Indonesiandaily.com – Duduk berjam-jam di depan laptop menjadi rutinitas bagi banyak mahasiswa, terutama ketika mengejar laporan praktikum. Kebiasaan ini pula yang menginspirasi mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) menciptakan SPATCH, plester yang dirancang untuk mengingatkan pengguna memperbaiki postur tubuh.
Ide tersebut muncul dari pengalaman mahasiswa Program Studi Bioteknologi UB. Aktivitas mengerjakan laporan praktikum membuat mereka harus duduk dalam waktu lama di depan laptop.
Keluhan nyeri pinggang pun mulai muncul. Kondisi tersebut mendorong Rizka Amalia Putri Ramadhani dan timnya mencari alternatif yang lebih praktis untuk membantu pengguna menyadari posisi tubuh.
“Teman-teman bioteknologi sering mengerjakan laporan praktikum dan duduk berjam-jam di depan laptop. Dari situ muncul keluhan nyeri pinggang, bahkan ada yang mengalami skoliosis. Akhirnya, kami terpikir untuk membuat alat koreksi postur tubuh,” kata Rizka.
Dari persoalan itu lahirlah SPATCH (Spine Aware Biofeedback Patch). Produk ini memanfaatkan mekanisme biofeedback melalui teknologi micro-pressure point.
Saat tubuh berada dalam posisi yang kurang ideal, bagian tersebut memberikan rangsangan tekanan. Rangsangan ini diharapkan menjadi pengingat bagi pengguna untuk menyadari posisi tubuh dan memperbaiki posturnya.
Lebih Tipis dari Korset
SPATCH dirancang berbeda dari brace atau korset medis yang umumnya digunakan untuk membantu koreksi postur. Bentuknya dibuat lebih tipis sehingga lebih mudah digunakan dalam aktivitas sehari-hari.
Produk ini juga tidak menggunakan perangkat elektronik. Pengguna tidak perlu mengisi daya karena mekanisme pengingat postur berasal dari tekanan pada micro-pressure point.
“Kami ingin membuat inovasi yang relate dengan mahasiswa. Cara pemakaiannya mudah, bisa dibawa ke mana saja, dan harganya terjangkau,” ujar Rizka.
SPATCH dikemas dalam pouch dengan harga Rp35.000 per paket. Setiap paket berisi satu micro-pressure board, tiga plester, dan dua alcohol swab.
Micro-pressure board dapat digunakan berulang kali. Sementara plesternya dirancang untuk sekali penggunaan.
Berawal dari Keluhan, Masuk Pendanaan PKM
Pengembangan SPATCH dilakukan melalui proses research and development (R&D). Tim melakukan sejumlah percobaan untuk menentukan desain dan material yang sesuai.
Proses tersebut menjadi tantangan tersendiri karena konsep SPATCH belum banyak ditemukan pada produk sejenis di pasaran.
Tim kemudian mengembangkan produk dengan menggabungkan keilmuan Kedokteran dan Bioteknologi. Aspek kesehatan dan fungsi produk menjadi perhatian dalam proses pengembangannya.
Inovasi tersebut akhirnya membawa tim SPATCH lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa skema Kewirausahaan (PKM-K).
Tim yang terdiri dari Rizka serta empat mahasiswa Bioteknologi, yakni Siti Alisyah Hujjatul Syahadah, Aminatuzzahra, Sesilia Awanda Sulistyana, dan Bilqis Athaillah Ali As’ad, kini berencana melanjutkan pengembangan SPATCH.
Target berikutnya adalah mengembangkan produk agar dapat digunakan lebih luas dan memiliki peluang untuk masuk ke bidang alat kesehatan.
