Indonesiandaily.com – Memasuki lingkungan kampus untuk pertama kalinya bukan sekadar soal mengenal ruang kelas dan gedung perkuliahan. Bagi ribuan mahasiswa baru Universitas Islam Malang (UNISMA), momen tersebut menjadi awal untuk menemukan lingkungan belajar, teman baru, sekaligus ruang untuk mengembangkan diri.
Suasana itu terasa dalam rangkaian Orientasi Studi dan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (OSHIKA MABA) UNISMA 2026 yang berlangsung 28–30 September 2026.
Mahasiswa baru datang dari berbagai daerah di Indonesia. Sebagian lainnya bahkan menempuh perjalanan dari luar negeri untuk memulai pendidikan di kampus yang berada di Kota Malang tersebut.
Melalui OSHIKA MABA, mahasiswa tidak hanya diperkenalkan dengan sistem akademik. Mereka juga diajak memahami budaya kampus dan mengenal berbagai organisasi serta unit kreativitas mahasiswa yang dapat menjadi tempat mengembangkan bakat, minat dan kemampuan di luar perkuliahan.
Tiga tahap untuk mahasiswa baru UNISMA
Rektor UNISMA Prof. Junaidi, PhD, menjelaskan OSHIKA MABA 2026 diselenggarakan dalam tiga tahap agar dapat menyesuaikan dengan karakter program pendidikan yang diikuti mahasiswa.
Tahap pertama diperuntukkan bagi mahasiswa program sarjana reguler dan berlangsung mulai 28 September 2026.
Tahap berikutnya dijadwalkan pada 2 Oktober 2026 untuk mahasiswa pascasarjana serta mahasiswa program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Sementara mahasiswa program profesi akan mengikuti orientasi melalui skema khusus secara daring.
Menurut Prof Junaidi, pola tersebut menjadi bagian dari upaya UNISMA memastikan setiap mahasiswa mendapatkan pengenalan kampus sesuai dengan kebutuhan program pendidikannya.
Datang dari Indonesia hingga luar negeri
Keragaman latar belakang mahasiswa menjadi salah satu warna dalam OSHIKA MABA tahun ini.
Prof Junaidi menyebut mahasiswa baru UNISMA 2026 berasal dari berbagai wilayah Indonesia. Di antara mereka juga terdapat mahasiswa internasional, termasuk tiga mahasiswa asal Uzbekistan.
Keberagaman tersebut menjadi bagian dari pengalaman awal mahasiswa dalam membangun lingkungan akademik yang terbuka.
Bagi mahasiswa, perjumpaan dengan teman dari daerah dan negara berbeda bukan sekadar pengalaman sosial. Interaksi tersebut menjadi kesempatan untuk belajar memahami perbedaan, membangun jejaring dan melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih luas.
Dari poster SDGs hingga kepedulian sosial
Nilai kebermanfaatan juga dikenalkan sejak mahasiswa baru mengikuti rangkaian pra-OSHIKA.
Salah satunya melalui tugas membuat poster yang mengangkat 17 tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Mahasiswa mengolah berbagai isu, mulai dari pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan, pendidikan berkualitas hingga kemitraan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan.
Prof Junaidi mengapresiasi karya mahasiswa tersebut. Menurutnya, kegiatan itu bukan sekadar tugas kreatif, tetapi dapat menjadi pintu masuk bagi mahasiswa untuk memahami persoalan yang dihadapi masyarakat.
UNISMA, kata dia, juga terus mendorong pendidikan yang inklusif. Hal tersebut antara lain tercermin dari kehadiran mahasiswa baru dengan kebutuhan dan latar belakang yang beragam.
Salah satunya adalah Windya Zuhrotun Nufus, mahasiswa baru asal Mojokerto. Kehadiran Windya menjadi bagian dari komitmen kampus untuk menghadirkan akses pendidikan yang lebih inklusif.
Prof Junaidi menyampaikan apresiasi kepada keluarga Windya yang telah mempercayakan pendidikan putrinya kepada UNISMA.
“Insyaallah kami amanah dalam mendidik Ananda Winda,” ujar Prof Junaidi dalam sambutannya.
Pesan tersebut sekaligus menegaskan bahwa OSHIKA MABA bukan sekadar seremoni penyambutan mahasiswa baru.
Di balik kegiatan tersebut, ada harapan agar mahasiswa sejak hari pertama memahami bahwa kehidupan kampus bukan hanya tentang mengejar nilai akademik. Kampus juga menjadi ruang untuk bertumbuh, menemukan potensi, membangun kepedulian dan mempersiapkan diri agar kelak mampu memberi manfaat bagi masyarakat.



