaligus ruang perlindungan sementara.

Bagi masyarakat yang masih berada dalam situasi pascabencana, kebutuhan dasar seperti tempat aman, layanan kesehatan, dan pendampingan psikologis menjadi sama pentingnya dengan penanganan kerusakan fisik.

Relawan UM selanjutnya masih akan memantau kondisi kesehatan fisik dan psikososial warga. Koordinasi dengan pihak terkait juga dilakukan untuk kebutuhan rujukan apabila ditemukan kasus yang memerlukan penanganan lebih lanjut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *