FST UIN Malang Pertemukan Fisika Kuantum dan Spiritualitas, Sains Jadi Ruang Refleksi

FST UIN Malang Pertemukan Fisika Kuantum dan Spiritualitas, Sains Jadi Ruang Refleksi

Indonesiandaily.com – Apa yang terjadi ketika fisika kuantum yang membahas partikel dan energi dipertemukan dengan spiritualitas Islam? Pertanyaan itu menjadi pintu masuk FST UIN Maulana Malik Ibrahim Malang untuk mengajak sivitas akademika melihat ilmu pengetahuan dari perspektif yang lebih luas.

Melalui FORSIASA (Forum Silaturahmi Akademisi Saintek) dan Khotmil Qur’an, FST UIN Malang menghadirkan dialog bertema “Dari Partikel Menuju Perenungan: Fisika Kuantum dan Spiritualitas” di Auditorium Utara, Gedung BJ Habibie Lantai 4.

Forum tersebut tidak sekadar membahas perkembangan fisika kuantum. Lebih jauh, peserta diajak memahami bagaimana kemajuan sains dapat membuka ruang refleksi tentang alam semesta, keterbatasan pengetahuan manusia, hingga hubungan ilmu dengan nilai spiritual.

Fisika Kuantum Jadi Ruang Refleksi 

Fisika kuantum selama ini dikenal sebagai bidang yang membahas perilaku materi dan energi pada skala sangat kecil. Namun, perkembangan bidang tersebut juga melahirkan pertanyaan mendasar tentang realitas dan bagaimana manusia memahami alam.

Perspektif inilah yang kemudian dibawa ke ruang akademik FST UIN Malang.

Bagi sivitas akademika, dialog tersebut memberikan manfaat berupa perspektif yang lebih luas dalam melihat ilmu. Sains tidak hanya ditempatkan sebagai alat untuk menjelaskan fenomena alam, tetapi juga sebagai bagian dari proses intelektual yang dapat mendorong perenungan.

Rektor UIN Malang Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si. hadir memberikan opening speech. Sementara Dekan FST UIN Malang Dr. Agus Mulyono, M.Kes. menjadi narasumber utama.

Diskusi dipandu Ahmad Luthfin, M.Si., dosen Program Studi Fisika.

Mempertemukan Sains dan Nilai Islam 

Di lingkungan perguruan tinggi Islam, dialog seperti ini memberi ruang untuk mempertemukan perkembangan ilmu pengetahuan dengan nilai keislaman.

Peserta tidak hanya memperoleh wawasan mengenai fisika kuantum. Mereka juga diajak melihat ilmu sebagai proses pencarian yang membutuhkan sikap kritis sekaligus kesadaran terhadap kompleksitas ciptaan Allah Swt.

Pendekatan tersebut membuat forum akademik tidak berhenti pada transfer pengetahuan. Ada ruang untuk bertanya, merenung, dan menghubungkan ilmu dengan kehidupan.

Khotmil Qur’an Lengkapi Forum Akademik 

Suasana akademik kemudian dipadukan dengan Khotmil Qur’an dan munajat doa bersama.

Rangkaian ini memberi dimensi spiritual setelah peserta mengikuti pembahasan mengenai sains modern. Tradisi intelektual dan kegiatan keagamaan ditempatkan dalam satu rangkaian yang saling melengkapi.

FORSIASA pun menjadi lebih dari sekadar forum diskusi. Kegiatan tersebut menjadi ruang silaturahmi bagi sivitas akademika sekaligus tempat memperkaya wawasan ilmiah dan religius.

Sejumlah Wakil Rektor, dekan di lingkungan UIN Malang, tenaga pendidik, dan sivitas akademika turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Membangun Ekosistem Akademik yang Utuh 

Bagi FST UIN Malang, pertemuan antara fisika kuantum dan spiritualitas menjadi bagian dari upaya membangun budaya akademik yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan sains dan teknologi.

Ilmu tetap menjadi fondasi utama. Namun, ilmu juga diberi ruang untuk berdialog dengan nilai, refleksi, dan spiritualitas.

Dari pembahasan tentang partikel hingga munajat bersama, FORSIASA menunjukkan bahwa perjalanan akademik dapat memiliki dimensi yang lebih luas: memahami alam sekaligus mendorong manusia untuk menyadari keterbatasan dirinya.

Ruang seperti ini memberi kesempatan bagi sivitas akademika UIN Malang untuk terus mengembangkan ilmu tanpa kehilangan dimensi kemanusiaan dan spiritualitas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *